Di Antara Lumpur dan Trauma, Rakyat Gayo Lues Menunggu Pemulihan Tempat Tinggal dan Psikologis
NU Online · Senin, 2 Februari 2026 | 06:00 WIB
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Gayo Lues, NU Online
Banjir bandang yang melanda Kabupaten Gayo Lues, Aceh, pada akhir November 2025 tidak hanya merusak rumah dan lahan pertanian warga, tetapi juga meninggalkan trauma psikologis mendalam. Meski air telah surut, dampak bencana masih dirasakan hingga kini, terutama oleh petani, anak-anak, dan warga lanjut usia.
Di sejumlah gampong terdampak, sawah dan kebun yang menjadi sumber penghidupan warga rusak parah tertimbun lumpur dan bebatuan. Kebun kopi, ladang jagung, serta tanaman keras yang dirawat bertahun-tahun hilang dalam waktu singkat. Kondisi tersebut membuat banyak warga kehilangan harapan dan masa depan ekonomi.
Sabtuddin (60), warga Kecamatan Dabun Gelang, mengaku kebingungan harus memulai kembali kehidupannya setelah rumah dan lahannya rusak.
“Di usia seperti ini, kami tidak punya tenaga lagi untuk mengulang semuanya dari awal,” ujarnya lirih.
Selain kerugian materi, rasa takut terus membayangi warga. Setiap hujan turun, kecemasan kembali muncul. Banyak anak-anak mudah terkejut, sementara orang tua mengaku sulit tidur dan kehilangan semangat beraktivitas.
Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Gayo Lues, Dharmika Yoga, menilai kondisi tersebut sebagai indikasi trauma psikologis serius pascabencana. Ia menegaskan bahwa pemulihan tidak boleh hanya berfokus pada pembangunan fisik.
“Yang rusak bukan hanya rumah dan lahan, tapi juga batin masyarakat. Banyak warga mengalami trauma berat, terutama anak-anak dan orang tua. Mereka butuh trauma healing dan pendampingan,” kata Dharmika, Senin (26/1/2026).
Ia menjelaskan bahwa Ansor bersama relawan dan elemen pemuda telah turun langsung mendampingi warga terdampak. Namun, menurutnya, pemulihan skala besar tetap membutuhkan kehadiran negara.
“Kami bergerak semampunya. Tapi pemulihan psikologis dan ekonomi tetap membutuhkan peran negara secara menyeluruh,” ujarnya.
Tekanan warga juga diperparah oleh persoalan ekonomi. Sejumlah petani masih memiliki kewajiban cicilan pinjaman bank yang diambil sebelum banjir, sementara sumber penghasilan mereka terhenti total.
“Ada warga yang bukan tidak mau membayar, tapi memang sudah tidak punya apa-apa lagi. Ini harus menjadi perhatian serius,” tegasnya.
Hal senada disampaikan Ketua Pimpinan Wilayah GP Ansor Aceh, Azwar A. Gani. Ia menegaskan bahwa pemulihan pascabencana harus dilakukan secara bermartabat dan berkeadilan.
“Bencana bukan hanya merobohkan bangunan, tapi mengguncang batin dan masa depan keluarga. Pemulihan tidak boleh sebatas proyek fisik,” ujarnya.
Menurut Azwar, trauma healing, pendampingan sosial, dan pemulihan ekonomi harus berjalan seiring. Negara, kata dia, harus hadir tidak hanya dengan alat berat, tetapi juga empati dan keberpihakan.
“Kalau rumah dibangun kembali tapi rasa takut dibiarkan, pemulihan itu belum tuntas,” tambahnya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, dan komunitas lokal. Ansor, kata dia, siap terlibat aktif dalam pendampingan sosial dan penguatan mental masyarakat.
Bagi warga Gayo Lues, kembalinya aktivitas bertani dan terbukanya akses ekonomi diyakini menjadi bagian penting dari penyembuhan. Namun, hal itu memerlukan kebijakan jangka panjang, mulai dari normalisasi lahan, bantuan pertanian, relaksasi kredit, hingga pendampingan berkelanjutan.
Tanpa langkah tersebut, trauma dan kemiskinan baru dikhawatirkan terus membayangi korban bencana.
Terpopuler
1
Dua Doa Khusus untuk Malam Nisfu Sya'ban Lengkap dengan Latin dan Artinya
2
Hukum Puasa pada Hari Nisfu Syaban
3
Nisfu Sya'ban: Malam Pengampunan Segala Dosa, Kecuali 4 Hal
4
Jadwal Puasa Sunnah Selama Februari 2026
5
Sejumlah Amalan yang Bisa Dilakukan di Malam Nisfu Sya'ban
6
Sunnah Puasa Ayyamul Bidh Sya'ban 1447 H hingga Lusa
Terkini
Lihat Semua