Daerah

Masjid Indrapurwa: Jejak Sultan Iskandar Muda yang Hilang, Sejarah yang Harus Dihidupkan Kembali

NU Online  ·  Sabtu, 28 Februari 2026 | 15:30 WIB

Masjid Indrapurwa: Jejak Sultan Iskandar Muda yang Hilang, Sejarah yang Harus Dihidupkan Kembali

Masjid Indra Purwa tahun 1994. (Foto: Buku Masjid Bersejarah di Nanggroe Aceh)

Aceh Besar, NU Online
Di pesisir Peukan Bada, Aceh Besar, pernah berdiri sebuah masjid tua yang namanya terhubung langsung dengan masa keemasan Kesultanan Aceh Darussalam: Masjid Indrapurwa. Dalam catatan Van Langen, masjid ini disebut sebagai salah satu bangunan yang didirikan pada masa Sultan Iskandar Muda (1607–1636), penguasa terbesar dalam sejarah Aceh.

 

Nama Sultan Iskandar Muda bukan sekadar figur sejarah, tetapi simbol kebesaran politik, militer, dan intelektual Aceh. Pada masanya, Aceh menjelma sebagai kekuatan utama di Selat Malaka, pusat perdagangan, sekaligus pusat studi Islam yang disegani. Maka, setiap peninggalan yang dikaitkan dengan periode ini memiliki bobot historis yang luar biasa.


Snouck Hurgronje mencatat bahwa Masjid Indrapurwa merupakan salah satu dari tiga masjid di Aceh yang dibangun di atas bekas bangunan kuil. Catatan ini sering dibaca dalam berbagai perspektif. Namun secara historiografis, hal tersebut menunjukkan dinamika transformasi ruang sakral dalam proses Islamisasi Aceh. Ruang yang sebelumnya menjadi tempat ibadah agama lain diislamkan dan diberi identitas baru tanpa menghapus total jejak arsitekturalnya.

 

Menurut keterangan imam masjid sebelum tsunami, Masjid Indrapurwa awalnya terletak di Desa Pante Ara, Peukan Bada. Namun abrasi pantai yang terus terjadi memaksa masyarakat memindahkan bangunan tersebut. Kondisi geografis pesisir memang membuatnya rentan terhadap perubahan alam.

 

Tragedi besar datang pada 26 Desember 2004. Gempa bumi dan tsunami meluluhlantakkan kawasan Peukan Bada. Masjid Indrapurwa hilang tersapu gelombang. Yang tersisa hanyalah dokumentasi foto, arsip tertulis, dan kenangan masyarakat.

 

Kehilangan ini bukan sekadar kehilangan bangunan fisik, melainkan kehilangan salah satu penanda sejarah era Iskandar Muda. Dalam konteks historiografi Aceh, hilangnya Masjid Indrapurwa berarti hilangnya artefak penting yang merekam kesinambungan peradaban.

 

Dari sisi arsitektur, masjid ini memperlihatkan karakter tradisional Aceh. Atapnya berbentuk tumpang dan seluruh konstruksinya berbahan kayu. Keistimewaannya terletak pada mihrab kayu yang penuh ukiran—jarang ditemukan pada masjid lain. Mihrab tersebut menunjukkan kematangan seni ukir Islam Aceh.

 

Mimbar masjid juga memiliki ciri khas unik. Penutup atap mimbar berbentuk seperti topi dan bergaya bangunan Cina. Ini menunjukkan adanya pengaruh budaya Tiongkok dalam detail arsitektur masjid. Hubungan Aceh dengan Tiongkok dalam sejarah perdagangan dan diplomasi memang sudah berlangsung lama, sehingga pengaruh tersebut bukan sesuatu yang mengherankan.

 

Pada bagian atas mimbar terdapat inskripsi berbahasa Arab bertuliskan 1276 H atau 1859 M. Angka ini kemungkinan berkaitan dengan pembuatan atau renovasi mimbar pada abad ke-19. Ini menandakan bahwa masjid tersebut terus dirawat dan diperbaharui dalam lintasan waktu yang panjang.

 

Musiarifsyah Putra, Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Aceh Besar, yang juga penggiat sejarah dan kandidat doktor di UIN Ar-Raniry Banda Aceh, menilai bahwa Masjid Indrapurwa adalah artefak penting dalam narasi sejarah Aceh.

 

“Masjid ini adalah saksi peradaban. Ia bukan hanya tempat ibadah, tetapi bukti konkret bagaimana Aceh membangun identitas Islamnya sejak masa Iskandar Muda,” ujarnya.

 

Menurutnya, ketika bangunan sejarah asli bernilai tinggi telah hilang, setidaknya harus ada upaya menghadirkan bangunan duplikat atau rekonstruksi arsitektural sebagai bukti sejarah. “Kita tidak bisa mengembalikan yang asli, tetapi kita bisa membangun replika berdasarkan dokumentasi dan kajian ilmiah. Itu penting agar generasi mendatang tetap memiliki referensi visual dan edukatif,” tegasnya.


Gagasan pembangunan duplikat bukan sekadar romantisme sejarah. Dalam banyak peradaban dunia, bangunan bersejarah yang hancur akibat perang atau bencana direkonstruksi untuk menjaga kesinambungan memori kolektif. Rekonstruksi tersebut menjadi laboratorium hidup—ruang pembelajaran langsung tentang sejarah, arsitektur, dan identitas budaya.


Aceh sebagai negeri Iskandar Muda tidak boleh membiarkan sejarahnya punah begitu saja. Jika Masjid Indrapurwa tidak lagi berdiri, maka dokumentasi dan rekonstruksi menjadi jalan untuk menjaga warisan tersebut. Duplikat bangunan dapat difungsikan sebagai museum mini, pusat kajian sejarah Islam Aceh, dan laboratorium arsitektur tradisional.

 

Penekanan pada sejarah menjadi penting karena identitas Aceh sangat bertumpu pada narasi kejayaan masa lalu. Tanpa bukti fisik dan edukasi publik, sejarah mudah berubah menjadi sekadar cerita lisan yang perlahan terlupakan.

 

Masjid Indrapurwa menunjukkan bahwa arsitektur Islam Aceh adalah hasil dialog budaya. Atap tumpang mencerminkan kesinambungan tradisi lokal. Ukiran kayu memperlihatkan kehalusan seni pertukangan. Mimbar bergaya Cina menunjukkan keterbukaan terhadap pengaruh luar. Semua itu membentuk wajah Islam Nusantara yang khas.

 

Kini, ketika bangunan itu telah hilang, tanggung jawab sejarah berada di tangan generasi hari ini. Dokumentasi foto yang tersimpan dalam arsip Departemen Agama dan koleksi sejarah harus dijadikan dasar kajian arsitektural. Perguruan tinggi, lembaga adat, dan pemerintah daerah dapat berkolaborasi membangun replika ilmiah yang akurat.

 

Musiarifsyah menekankan bahwa rekonstruksi bukan sekadar membangun ulang, tetapi membangun kesadaran. “Jika kita ingin sejarah tidak punah di negeri Iskandar Muda, maka harus ada langkah konkret. Replika Masjid Indrapurwa bisa menjadi simbol komitmen itu,” katanya.

 

Langkah ini juga memiliki nilai edukatif bagi generasi muda. Mereka tidak hanya membaca sejarah dalam buku, tetapi melihat dan merasakan bentuknya secara langsung. Sebuah laboratorium hidup sejarah memungkinkan siswa, mahasiswa, dan peneliti memahami bagaimana peradaban Islam Aceh dibangun.


Aceh pernah menjadi pusat kekuatan Islam di Asia Tenggara. Masa Sultan Iskandar Muda adalah masa ekspansi, diplomasi, dan intelektualisme. Masjid Indrapurwa adalah bagian dari mozaik itu. Mengabaikan rekonstruksi berarti membiarkan satu fragmen penting sejarah hilang tanpa jejak.

 

Ansor Aceh Besar mendesak dan  memandang bahwa pelestarian sejarah harus melampaui nostalgia. Ia harus diwujudkan dalam kebijakan dan tindakan nyata. Rekonstruksi Masjid Indrapurwa dapat menjadi simbol kebangkitan kesadaran sejarah.


Sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi fondasi masa depan. Jika fondasi itu dibiarkan rapuh, identitas kolektif pun akan goyah. Di negeri Iskandar Muda, sejarah adalah harga diri.


Masjid Indrapurwa mungkin telah tenggelam oleh gelombang tsunami. Namun ingatan tentangnya tidak boleh ikut tenggelam. Dengan dokumentasi, penelitian, dan rekonstruksi, sejarah itu dapat dihidupkan kembali.Karena peradaban besar tidak hanya dikenang, tetapi dirawat dan diwariskan.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang