Meunasah Darurat di Atas Lumpur, Semangat Warga Manyang Cut Pidie Jaya Beribadah Ramadhan
NU Online · Kamis, 5 Maret 2026 | 16:30 WIB
Meunasah darurat Desa Manyang Cut, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. (Foto: NU Online/Helmi Abu Bakar)
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Pidie Jaya, NU Online
Rintik hujan masih menyisakan genangan di sejumlah sudut Desa Manyang Cut, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Lumpur sisa banjir yang mengendap setebal dua hingga dua setengah meter kini telah mengeras, menjadi saksi bencana yang melanda kawasan itu. Di atas timbunan lumpur tersebut, Kementerian Agama bersama Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI membangun meunasah (mushala) darurat, bukan sekadar bangunan, melainkan simbol keteguhan iman masyarakat.
“Meunasah sementara ini langsung dibangun di atas lumpur yang sudah mengeras. Ketebalannya mencapai 2 sampai 2,5 meter dan tidak mungkin dikeruk lagi,” ujar Ketua Posko Darurat Kebencanaan Desa Manyang Cut, Teuku Nazarudin, di lokasi pembangunan.
Desa Manyang Cut merupakan salah satu wilayah yang terdampak parah akibat banjir bandang pada akhir November 2025. Permukiman yang berada di tepi aliran Sungai Meureudu itu sempat terendam material lumpur dan kayu yang terbawa arus.
Tarawih di Atas Bekas Banjir
Tarawih Ramadan 1447 H di meunasah darurat berlangsung khidmat. Dinding papan sederhana dan rangka besi ringan tak mengurangi kekhusyukan jamaah. Di barisan depan, para orang tua berdiri tegap; di barisan belakang, anak-anak mengikuti gerakan salat dengan penuh semangat.
Setiap malam selama Ramadan, meunasah darurat itu menjadi pusat kehidupan warga. Seusai azan Isya, mereka berdatangan membawa sajadah masing-masing. Lampu-lampu sederhana menerangi ruang ibadah, sementara suara imam menggema lembut di antara sisa-sisa jejak bencana.
Pelaksanaan Tarawih bukan sekadar rutinitas, tetapi juga ruang pemulihan psikologis. Di tengah trauma dan kehilangan, jamaah menemukan ketenangan dalam saf yang rapat dan doa-doa yang dipanjatkan bersama.
Tgk Syahrul, tokoh agama Pidie Jaya sekaligus anggota Badan Pengawas Baitul Mal Kabupaten Pidie Jaya, menyebut Tarawih di meunasah darurat sebagai manifestasi syukur dan keteguhan.
“Bangunan boleh rusak, tetapi iman tidak boleh runtuh. Justru di atas lumpur inilah kita belajar bahwa ujian tidak memadamkan cahaya ibadah,” ujarnya.
Tradisi Ramadan Tetap Hidup
Selama Ramadan, meunasah darurat tidak hanya difungsikan untuk Tarawih. Selepas Subuh, pengajian kitab dan tadarus Al-Qur’an tetap berjalan. Anak-anak duduk melingkar mempelajari iqra’ dan tajwid dengan alas tikar sederhana.
Menjelang berbuka, ibu-ibu membawa hidangan seadanya untuk berbagi takjil. Tidak ada kemewahan, tetapi kebersamaan terasa hangat karena warga saling menguatkan.
Tradisi meugang mungkin tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya, namun semangat berbagi tetap hidup. Sejumlah keluarga yang lebih mampu menyisihkan rezeki untuk membantu tetangga yang terdampak lebih parah.
Gus Masrur, mantan Wakil Sekretaris GP Ansor Aceh, menilai meunasah darurat menjadi ruang konsolidasi sosial.
“Ramadan di sini bukan hanya ibadah ritual, tetapi momentum memperkuat ukhuwah. Anak-anak tetap semangat mengaji, orang tua istiqamah Tarawih, dan warga saling membantu. Ini kekuatan spiritual yang luar biasa,” katanya.
Meunasah sebagai Pusat Pemulihan
Dalam tradisi Aceh, meunasah adalah jantung gampong, tempat salat, musyawarah, dan pendidikan. Ketika meunasah rusak, denyut sosial ikut terganggu. Karena itu, pembangunan meunasah darurat di atas lumpur yang mengeras memiliki makna simbolik: kebangkitan dari keterpurukan.
Selain Tarawih dan tadarus, meunasah juga menjadi tempat musyawarah warga membahas pemulihan kampung, mulai dari kebutuhan air bersih, perbaikan rumah, hingga pendidikan anak-anak.
Kementerian Agama dan BAZNAS tidak hanya membangun fisik bangunan, tetapi juga menghidupkan kembali fungsi sosialnya melalui dukungan perlengkapan ibadah, mushaf Al-Qur’an, serta program psikososial.
Keteguhan di Tengah Keterbatasan
Menurut Tgk Syahrul, Ramadan di Manyang Cut tahun ini memang berbeda. Saf-saf berdiri di atas tanah yang pernah tenggelam lumpur. Namun justru di situlah letak keistimewaannya. Setiap rakaat Tarawih menjadi doa untuk kampung, setiap bacaan Al-Qur’an menjadi harapan baru.
Hujan yang kadang turun di malam hari tidak menyurutkan langkah jamaah. Anak-anak berlarian kecil setelah salat di halaman yang belum sepenuhnya kering, sementara orang tua saling berjabat tangan lebih erat dari biasanya.
“Meunasah ini mungkin darurat, tetapi semangatnya permanen. Selama Ramadan, kita jadikan tempat ini pusat doa dan pusat harapan,” tegasnya.
Ramadhan sebagai Momentum Kebangkitan
Ramadhan 1447 H di Desa Manyang Cut mengajarkan bahwa ibadah tidak menunggu kondisi sempurna. Justru dalam keterbatasan, iman diuji dan dimurnikan.
Di atas lumpur yang mengeras berdiri meunasah sederhana yang memancarkan cahaya spiritual. Tarawih yang digelar setiap malam, tadarus yang bergema, serta tradisi berbagi yang tetap hidup menjadi bukti bahwa masyarakat Pidie Jaya tidak menyerah pada keadaan.
Meunasah darurat bukan sekadar bangunan sementara, melainkan simbol bahwa kebersamaan dan iman dapat tumbuh bahkan di atas sisa-sisa bencana. Dari tempat sederhana itulah, kebangkitan dimulai.
Terpopuler
1
Panduan Shalat Gerhana Bulan Petang Ini, Mulai Niat hingga Salam
2
PBNU Instruksikan Qunut Nazilah Respons Agresi Israel-AS ke Iran
3
Jadwal Cuti Bersama dan WFA Lebaran 2026, Total Libur Capai 16 Hari
4
Ketua Umum PBNU Mengutuk Serangan AS-Israel atas Iran
5
Khutbah Gerhana Bulan: Tanda Kekuasaan Allah dan Kesempatan Beramal Saleh
6
Amalan-amalan yang Dianjurkan ketika Terjadi Gerhana Bulan
Terkini
Lihat Semua