Nabi Muhammad Kaya, Tapi Hidup Sederhana
NU Online · Sabtu, 20 April 2013 | 11:03 WIB
Cilegon, NU Online
Wakil Ketua Pengurus Pusat Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama (PP LTMNU), H. Mansur Syaerozi mengatakan, ketika mempersunting Siti Khadijah, Nabi Muhammad memberikan mas kawin 100 ekor unta.
<>
Jika diibaratkan sekarang, 100 ekor unta itu seharga 100 mobil sekarang, “Dengan demikian, Nabi Muhammad itu kaya, tapi bergaya hidup sederhana,” katanya pada Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda) dalam rangka revitalisasi masjid di Pondok Pesantren Darul Ihsan, Pegantungan Jombang, Kota Cilegon, Sabtu, (20/4).
Menurut Mansur, sangat masuk akal Nabi Muhammad kaya karena dia berdagang sejak usia 13 tahun hingga umur 40. Berarti, ia melakukan itu selama 27 tahun. Lebih lama menjadi pedagang daripada menjadi rasul yang hanya 23 tahun.
Mansur menambahkan, tidak mungkin berdagang selama itu, Nabi Muhammad hidup miskin, “Itu satu, kedua, karena Nabi Muhammad dekat dengan Allah. Ia adalah kekasih Allah. Ibaratnya, seseorang yang disukai orang kaya, ia akan terbawa kaya.”
Kemudian, Mansur menambahkan, kalau ditelisik dalam Al-Quran, kita akan menemukan peran harta dalam berjuang. Pertama, “Berjuanglah kamu di jalan Allah dengan hartamu dan dirimu. (At-Taubah: 41)”. Pada ayat lain disebutkan “Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. (QS. Al-Baqarah : 43)”
Ini artinya, umat Islam itu cetakannya kaya. Tapi harus hidup sederhana. Kekayaan harus lebih banyak digunakan berjuang untuk kemajuan Islam.
Rapimda bertema "Wujudkan masjid sebagai pusat pemberdayaan umat," tersebut diikuti 150 orang terdiri imam, khotib, dan DKM masjid NU. Kegiatan tersebut terselenggara atas kerja sama PC LTMNU Kota Cilegon dengan PP LTMNU dan PT Sinde Budi Sentosa.
Penulis: Abdullah Alawi
Terpopuler
1
Prabowo Sebut Ada Kelompok yang Ingin Indonesia Terpecah
2
Kasasi Dikabulkan, MA Batalkan Putusan PTUN Terkait Suket Penyetaraan Ijazah SMA Gibran
3
Banjir di Medan Rendam 2.200 Rumah, 7.930 Warga Terdampak
4
Presiden Prabowo: Korupsi dan Penyelewengan adalah Awal Kehancuran Bangsa
5
Pemuda NU Asal Lumajang Raih Rekor MURI lewat Karya Buku Tertebal di Indonesia
6
Di Istanbul, Katib Syuriyah PWNU Gorontalo Serukan Kepedulian terhadap Krisis Lingkungan dan Kemanusiaan
Terkini
Lihat Semua