Dari Meunasah ke Meja Berbuka: Kuah Beulangong Merawat Kebersamaan di Aceh
NU Online · Sabtu, 28 Februari 2026 | 08:00 WIB
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Bireuen, NU Online
Aceh kerap disebut sebagai wilayah ujung Indonesia yang unik. Bukan hanya karena letak geografisnya, tetapi juga karena adat-istiadat masyarakatnya bertaut rapat dengan agama. Syariat Islam yang hidup di tengah masyarakat membuat banyak tradisi sosial beririsan dengan momen-momen ibadah. Uniknya, irisan itu tidak hanya tampak pada kegiatan ritual, tetapi juga dalam urusan yang paling dekat dengan keseharian: kuliner.
Di negeri yang kaya rempah ini, makanan tidak sekadar urusan rasa. Ia bisa menjadi penanda identitas, alat silaturahmi, bahkan media pendidikan sosial. Salah satu hidangan yang paling mencerminkan itu adalah Kuah Beulangong—masakan khas Aceh yang dimasak dalam kuali besar (beulangong), biasanya berisi daging dan nangka muda, diracik dengan rempah melimpah, lalu dibagikan dan dinikmati bersama.
Tgk Iswadi, penggiat budaya asal Unisai Samalanga, menyebut kuah beulangong sebagai “peristiwa budaya” yang setiap kali hadir selalu membawa pesan kebersamaan. “Kuah beulangong itu bukan cuma masakan. Ia peristiwa. Ada gotong royong, ada adab, ada silaturahmi. Ramadan membuat maknanya semakin kuat,” ujarnya, Jumat (27/2/2026).
Masakan yang “Ramai” Bumbu, “Ramai” Tangan
Kuah beulangong dikenal sebagai masakan berkarakter kuat. Bahan utamanya bisa bervariasi: daging sapi, daging kambing, bahkan daging kerbau. Campurannya umumnya buah nangka muda, dan di beberapa tempat ada yang menambahkan pisang kapok. Perpaduan daging dan nangka itu melahirkan rasa yang khas: gurih, padat, serta cocok menjadi hidangan berbuka karena mengenyangkan dan menghangatkan badan.
Namun, yang membuatnya istimewa bukan hanya komposisi bahan, melainkan bumbu yang “ramai”—banyak, pekat, dan wangi. Racikannya hampir serupa dengan masakan kari Aceh: kelapa gongseng, kelapa giling, cabai merah, cabai kering, cabai rawit, bawang putih, jahe, kunyit, ketumbar gongseng, kemiri, lengkuas, dan aneka rempah lain yang digiling halus. Begitu bumbu bertemu api dan mulai ditumis, aroma rempahnya seperti mengundang orang kampung datang mendekat.
Tgk Iswadi menilai, kekayaan rempah itu menunjukkan watak kuliner Aceh yang tidak hanya pedas. “Pedas Aceh itu berlapis. Ada wangi, ada gurih, ada hangat rempah. Kuah beulangong menampakkan ciri itu,” katanya.
Secara resep, kuah beulangong tampak sederhana: daging dipotong kecil, dicuci bersih, lalu dimasukkan ke kuali besar. Bumbu halus dicampurkan, diberi garam, disiram air, kemudian dimasak sampai bumbu meresap dan daging setengah matang.
Setelah itu nangka muda dimasukkan, ditambah air secukupnya, lalu dimasak hingga matang sempurna. Tetapi dalam praktik budaya, kuah beulangong justru masakan yang “tidak cocok dimasak sendirian”. Kuali besar butuh banyak tenaga, api besar harus dijaga, kuah harus diaduk terus, bahan harus disiapkan dalam jumlah besar, dan pembagiannya pun memerlukan ketertiban.
“Di situ letak pendidikannya,” ujar Tgk Iswadi. “Anak muda belajar dari yang tua: cara bekerja tertib, menghormati, menahan emosi, tidak mendahului. Ini adab sosial yang tumbuh dari dapur meunasah,” sambungnya.
Ramadhan, Meunasah, dan Tradisi yang Menghidupkan Kampung
Kuah beulangong menjadi buruan terutama saat Ramadan. Di banyak gampong, ia dimasak di meunasah atau masjid, lalu dibagikan untuk warga sekampung—sering kali juga untuk anak yatim, serta disediakan bagi jamaah yang berbuka bersama di masjid.
Tradisi ini lazim dilakukan di pertengahan hingga penghujung Ramadhan, sering setelah malam-malam Nuzulul Qur’an. Pada fase itu, meunasah biasanya lebih hidup: tadarus semakin ramai, jadwal ibadah makin padat, dan rasa kebersamaan makin terasa.
Di sejumlah tempat, kuah beulangong juga menjadi bagian dari agenda-agenda khusus: khataman tadarus, atau buka bersama pada hari-hari tertentu seperti 15 Ramadhan atau 17 Ramadhan. Momen itu sering dimaknai sebagai kesempatan mempererat silaturahmi, bukan hanya sesama warga satu kampung, tetapi juga dengan tamu dari gampong sekitar. Tamu datang, warga menyambut, berbuka bersama, lalu melanjutkan salat Magrib dan tarawih.
"Meunasah itu pusat hidup orang kampung,” kata Tgk Iswadi. "Orang mengaji di situ, bermusyawarah di situ, menyambut tamu di situ. Kuah beulangong membuat meunasah benar-benar hidup sebagai rumah bersama," sambungnya.
Beulangong sebagai “Aset Sosial” Gampong
Salah satu hal unik dalam tradisi ini adalah keberadaan beulangong itu sendiri. Di banyak gampong, kuali besar disimpan di meunasah dan menjadi semacam “aset sosial”. Ketika ada hajatan—pesta perkawinan, acara adat, peringatan keagamaan—warga bersama-sama mengambilnya, mengangkutnya, dan menggunakannya untuk memasak dalam jumlah besar.
Tradisi ini memperlihatkan bahwa kebersamaan di Aceh tidak hanya hidup sebagai slogan, tetapi juga sebagai sistem: ada alatnya, ada tempatnya, ada mekanisme gotong royongnya.
Kuah beulangong juga menunjukkan bagaimana masyarakat Aceh menjaga kekompakan melalui kerja kolektif. Saat memasak, peran dibagi tanpa banyak bicara: ada yang mengurus kayu, ada yang mengaduk, ada yang menyiapkan bumbu, ada yang mengatur antrean panci. Ketika kuah matang, pembagian dilakukan tertib agar semua kebagian. Bahkan, kuah sering disisihkan untuk warga yang uzur atau yang tidak sempat hadir.
“Nilai paling pentingnya adalah kesetaraan,” ujar Tgk. Iswadi. “Di depan kuah beulangong, orang sama. Yang kaya dan yang sederhana, duduk satu hamparan. Ini yang membuatnya menyatukan umat," lanjutnya.
Rasa yang Menjadi Pesan
Di tengah perubahan zaman—ketika banyak orang semakin individual dan serba instan—kuah beulangong tetap bertahan karena ia memberi pengalaman yang tidak bisa diganti: kebersamaan yang nyata. Ia mengajarkan bahwa keberkahan Ramadan tidak hanya terletak pada panjangnya bacaan atau ramainya kegiatan, tetapi juga pada tangan yang saling membantu, pada adab yang dijaga, dan pada rasa syukur yang dibagi rata.
Kuah beulangong pada akhirnya bukan sekadar makanan khas Aceh. Ia adalah cara Aceh merawat persaudaraan: melalui rempah yang kaya, kuali besar yang mengumpulkan banyak tangan, dan tradisi berbagi yang membuat meunasah tetap menjadi rumah bagi semua.
Di bulan Ramadhan, ketika umat diuji dengan lapar dan dahaga, kuah beulangong hadir sebagai jawaban yang hangat: menyatukan umat—dengan rasa, dengan gotong royong, dan dengan kebersamaan yang terus dirawat.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Ramadhan dan Kesempatan yang Tidak Selalu Terulang
2
Keluar Mani yang Tidak dan Membatalkan Puasa
3
Khutbah Jumat: Ramadhan, Melatih Sabar, Memperkuat Syukur
4
Khutbah Jumat: Tiga Kebahagiaan Orang Puasa
5
Kultum Ramadhan: Keutamaan Tarawih dan Witir
6
Khutbah Jumat: 4 Cara Menghidupkan Malam Ramadhan dengan Ibadah
Terkini
Lihat Semua