Hidup Serba Terbatas, Pekerjaan Tak Menentu, Warga Aceh Tamiang Masih Menanti Bantuan
NU Online · Sabtu, 7 Maret 2026 | 08:00 WIB
Tenda pengungsian warga Desa Pantai Cempa, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang, Jumat (6/3/2026)
Suci Amaliyah
Kontributor
Aceh Tamiang, NU Online
Ratusan rumah warga di Desa Pantai Cempa, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang, masih menyisakan bekas lumpur banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut beberapa waktu lalu. Sejumlah bangunan bahkan ambruk dan tidak lagi layak ditempati.
Sebagian warga memilih tetap bertahan di desa tersebut meskipun kondisi rumah mereka rusak. Sebagian lainnya tinggal di tenda bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sementara beberapa keluarga menempati hunian sementara yang dibangun secara swadaya.
Kiki (36), salah satu warga Pantai Cempa, mengatakan kondisi kesehatan keluarganya secara umum masih baik. Namun, ia mengaku warga sesekali membutuhkan layanan pengobatan, terutama bagi anak-anak yang mengalami gangguan pernapasan.
“Untuk kesehatan alhamdulillah masih baik. Kadang ada juga pengobatan gratis dari relawan karena anak-anak terkena ISPA,” kata Kiki kepada NU Online usai penyaluran bantuan beras dari NU Care-LAZISNU PBNU, Jumat (6/3/2026).
Selain persoalan kesehatan, warga juga menghadapi kesulitan mendapatkan air bersih. Menurut Kiki, air sungai di wilayah tersebut dalam kondisi keruh dan tidak layak digunakan, sementara sumur warga juga banyak yang berkarat, terutama saat musim kering.
“Air bersih di sini agak sulit. Sungai keruh dan tidak layak. Sumur juga kadang berkarat. Kalau musim kering seperti ini, air jadi mahal. Kadang kami harus mencari atau meminta air dari sumur warga lain yang masih bagus,” ungkapnya.
Di sisi lain, ketersediaan listrik di dusun tersebut juga masih terbatas. Beberapa rumah harus berbagi sambungan listrik sehingga sering terjadi gangguan, bahkan berpotensi menimbulkan kebakaran karena beban listrik yang berlebihan.
“Listrik masih sambung-sambung. Kadang mati, kadang juga ada kabel yang terbakar karena satu sambungan dipakai beberapa rumah,” jelasnya.
Di dusun tersebut terdapat sekitar 210 warga yang sebagian besar mengalami kondisi serupa. Warga mengaku hingga saat ini belum menerima bantuan langsung dari pemerintah.
“Kalau dari pemerintah belum ada. Sembako juga belum ada. Selama ini bantuan lebih banyak datang dari donasi lembaga,” katanya.
Selain itu, warga juga sering tidak mengetahui adanya pembagian bantuan karena informasi yang tidak sampai kepada mereka.
“Kadang ada bantuan di jalan, tapi kami di rumah tidak tahu. Ketika kami dengar dan datang, sering sudah habis. Kami bahkan mengejar sambil membawa anak kecil, tapi tetap tidak kebagian,” tuturnya.
Dari sisi ekonomi, sebagian besar warga bekerja sebagai buruh harian dengan pekerjaan yang tidak menentu. Salah satu pekerjaan yang masih tersedia adalah mengupas pinang dengan upah sekitar Rp1.000 per kilogram, meskipun pekerjaan tersebut kini juga semakin jarang.
“Kalau penghasilan paling ada yang menyuruh mengupas pinang, seribu rupiah per kilogram. Tapi sekarang juga sudah berkurang,” katanya.
Warga berharap bantuan dapat terus datang untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. “Kalau ke depan tidak ada bantuan, kami juga tidak tahu harus bagaimana. Kami sangat mengharapkan bantuan, terutama untuk kebutuhan seperti minyak, gula, dan paket Lebaran,” ujarnya.
Kiki juga berharap bantuan dapat dibagikan langsung kepada warga tanpa melalui posko agar pembagian lebih merata. “Kalau bisa langsung dibagikan seperti ini saja. Kalau di posko kadang satu dibagi tiga. Jadi kami senang kalau dibagi langsung, semua bisa dapat,” tuturnya.
Ia pun menyampaikan rasa terima kasih atas bantuan yang diberikan oleh NU Peduli berupa beras. Bantuan tersebut dinilai sangat membantu masyarakat yang tengah menghadapi kesulitan ekonomi.
“Terima kasih banyak untuk NU Peduli. Ini sangat membantu masyarakat yang membutuhkan. Semoga rezekinya lancar, sehat, dan bantuan seperti ini bisa terus berlanjut. Semoga berkah rezekinya,” ujarnya.
Kiki menambahkan, beberapa kebutuhan pokok yang saat ini mulai menipis di antaranya minyak goreng dan gula. Menjelang Idul Fitri, warga juga berharap adanya bantuan paket Lebaran sederhana seperti sirup dan bahan pokok lainnya.
“Apalagi mau Lebaran, mungkin kalau ada paket Lebaran seperti sirup, gula, minyak, itu saja sudah sangat membantu,” jelasnya.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Nuzulul Qur’an dan Spirit Membaca untuk Peradaban
2
Khubah Jumat: Separuh Ramadhan Telah Berlalu, Saatnya Muhasabah Diri
3
Mulai Malam Ini, Dianjurkan Baca Qunut pada Rakaat Terakhir Shalat Witir
4
Khutbah Jumat: Refleksi Puasa, Sudahkah Meningkatkan Kepedulian Sosial?
5
Pesan-Pesan dan Sisi Lain Sang Rahbar Ali Khamenei
6
Antrean BBM Mengular di Medan, Harga Naik dan Stok Langka
Terkini
Lihat Semua