Jejak Perjumpaan Budaya dalam Roti Cane, Sajian Khas Ramadhan di Aceh
NU Online · Kamis, 5 Maret 2026 | 12:30 WIB
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Banda Aceh, NU Online
Di antara aneka kuliner khas Tanah Rencong, roti cane memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Terlebih saat bulan Ramadhan, roti ini hampir selalu hadir di meja berbuka maupun sahur. Teksturnya yang renyah di luar dan lembut di dalam, berpadu dengan kuah kari kaya rempah atau taburan gula manis, menjadikannya sajian sederhana yang sarat makna.
Roti cane diyakini berasal dari tradisi kuliner India yang dibawa para pedagang ke pesisir Aceh berabad-abad silam. Seiring waktu, masyarakat Aceh tidak hanya mengadopsinya, tetapi juga mengolah dan menyesuaikannya dengan karakter lokal. Dari proses panjang itu lahirlah roti cane dengan cita rasa khas Aceh, lebih berani dalam rempah dan lebih variatif dalam penyajian.
Tgk Iswadi, yang akrab disapa Abah Iswadi, penggiat budaya dan sosial keagamaan asal UNISAI Samalanga, menilai roti cane merupakan simbol konkret akulturasi budaya yang berlangsung harmonis.
“Roti cane menjadi bukti bahwa Aceh sejak dulu adalah wilayah terbuka. Pengaruh luar tidak serta-merta menghapus identitas, justru diperkaya dan diolah hingga menjadi bagian dari jati diri masyarakat,” ujarnya.
Iswadi menjelaskan, dalam perspektif sejarah, interaksi Aceh dengan India dan kawasan Asia Selatan telah terjalin sejak masa perdagangan maritim. Hubungan tersebut melahirkan pertukaran gagasan, tradisi, dan tentu saja kuliner. Roti cane menjadi salah satu warisan dari dinamika tersebut.
Ramadhan dan Kehangatan Roti Cane
Di bulan suci Ramadhan, kehadiran roti cane memiliki nuansa berbeda. Ia bukan sekadar makanan, melainkan simbol kebersamaan. Di banyak rumah, roti cane menjadi menu berbuka yang dinanti. Anak-anak hingga orang tua berkumpul menunggu azan Maghrib, lalu menikmati roti hangat yang baru diangkat dari wajan.
Sebagian keluarga memilih roti cane manis dengan taburan gula atau susu kental. Sementara yang lain lebih menyukai versi gurih dengan kuah kari kambing atau ayam yang kental dan pedas. Fleksibilitas rasa inilah yang membuat roti cane begitu digemari.
Untuk mendapatkan tekstur sempurna, ada satu kunci sederhana namun penting: adonan didiamkan cukup lama dalam minyak agar roti renyah di luar dan lembut di bagian dalam. Teknik ini menjadikan roti cane memiliki karakter berlapis yang khas.
Bagi masyarakat Aceh, terutama pada suasana Ramadhan, roti cane juga kerap hadir dalam tradisi buka puasa bersama di masjid dan meunasah. Makanan ini menjadi pengikat silaturahmi sekaligus wujud kebersamaan umat.
Identitas yang Terbentuk dari Perjumpaan
Tokoh muda Nahdlatul Ulama, Gus Majid, yang juga mantan Ketua Ansor Aceh Utara, memandang roti cane sebagai representasi identitas Aceh yang inklusif.
“Kalau kita bicara Aceh, kita bicara tentang perjumpaan. Roti cane adalah simbol bahwa identitas itu tidak lahir dari ruang tertutup, tetapi dari dialog panjang dengan berbagai peradaban,” ungkapnya.
Menurutnya, dalam konteks ke-NU-an, tradisi seperti ini sejalan dengan prinsip tasamuh (toleransi) dan tawazun (keseimbangan). Budaya luar tidak ditolak mentah-mentah, melainkan disaring dan diolah agar selaras dengan nilai lokal dan agama.
Ia menambahkan, generasi muda perlu memahami sejarah di balik makanan yang mereka konsumsi. “Ketika kita makan roti cane, kita sebenarnya sedang menikmati sejarah. Ada cerita perdagangan, ada kisah dakwah, ada proses adaptasi yang panjang,” katanya.
Dari Kedai Kopi hingga Oleh-Oleh Wisatawan
Kini, roti cane mudah ditemukan di berbagai tempat, mulai dari warung kecil hingga restoran besar. Bahkan, di sejumlah kota besar di luar Aceh, roti cane telah menjadi menu populer. Sejumlah pelaku usaha juga menghadirkan versi beku atau instan agar dapat dibawa pulang sebagai oleh-oleh.
Keberadaan roti cane yang melintasi batas geografis menunjukkan daya tariknya yang kuat. Namun demikian, akar sejarah dan identitasnya tetap lekat dengan Aceh.
Gus Majid menegaskan, menjaga kuliner tradisional merupakan bagian dari merawat memori kolektif masyarakat. “Kuliner bukan hanya soal rasa. Ia adalah arsip hidup yang menyimpan jejak perjalanan sejarah kita,” ujarnya.
Di tengah arus globalisasi dan menjamurnya makanan cepat saji, roti cane tetap bertahan sebagai pilihan yang dicintai. Ia sederhana, namun penuh makna. Berasal dari luar, tetapi telah menjadi milik bersama.
Ramadhan semakin menegaskan nilai tersebut. Dalam suasana yang sarat spiritualitas, roti cane hadir bukan hanya sebagai pengganjal lapar, tetapi juga pengingat bahwa kebersamaan dan keterbukaan adalah bagian dari identitas Aceh.
Pada akhirnya, roti cane bukan sekadar adonan tepung yang dipanggang di atas wajan. Ia adalah simbol harmoni budaya, jejak sejarah, dan warisan yang terus hidup dari generasi ke generasi. Setiap kali menyantapnya di bulan Ramadhan, masyarakat seakan diajak kembali menyadari bahwa keberagaman yang dirawat dengan bijak akan melahirkan cita rasa yang tak lekang oleh waktu.
Terpopuler
1
Panduan Shalat Gerhana Bulan Petang Ini, Mulai Niat hingga Salam
2
PBNU Instruksikan Qunut Nazilah Respons Agresi Israel-AS ke Iran
3
Jadwal Cuti Bersama dan WFA Lebaran 2026, Total Libur Capai 16 Hari
4
Ketua Umum PBNU Mengutuk Serangan AS-Israel atas Iran
5
Khutbah Gerhana Bulan: Tanda Kekuasaan Allah dan Kesempatan Beramal Saleh
6
Amalan-amalan yang Dianjurkan ketika Terjadi Gerhana Bulan
Terkini
Lihat Semua