Daerah BANJIR SUMATRA

Lebih dari 91 Ribu Warga Aceh Masih Mengungsi, Solidaritas Kemanusiaan Masih Terus Dibutuhkan

NU Online  ·  Senin, 26 Januari 2026 | 06:00 WIB

Lebih dari 91 Ribu Warga Aceh Masih Mengungsi, Solidaritas Kemanusiaan Masih Terus Dibutuhkan

Kondisi warga terdampak bencana di Aceh Tamiang beberapa waktu lalu. (Foto: NU Online/Helmi Abu Bakar)

Banda Aceh, NU Online

Lebih dari 91 ribu warga Aceh masih bertahan di lokasi pengungsian akibat bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah sejak akhir November 2025. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Aceh pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat solidaritas kemanusiaan dalam membantu para korban.


Ketua PWNU Aceh, Tgk H. Faisal Ali atau Abu Sibreh, menegaskan bahwa bencana yang terjadi bukan semata persoalan alam, melainkan ujian kemanusiaan yang menuntut kepedulian bersama. Karena itu, nilai-nilai keislaman yang hidup dalam tradisi Nahdlatul Ulama, seperti gotong royong, ta’awun (saling menolong), dan empati sosial, perlu terus dihidupkan.


“Korban bencana membutuhkan kehadiran kita semua, baik dalam bentuk bantuan material, dukungan moril, maupun doa,” ujar Abu Sibreh, Senin.


Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, organisasi kemasyarakatan, lembaga keagamaan, dan relawan agar penanganan pengungsi dapat berjalan optimal dan berkelanjutan. Menurutnya, bantuan tidak boleh berhenti pada fase tanggap darurat, tetapi harus berlanjut hingga tahap pemulihan dan rehabilitasi kehidupan masyarakat pascabencana.


Berdasarkan data sementara Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Aceh tercatat sebanyak 24.426 kepala keluarga (KK) atau 91.962 jiwa masih berada di pengungsian. Jumlah tersebut tersebar di 988 titik pengungsian di berbagai kabupaten dan kota di Aceh.


Kabupaten Aceh Utara menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak, yakni 33.261 jiwa atau 9.242 KK yang tersebar di 210 titik pengungsian. Kondisi ini menunjukkan besarnya dampak bencana, terutama pada kawasan permukiman padat penduduk.


Wilayah berikutnya adalah Kabupaten Gayo Lues dengan 18.944 jiwa atau 5.571 KK di tujuh titik pengungsian. Disusul Kabupaten Pidie Jaya sebanyak 14.794 jiwa (4.037 KK) yang tersebar di 38 titik. Sementara Aceh Tamiang melaporkan 6.052 jiwa atau 707 KK yang tersebar di 513 titik, menjadikannya daerah dengan jumlah titik pengungsian terbanyak.


Daerah lain yang masih mencatat pengungsian antara lain Aceh Tengah dengan 5.306 jiwa (1.075 KK) di 61 titik, Bireuen sebanyak 4.897 jiwa (1.397 KK) di 59 titik, serta Aceh Timur dengan 3.862 jiwa (1.056 KK) di 53 titik pengungsian. Selain itu, Nagan Raya melaporkan 2.472 jiwa (817 KK) di enam titik, Bener Meriah sebanyak 2.116 jiwa di 39 titik, Pidie 137 jiwa (30 KK) di dua titik, serta Kota Lhokseumawe 119 jiwa (37 KK).


Sementara itu, Juru Bicara Posko Penanganan Bencana Banjir dan Longsor Aceh, Murthalamuddin, menyampaikan bahwa pemerintah bersama seluruh pihak terkait terus melakukan upaya penanganan di lapangan.


“Distribusi logistik, layanan dapur umum, serta koordinasi lintas sektor terus diperkuat agar kebutuhan dasar pengungsi dapat terlayani dengan baik,” ujarnya.


Ia menambahkan, dari 18 kabupaten/kota terdampak, terdapat tujuh daerah yang saat ini tidak lagi memiliki titik pengungsian, yakni Aceh Selatan, Subulussalam, Langsa, Aceh Barat, Aceh Singkil, Aceh Tenggara, dan Aceh Besar. Meski demikian, kewaspadaan tetap dijaga mengingat potensi cuaca ekstrem masih mungkin terjadi di sejumlah wilayah Aceh.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang