Huntara Belum Rampung, Korban Banjir Geudumbak Aceh Utara Menunggu Kepastian Nasib di Tenda Pengungsian
NU Online · Kamis, 26 Maret 2026 | 18:00 WIB
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Aceh Utara, NU Online
Empat bulan pascabanjir bandang yang melanda Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, kondisi warga terdampak masih jauh dari kata pulih.
Sebagian masyarakat masih bertahan di tenda darurat dan hunian sementara (huntara) seadanya karena pembangunan huntara dari pemerintah maupun donatur belum rampung sepenuhnya.
Berdasarkan pantauan NU Online di lapangan, sejumlah unit huntara bantuan pemerintah melalui BNPB masih dalam tahap pengerjaan. Beberapa unit memang telah berdiri, namun belum dapat ditempati secara menyeluruh karena belum selesai.
Di sisi lain, bantuan huntara dari berbagai donatur, termasuk dari luar negeri seperti Malaysia serta perusahaan seperti Semen Andalas, juga belum sepenuhnya rampung. Kondisi ini menyebabkan sebagian warga belum mendapatkan tempat tinggal yang layak.
“Masih banyak yang belum bisa ditempati. Ada yang sudah berdiri, tetapi belum selesai. Jadi warga masih bertahan di tenda,” ujar Rasyidin, warga setempat, Rabu (24/3/2026).
Memasuki momentum Idulfitri, sebagian warga terpaksa mulai menempati huntara yang belum sepenuhnya rampung. Hal ini dilakukan karena kebutuhan mendesak akan tempat tinggal yang lebih layak dibandingkan tenda darurat.
“Karena Lebaran, kami tidak mungkin terus di tenda. Walaupun belum selesai, kami tetap tempati,” ujar Helmi.
Kondisi tersebut mencerminkan dilema yang dihadapi warga: menunggu hunian selesai atau bertahan di tenda dengan segala keterbatasan.
Desa Geudumbak menjadi salah satu wilayah terparah terdampak banjir bandang. Dari lebih 400 rumah yang sebelumnya berdiri, kini hanya sekitar 35 unit yang masih layak huni. Selebihnya rusak berat hingga hilang tersapu arus banjir.
Akibatnya, ratusan kepala keluarga kehilangan tempat tinggal dan harus menjalani kehidupan dalam keterbatasan selama berbulan-bulan.
Sebagian warga berinisiatif membangun huntara mandiri dengan bantuan donatur nonpemerintah. Huntara ini umumnya terbuat dari kayu berukuran sekitar 6 x 6 meter, bahkan sebagian dibangun menyerupai rumah panggung sederhana dengan dua kamar untuk menampung anggota keluarga.
“Yang penting ada tempat berteduh dulu. Kami tidak bisa terus di tenda,” kata Helmi.
Sementara itu, huntara bantuan pemerintah melalui BNPB dirancang dengan spesifikasi berbeda. Unit tersebut berukuran sekitar 6 x 4 meter, tidak berbentuk panggung, dan dilengkapi lapisan aluminium foil yang berfungsi meredam panas dengan memantulkan radiasi matahari.
Meski demikian, pembangunan huntara tersebut belum rampung secara keseluruhan, sehingga belum semua warga dapat merasakan manfaatnya secara optimal.
Selain persoalan hunian, warga juga menghadapi kesulitan ekonomi yang cukup berat. Kebun dan lahan pertanian yang menjadi sumber penghidupan utama rusak total akibat banjir.
“Sekarang tidak ada pekerjaan tetap. Kebun sudah hancur. Kami hanya bertahan dengan apa yang ada,” ujar Helmi.
Warga juga mengeluhkan belum meratanya penyaluran bantuan. Sebagian masyarakat mengaku belum menerima bantuan dana Rp8 juta maupun jatah hidup (jadup) yang dijanjikan.
“Bantuan belum kami terima sampai sekarang. Kami masih menunggu,” tambahnya.
Kondisi semakin sulit karena fasilitas dasar seperti listrik masih terbatas. Sebagian warga hanya menggunakan listrik secara seadanya untuk kebutuhan sehari-hari.
“Listrik dipakai seperlunya saja. Apalagi sekarang Lebaran, kebutuhan makin banyak,” ujarnya.
Meski dalam keterbatasan, suasana Idulfitri tetap dirayakan secara sederhana. Warga berupaya menghadirkan kebersamaan meskipun berada dalam kondisi darurat.
Wakil Ketua PWNU Aceh, Tgk Iskandar Zulkarnaen, menilai percepatan penyediaan hunian dan fasilitas dasar harus menjadi prioritas dalam penanganan pascabencana.
“Hunian sementara dan fasilitas dasar seperti listrik harus segera dipenuhi agar masyarakat dapat hidup lebih layak,” ujarnya.
Ia juga mendorong penguatan koordinasi antara pemerintah daerah dan pusat agar proses pemulihan tidak berlarut-larut.
Menurutnya, keberhasilan penanganan bencana tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat terdampak benar-benar merasakan perubahan.
“Pemulihan harus nyata dirasakan masyarakat, bukan sekadar laporan,” tegasnya.
Hingga kini, warga Geudumbak masih menaruh harapan besar agar pembangunan huntara segera diselesaikan dan bantuan dapat tersalurkan secara merata.
Kondisi ini menjadi gambaran bahwa pemulihan pascabencana masih membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak, terlebih ketika masyarakat harus merayakan Lebaran dalam situasi yang belum sepenuhnya layak.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Keutamaan Silaturahmi dan Saling Memaafkan
2
Jalur Banda Aceh-Medan Macet Panjang, Ansor Imbau Pemudik Utamakan Keselamatan
3
Raih Lima Keutamaan Ini dengan Laksanakan Puasa Syawal
4
Khutbah Jumat: Berbagi Tanpa Pamer, Peduli Tanpa Sekat
5
Prabowo Klaim Pemulihan Aceh Hampir 100 Persen, NU Aceh Tamiang: 70 Persen Warga Masih Mengungsi
6
DPR Ingatkan Mutu Pendidikan di Tengah Wacana PJJ untuk Efisiensi Energi
Terkini
Lihat Semua