Daerah

Masjid Baiturrahim Ulee Lheu, Saksi Sejarah Aceh dari Kolonialisme hingga Tsunami 2004

NU Online  ·  Jumat, 13 Maret 2026 | 07:30 WIB

Masjid Baiturrahim Ulee Lheu, Saksi Sejarah Aceh dari Kolonialisme hingga Tsunami 2004

Potret bangunan Masjid Baiturrahim Ulee Lheu, Banda Aceh, pada Kamis (12/3/2026). (Foto: Helmi Abu Bakar)

Banda Aceh, NU Online

Di ujung barat Kota Banda Aceh, tepat di bibir pantai Ulee Lheu, Masjid Baiturrahim berdiri. Ukurannya memang tidak sebesar dan semegah Masjid Raya Baiturrahman, tetapi masjid ini menyimpan jejak sejarah panjang tentang kolonialisme, strategi politik, akulturasi budaya, hingga kedahsyatan tragedi tsunami pada 2004.


Masjid Baiturrahim berdiri di atas lahan wakaf seluas sekitar 172 meter persegi. Secara kasatmata, bangunan ini menghadirkan arsitektur bergaya kolonial Eropa. Fondasinya tinggi, dindingnya tebal dan masif, langit-langitnya menjulang, serta jendelanya lebar mengikuti pola art deco yang berkembang di Eropa.


Pada bagian serambi depan terdapat empat tiang bergaya korinthian yang dihubungkan oleh lengkungan setengah lingkaran. Ornamen geometris berbentuk belah ketupat dan simbol mahkota ratu menghiasi bagian atasnya.


Bagi pengamat awam, ornamen mahkota mungkin sekadar hiasan. Namun bagi para sejarawan, ia adalah simbol. Tgk Nanda Saputra, pegiat sejarah Aceh dan pemerhati benda-benda kuno, menilai keberadaan mahkota tersebut sebagai pesan visual kekuasaan kolonial.


"Belanda membangun masjid ini bukan semata karena kebutuhan ibadah, tetapi sebagai bagian dari strategi politik. Arsitektur kolonialnya adalah bahasa kekuasaan,” ujarnya, pada Kamis (12/3/2026)


Wilayah Kecamatan Meuraxa pada masa lalu merupakan kawasan strategis. Ulee Lheu dikenal sebagai pelabuhan penting dan menjadi titik awal pendaratan Belanda di Aceh pada 1874. Untuk memperlancar operasi militer, Belanda membangun dermaga dan jalur kereta api yang menghubungkan kawasan ini dengan Kutaraja. Dalam konteks itulah Masjid Baiturrahim hadir di tengah pusaran perang dan diplomasi.


Pada masa perang kolonial, masjid kerap menjadi tempat konsolidasi rakyat Aceh dalam melawan penjajah. Pemerintah Hindia Belanda bahkan sempat membatasi pembangunan masjid baru, dengan merujuk pada pendapat mazhab Syafi’i yang menyatakan bahwa dalam satu wilayah cukup satu masjid untuk pelaksanaan shalat Jumat. Namun, secara paradoks, Belanda justru membangun masjid di Ulee Lheu.


Meski bercorak kolonial, masjid ini tidak sepenuhnya meninggalkan identitas Islam. Lengkungan tapal kuda yang lazim dijumpai di masjid-masjid Spanyol, lengkungan patah khas Persia, dan lengkungan bawang dari India menunjukkan adanya percampuran budaya Islam global. Di bagian atas dinding eksterior terukir angka 22 Zulhijjah 1343 H atau sekitar 15/16 Juli 1925, yang diyakini sebagai tahun pendiriannya.


Kaligrafi Al-Qur’an menghiasi dinding bagian atas, di antaranya Surah Al-Jumu’ah ayat 9-11 yang menyeru umat beriman bersegera menuju shalat Jumat. Di sisi lain terdapat potongan Surah Al-Ankabut ayat 45 dan ayat 57, serta Surah Al-Jumu’ah ayat 8.


Menurut Tgk Nanda Saputra, penambahan kaligrafi pada masa setelah kolonialisme adalah bentuk afirmasi identitas.


"Masyarakat Aceh secara kultural mengambil alih makna bangunan ini. Simbol kolonial boleh melekat pada arsitekturnya, tetapi rohnya tetap Islam,” katanya.


Bangunan Masjid Baiturrahim dibuat tanpa menggunakan tulang besi penyangga. Konstruksinya hanya mengandalkan susunan bata dan semen, dengan dinding tebal sebagai penopang utama.


Langit-langitnya tinggi, dicat hijau, dengan lampu gantung klasik sebagai penerang. Tingginya plafon bukan sekadar estetika, tetapi juga strategi arsitektur tropis untuk mengurangi panas dan memperjelas gema suara imam.


Seiring waktu, masjid ini mengalami beberapa renovasi. Gempa besar pada 1983 merusak sebagian bangunan, terutama kubah dan bagian atap. Renovasi dilakukan pada 1985 dan 1993, menyisakan sekitar 80 persen struktur asli. Perubahan paling mencolok tampak pada bentuk atap yang kini bertingkat, menyerupai atap pelana dengan tambahan kubah kecil di puncaknya.


Namun, ujian terbesar datang pada 26 Desember 2004. Gempa bumi berkekuatan besar mengguncang Aceh, disusul gelombang tsunami yang meluluhlantakkan pesisir. Ulee Lheu termasuk kawasan terdampak paling parah. Rumah-rumah rata dengan tanah, kapal terseret ke daratan, dan ribuan jiwa melayang.


Di tengah kehancuran itu, Masjid Baiturrahim tetap berdiri. Air laut memang masuk ke pelataran, tetapi struktur bangunan tak roboh. Dinding tebal dan fondasi kokoh terbukti mampu menahan tekanan gelombang.


Foto-foto masjid yang berdiri di tengah puing-puing menyebar luas dan menjadi simbol harapan. Banyak orang menyebutnya sebagai keajaiban.


“Secara teknis, ini bisa dijelaskan dengan konstruksi yang kuat. Tapi secara batin, masyarakat melihatnya sebagai tanda kebesaran Allah. Masjid ini menjadi pengingat bahwa di tengah ujian sebesar apa pun, iman harus tetap tegak,” ujar Tgk Nanda Saputra.


Pada 2007-2008, sebuah menara megah dibangun sebagai sumbangan dari Sultan Brunei Darussalam. Menara tersebut dirancang harmonis dengan bangunan lama, terbagi atas empat bagian: kaki, badan, kepala, dan puncak menara. Di bagian atasnya terdapat kubah kecil dengan elemen menyerupai payung terbuka.


Kini, Masjid Baiturrahim tidak hanya berfungsi sebagai masjid lingkungan, tetapi juga sebagai destinasi wisata sejarah dan religi. Wisatawan datang untuk menyaksikan bangunan yang selamat dari tsunami sekaligus memahami kisah panjang di baliknya. Bagi warga setempat, masjid ini adalah ruang ibadah, ruang ingatan, dan ruang perenungan.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang