Malam ini Gusdurian Tanggamus Gelar Peringatan Haul ke-10 Gus Dur
NU Online · Jumat, 3 Januari 2020 | 05:00 WIB
Satu dekade berpulangnya KH Abdurahman Wahid mengusung tema: Kebudyaan Melestarikan Kemanusiaan (Foto: NU Online/Syarif)
Akhmad Syarief Kurniawan
Kontributor
Tanggamus, NU Online
Kebudayaan dan kemanusiaan menjadi isu strategis untuk diperbincangkan belakangan ini. Disadari atau tidak, tak sedikit kalangan remaja yang tercerabut dari akar kebudayaan bangsa Indonesia. Modernisme diartikan sebagai kebarat-baratan. Sedang trend hijrah berpakaian ala timur tengah menjadi wajah kesalehan milenial.
Demikian disampaikan salah satu aktivis Gusdurian Kabupaten Tanggamus Propinsi Lampung, Abdur Rouf Hanif di sela–sela persiapan Peringatan Haul ke-10 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), di gedung PCNU Kabupaten Tanggamus, Jumat (3/1) pagi .
Menurutnya, dehumanisasi atas nama suku, ras, agama dan politik saling berkelindan. Intoleransi meningkat kala politik memainkan isu SARA yang berimbas pada konflik horisontal. Di tengah ketimpangan kemanusiaan kini, masyarakat merindukan kehadiran sosok Gus Dur, pionir kemanusiaan yang hidupnya dihibahkan untuk membela kaum papa (mustad'afin)", tambahnya.
"Satu dekade beliau berpulang. Kebusukan politik yang selama ini menjadi beban sejarah akhirnya mulai terurai benang merahnya. Sudah saatnya generasi muda mewarisi fakta sejarah dan melestarikan 9 nilai laku hidup beliau untuk harmonisasi kebhinekaan", tambah pengurus Lakpesdam NU Tanggamus ini.
Oleh karena itu, untuk mengobati kerinduan tersebut, digelarlah Peringatan Haul ke-10 Gus Dur. Kegiatan ini dimotori anak-anak muda NU dan lintas iman yang merasa satu pemikiran dan berhutang budi pada Gus Dur selaku guru bangsa.
Sejumlah rangkaian Peringatan Haul KH Abdurrahman Wahid nanti malam, diantaranya adalah musikalisasi puisi dan peampilan musik sebagai pembuka dialog lintas iman.
Dialog tersebut mengusung tema Gus Dur ku, Gus Dur mu, Gus Dur Kita, dengan menghadirkan narasumber antara lain; Ketua Tanfidziah PCNU Tanggmus, KH. Samsul Hadi. Ia akan mengulas Gus Dur dari prespektif NU dan politik kebangsaannya. Narasumber kedua adalah seorang aktivis pergerakan dan kemanusiaan, sekaligus founder dari rumah Ideologi Klasika Kota Bandar Lampung, Gus Chepry Hutabarat. Dia akan mengupas humanisme Gus Dur, sisi kemanusiaan sang bijak bestari. Narasumber ketiga adalah Romo Dito, yang akan menjabarkan urgensi moderasi dan toleransi beragama di Indonesia.
Selain dialog dan diskusi, Peringatan Haul ke-10 Gus Dur kali ini juga dimeriahkan dengan panampilan kebudayaan, yaitu stand up komedi dari rekan dan rekanita PAC IPNU IPPNU Kecamatan Gisting, dan musik dan accoustic dari aktivis seniman lintas iman di Kabupaten Tanggamus.
Kontributor: Akhmad Syarief Kurniawan
Editor: Aryudi AR
Terpopuler
1
Sambangi PBNU, 23 PWNU Sampaikan Harapan Soal Muktamar ke-35 NU
2
Innalillahi, Pengurus Muslimat NU Kemayoran Wafat dalam Kecelakaan Kereta di Bekasi
3
Stasiun Bekasi Timur Ditutup Sementara, KRL Hanya Beroperasi hingga Stasiun Bekasi
4
KA Jarak Jauh Tabrak KRL di Bekasi Timur, Gerbong Perempuan Ringsek
5
Sempat Hilang, Karyawan Kompas TV Aini Meninggal Dunia dalam Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur
6
3 Orang Tewas dalam Tabrakan Kereta di Bekasi, KAI Minta Maaf Fokus Evakuasi
Terkini
Lihat Semua