Kiai Taufik Damas Sebutkan Dwifungsi Peringatan Maulid Nabi
NU Online · Selasa, 19 Oktober 2021 | 16:00 WIB
Nuriel Shiami Indiraphasa
Kontributor
Jakarta, NU Online
Perayaan Maulid Nabi Muhammad saw 1443 Hijriah diperingati pada Selasa,19 Oktober 2021. Maulid Nabi ini merupakan momentum untuk kembali memecut semangat dan mempertebal kecintaan umat kepada Rasulullah saw, menjadikan Rasulullah sebagai suri teladan dalam kehidupan, serta menjadi ajang peningkatan mutu spiritual diri.
Terkait dengan peringatan Maulid Nabi, Wakil Katib Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta, KH Taufik Damas, menjelaskan bahwa ada dua fungsi peringatan Maulid Nabi Muhammad saw.
Pertama, kata Kiai Taufik, memperingati Maulid Nabi Muhammad saw adalah bentuk dari mengingat kembali akhlak Nabi untuk menjadi tolok ukur berperilaku. Akhlak Nabi yang utama, kata dia, adalah jujur (shidqu), berintegritas (amanah), transparan (tabligh), dan cerdas (fathanah).
“Inilah sikap mental yang harus dijadikan rujukan oleh umat. Akhlak itu beda dengan tatakrama. Tatakrama penting, tapi akhlak jauh lebih penting,” kata Kiai Taufik melalui akun Twitter-nya dilihat NU Online, Selasa (19/10/2021).
Kedua, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi momentum emas bagi masyarakat untuk senantiasa berbagi dengan sesama. “Momen berbagi antara yang kaya dan yang miskin. Yang kaya menyumbang dan yang miskin dapat berkat (kebahagiaan),” ujar kiai alumnus Universitas Al-Azhar Mesir tersebut.
Kiai Taufik kemudian mengutip peribahasa Arab yang berbunyi,
فاقد الشيء لا يعطيه (Orang yang tidak memiliki sesuatu tidak mungkin bisa memberikan sesuatu itu kepada orang lain).
“Saya tidak punya uang, tidak mungkin saya bisa memberi uang kepada orang lain. Saya tidak punya makanan, tidak mungkin saya bisa memberi makanan kepada orang lain. Saya tidak punya akhlak, tidak mungkin saya bisa mengajarkan akhlak kepada orang lain,” terang Kiai Taufik.
Kiai Taufik juga sedikit menyentil perihal hukum dari peringatan besar ini. Hukum peringatan Maulid Nabi bukanlah sunnah apalagi wajib, melainkan mubah (boleh). Segala sesuatu yang diperbolehkan, sambung Kiai Taufik, akan mendatangkan pahala bagi pelakunya apabila diisi dengan melakukan kebaikan.
“Mereka yang menyatakan peringtan Maulid Nabi sebagai bid’ah, biasanya karena mainnya kurang jauh,” kelakar kiai kelahiran 23 Januari tersebut.
Kontributor: Nuriel Shiami Indiraphasa
Editor: Musthofa Asrori
Terpopuler
1
Pengumuman Hasil Seleksi Berkas Beasiswa Al-Azhar Mesir 2026, Cek Daftar Namanya di Sini
2
Muktamar Ilmu Pengetahuan 2026 di UIN Sunan Kudus Perkuat Konsolidasi Ilmuwan NU untuk Transformasi Sosial
3
Prediksi Cuaca 26 Juni-2 Juli 2026: Kemarau Makin Terasa, Dinamika Atmosfer Picu Hujan di Sebagian Daerah
4
Pemadaman Listrik dan Pergeseran Tanggung Jawab Negara atas Barang Publik
5
Gempa Magnetudo 5,6 Guncang Pacitan, Terasa hingga Yogyakarta
6
Festival Adat Budaya Nusantara, Lebih dari 100 Raja dan Sultan Sedunia Bakal Kumpul di Salatiga
Terkini
Lihat Semua