Lesbumi Kabupaten Bandung Ungkap Teknologi Informasi Hindia Belanda
NU Online · Ahad, 1 Desember 2019 | 13:45 WIB
Penjajahan sebuah bangsa tidak hanya dilanggengkan secara fisik, tapi juga ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Hal itu terjadi misalnya saat Indonesia dijajah Belanda. Pada awal abad 20 misalnya, mereka memanfaatkan teknologi informasi nirkabel jarak jauh yang menghubungkan Hindia Belanda dan Belanda yang berjarak sekitar 12000 km.
Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) NU Kabupaten Bandung Dadan Madani mengatakan, pada awal abad 20, pemerintah kolonial Belanda membangun alat komunikasi itu di daerah Malabar, tepatnya di gunung Puntang (sekarang masih ke dalam wilayah Kabupaten Bandung).
“Pada tahun 1916, Belanda memanggil Dr. J.C. de Groot setelah menyelesaikan studinya di HBS, Amerika, dengan disertasinya mengenai komunikasi nirkabel,” katanya pada film “Bandoeng 49,2 Khz” di di Bandung Creative Hub (BCH), Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (30/11).
Menurut Dadan, film tersebut mengingatkan kita agar jangan sampai menjadi bangsa yang ketinggalan atau abai terhadap ilmu pengetahuan. Sebab, jika itu terjadi bisa menjadi bencana, menjadi bangsa yang terjajah ratusan tahun.
“Menceritakan ulang radio Belanda bukan artinya romantisme masa lalu, tapi mengingatkan agar agar kita menjadi bangsa yang terus berinovasi dalam bidang teknologi, tidak kalah oleh bangsa lain,” katanya.
Dadan mengutip sejarawan Universitas Padjajaran Reiza D. Dienaputra, karena radio Malabar Belanda dipandang menjadi bangsa terkemuka dan termaju pada zaman itu.
“Bandoeng 49,2 Khz” merupakan film dokumenter berdurasi 30 menit yang diproduksi Lesbumi Kabupaten Bandung bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Kerja sama tersebut menurut Dadan, senada dengan amanat pengurus pusat Lesbumi yang tertuang dalam Sapta Wikrama.
Di antara amanat Sapta Wikrama pada poin kelima, kata Dadan, adalah menghidupkan kembali seni budaya yang beragam dalam ranah Bhnineka Tunggal Ika berdasarkan nilai kerukunan, kedamaian, toleransi, empati, gotong royong, dan keunggulan dalam seni, budaya dan ilmu pengetahuan.
“Pada amanat keenam, Sapta Wikrama adalah memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengembangkan gerakan Islam Nusantara. Produksi film ini adalah salah satu upaya memanfaatkan media film untuk itu,” jelasnya.
Pewarta: Abdullah Alawi
Editor: Alhafiz Kurniawan
Terpopuler
1
Mengenal Enam A’wan PBNU 2026-2031 dari Kalangan Guru Besar dan Rektor Perguruan Tinggi
2
Khutbah Jumat: Keutamaan Mendoakan Keluarga yang Sudah Meninggal pada Hari Jumat
3
Khutbah Jumat: Sedekah Jumat Berkah, Menghidupkan Hari Mulia dengan Kebaikan
4
Khutbah Jumat: Menjaga Diri dari Maksiat Digital di Era Media Sosial
5
PBNU Sosialisasikan AD/ART Baru, Konferensi PWNU, PCNU, dan PCINU Dimulai 1 November 2026
6
Khutbah Jumat: Peran Masyarakat, Pemerintah dan Keluarga dalam Menciptakan Lingkungan Bebas Perundungan
Terkini
Lihat Semua