Yogyakarta, NU Online
Ada yang berbeda di lingkungan Krapyak belum lama ini. Semarak kegiatan para da’i tidak luput dari pentas seni dan budaya. Bukan saja hadrah dan rebaan yang ditampilkan, tetapi juga tari saman Aceh, tari Bali, pantomime, dan pagelaran wayang. Masyarakat asyik menikmati, bahkan sampai larut malam.
<>
Buat masyarakat Yogya, pagelaran wayang menjadi pertunjukan yang menarik. Kebanyakan orang tua yang menyaksikan, karena digelarnya juga sampai larut. Saat itu, 10 Maret 2013, seorang da’i Kodama Krapyak bernama Miftah, masih muda, 24 tahun, mementaskan wayang kepada warga Krapyak dan Panggungharjo Sewon Bantul.
Setelah berbagai macam pertunjukan, tepat jam 11 malam, sang dalang memulai aksinya. Mengambil lakon Sunan Pandanaran, sang dalang yang masih muda ini tidak kaku, banyak dipenuhi humor khas santri, sehingga banyak penonton yang krasan (nyaman), walaupun angin malam mulai terasa dingin.
Selepas jam 12 malam, bukannya makin berkurang para penonton, tetapi makin bertambah banyak. Orang-orang tua berdatangan dari banyak penjuru, bukan saja dari lingkungan pesantren, tetapi juga masyarakat Bantul pada umumnya.
Pertunjukan wayang selesai jam 2 fajar. Masyarakat terasa sumringah, karena dalangnya bukan sekedar ndalang, tetapi juga berdakwah. Sesekali sang dalang menyebut nama KH Munawwir, KH Ali Maksum, dan banyak kiai Krapyak lainnya. Masyarakat terasa mendapatkan pengajian, tetapi dalam kemasan budaya.
Miftah, sang dalang, melihat bahwa Krapyak memang gudangnya santri. Sementara selatan Krapyak adalah gudangnya pegiat seni, apalagi juga terdapat Institute Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Sinergi seni budaya dan agama menjadi senjata sangat tepat untuk berdakwah kepada masyarakat.
“Dai harus sinergi dengan seniman. Ini yang dilakukan Walisongo. Kita harus melanjutkan,” tegas Miftah.
Miftah sendiri selain anggota da’i Kodama Krapyak, juga seorang mahasiswa jurusan dalang di ISI Yogyakarta. Penampilannya di Krapyak juga didukung teman-temannya ISI Yogya.
Apa yang dilakukan Miftah ini mendapatkan sambutan dukungan penuh dari KH Asyhari Abta, Rais Syuriyah PWNU DIY sekaligus Ketua Dewan Pembina Dai Kodama Krapyak. Bagi Kiai Asyhari, dakwah dengan seni yang dilakukan dai’ Kodama Krapyak menjadi jembatan sangat baik bagi perkembangan dakwah masa depan.
“Sudah saatnya para da’i muda mampu mengkreasikan diri dalam menjawab problem masyarakat dengan berbagai cara, termasuk dengan seni budaya.” Tegas KH Asyhari.
Redaktur : Mukafi Niam
Kontributor: Rokhim Bangkit
Terpopuler
1
Ketum PBNU Respons Penetapan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji
2
Setahun Berjalan, JPPI Nilai Program MBG Berhasil Perburuk Kualitas Pendidikan
3
Laras Faizati Tolak Replik Jaksa karena Tak Berdasar Fakta, Harap Hakim Jatuhkan Vonis Bebas
4
Bolehkah Janda Menikah Tanpa Wali? Ini Penjelasan Ulama Fiqih
5
Langgar Hukum Internasional, Penculikan Presiden Venezuela oleh AS Jadi Ancaman Tatanan Global
6
Gus Mus: Umat Islam Bertanggung Jawab atas Baik Buruknya Indonesia
Terkini
Lihat Semua