Daerah

Bumiayu Kembali Diterjang Banjir Bandang: Akses Lumpuh, Sawah dan Makam Warga Tersapu

NU Online  ·  Jumat, 6 Februari 2026 | 18:00 WIB

Bumiayu Kembali Diterjang Banjir Bandang: Akses Lumpuh, Sawah dan Makam Warga Tersapu

Banjir bandang akibat kali Keruh meluap menyapu akses jalan warga di Desa Adisana, Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah. (Foto: dok warga)

Brebes, NU Online

Banjir bandang kembali melanda Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Kamis (5/2/2026). Desa Adisana menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah akibat meluapnya kali Keruh. Selain melumpuhkan akses jalan utama, banjir juga merendam permukiman warga, menghilangkan lahan pertanian, hingga menyeret makam warga.


Sekretaris MWCNU Bumiayu, Mustamir, menyebut banjir kali ini merupakan yang terparah dalam beberapa waktu terakhir. Sungai yang meluap masuk ke Desa Penggarutan dan Adisana, menyebabkan sawah serta makam warga hilang tersapu arus.


“Banjir bandang sudah masuk ke Desa Penggarutan dan Adisana. Sawah dan makam hilang,” ujarnya kepada NU Online.


Di Adisana, air menutup jalan utama Bumiayu sehingga akses transportasi lumpuh total. Sejumlah fasilitas pendidikan, termasuk SMP As-Salafiyah Adisana, turut terdampak. Jalur pipa air bersih (PAM) juga dilaporkan terputus.


Mustamir menambahkan, jembatan kecil di Adisana tidak mampu menahan debit air saat banjir besar. Sementara kondisi Jembatan Badrun di Kecamatan Sirampog juga terdampak.


“Kalau debit air besar, jembatan kecil di Adisana tidak ada. Jalur PAM juga putus,” katanya.


Sejumlah rumah warga yang berada di bantaran sungai ikut terdampak, termasuk rumah Abdul Faqih, anggota BPD Adisana.


Terkait penanganan, Mustamir menjelaskan bahwa sebelum banjir terbaru ini, wilayah tersebut sudah lebih dulu dilanda banjir bandang. Pemerintah Kabupaten Brebes sempat menurunkan alat berat untuk membuat benteng penahan banjir. Namun, upaya tersebut terkendala karena banjir datang bertubi-tubi dan alat berat sempat hanyut.


Ia menyebut curah hujan tinggi dengan intensitas deras selama hampir dua hari berturut-turut menjadi salah satu pemicu utama.


Untuk kebutuhan mendesak, MWCNU Bumiayu memprioritaskan distribusi air bersih dan kebutuhan pokok. Pendataan kerusakan infrastruktur belum dapat dilakukan karena air belum sepenuhnya surut.


“Untuk infrastruktur masih menunggu karena banjir belum surut. Warga NU sementara mengirim air bersih dan kebutuhan pokok,” ujarnya.


Mustamir berharap penanganan banjir dilakukan secara permanen melalui pembangunan tanggul di sisi kanan dan kiri sungai guna mencegah luapan air ke permukiman warga.


“Yang paling segera dibuat tanggul kanan kiri supaya air tidak masuk ke warga Penggarutan dan Adisana,” terangnya.


Ia juga menyoroti kerusakan lingkungan di wilayah hulu sebagai faktor yang memperparah banjir. Menurutnya, kayu-kayu yang terbawa arus berasal dari wilayah Kecamatan Sirampog, Brebes di mana hutan telah banyak ditebangi dan dialihfungsikan menjadi lahan sayuran.


“Dulu sebelum ditebangi jadi lahan sayur masih kategori aman,” katanya.


Upaya penyampaian aspirasi ke Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah dilakukan. Namun, respons yang diterima dinilai belum memadai.


MWCNU Bumiayu berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret dan berkelanjutan agar bencana serupa tidak terus berulang.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang