Jember, NU Online
Menjelang dan usai Idul Fitri, suasana pesarean atau makam leluhur kian ramai didatangi keluarga. Yang hadir tidak hanya kalangan tua, juga tidak sedikit mereka dari kalangan muda bahkan anak-anak.
āKalau dalam istilah Jawa, ziarah kubur itu agar mereka tidak kepaten obor,ā kata Rijal Mumazziq Z, Ahad (9/6).
Karenanya, orang Jawa menyarankan agar menzarahi pusara leluhur baikĀ orang tua, kakek, buyut, dan seterusnya. āAgar tahu asal dan jati diri,ā jelasnya.Ā
Bulan perziarahan biasanya digelar pada Sya'ban, atau dalam kalender Jawa disebut Ruwah. āKonon, Ruwah berasal dari istilah arwah, jamaknya ruh,ā ungkapnya.
Di bulan Ruwah, menjelang Ramadhan atau Sasi Poso, digelar tradisi Nyadran alias Sadran atau ziarah ke makam leluhur. āYakni mendoakan arwah mereka sekaligus membersihkan pusaranya. Soal pusara alias makam, orang Jawa memang tidak bisa dipisahkan dari perkara ini,ā kata Rektor InstitutĀ Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah atau Inaifas, Kecong, Jember, Jawa Timur tersebut..
Soal makam leluhur, orang Jawa memang sensitif. āDi antara sebab musabab Perang Jawa adalah saat kompeni membangun jalan yang bakal melewati makam leluhur Pangeran Diponegoro,ā jelasnya.Ā
Provokasi terselubung dari kompeni ini jelas penghinaan. Demikian pula para korban pembangunan Waduk Kedungombo di tahun 1980-an. āMereka enggan direlokasi karena, di antara alasannya, tidak mau berpisah dengan makam para leluhurnya,ā katanya.
Ke manapun dan di manapun hidup, manakala pulang ke kampung kelahiran, seorang Jawa bisa langsung menziarahi pusara orangtua dan leluhurnya. āSemacam terjadi prinsip boomerang bahwa semakin keras dan jauh dilempar, semakin cepat berbalik,ā paparnya.Ā
Bahkan, di antara yang dicurhatkan para eksil yang berdiaspora di Eropa pasca 1965, adalah kerinduan terhadap keluarga serta makam leluhurnya.
Kondisi ini juga dialami kalangan santri. āMakam guru menjadi penanda identitas asal keilmuan dan awal pembentukan karakter,ā tandasnya.Ā
Sehingga, jika ada santri lalu hilang identitas kesantriannya, biasanya salah satu faktornya tidak pernah menziarahi pusara guru-gurunya. āIbarat pasir, dia menjauh dari magnet lalu kehilangan daya tarik. Semakin menjauh, semakin melayang kena hempasan angin,ā katanya member tamsil.
Oleh sebab itu kalau tetap ingin berada di poros yang telah digariskan oleh para guru, Rijal menyarankan jangan pernah lupa mengirim mereka, dan pilih waktu terbaik menziarahi pusaranya. āMendekat dengan magnet kita, mendekat dengan cahaya, biar tidak kepaten obor,ā pungkasnya. (Ibnu Nawawi)