PCNU Aceh Besar Apresiasi Program Beut Kitab Bak Sikula untuk Perkuat Karakter Generasi
NU Online · Kamis, 12 Maret 2026 | 17:45 WIB
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Aceh Besar, NU Online
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Aceh Besar mengapresiasi program Beut Kitab Bak Sikula (BKBS) yang digagas Pemerintah Kabupaten Aceh Besar.
Apresiasi tersebut disampaikan Ketua Tanfidziyah PCNU Aceh Besar Tgk Muhammad Hafiz menyusul peluncuran resmi program BKBS oleh Bupati Aceh Besar Muharram Idris bersama Wakil Bupati Syukri A. Jalil di Gedung Dekranasda Aceh Besar, Selasa (10/3/2026).
Program Beut Kitab Bak Sikula menandai dimulainya implementasi pembelajaran kitab-kitab dasar keislaman secara terstruktur di sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) di seluruh Aceh Besar.
Inisiatif ini bertujuan untuk memperkuat integrasi antara pendidikan formal dan pendidikan keagamaan di lingkungan sekolah.
Tgk Muhammad Hafiz menilai program tersebut sangat relevan dengan tantangan sosial yang dihadapi generasi muda saat ini.
Ia menyebut program tersebut sebagai langkah strategis dalam memperkuat pendidikan karakter generasi muda melalui integrasi pembelajaran kitab keislaman di lingkungan sekolah.
“Program ini sangat baik dan ideal untuk kondisi zaman sekarang. Beut Kitab Bak Sikula merupakan langkah nyata dalam membentengi generasi muda dari dekadensi moral sekaligus menyiapkan lahirnya generasi yang berkarakter, berilmu, dan memiliki jiwa kepemimpinan Islam di masa depan,” ujarnya, Kamis (12/3/2026).
Sebagai pimpinan dayah di Aceh Besar, ia kerap mendengar kekhawatiran para orang tua terhadap perubahan perilaku generasi muda. Terutama karena generasi muda semakin dipengaruhi arus globalisasi dan budaya luar yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai adab dan akhlak Islam.
Karena itu, ia menilai program BKBS menjadi langkah penting untuk memperkuat pendidikan karakter melalui jalur pendidikan formal, terutama pada jenjang pendidikan dasar dan menengah pertama.
Dalam implementasinya, Pemerintah Kabupaten Aceh Besar telah menyiapkan sekitar 457 guru mengaji yang akan mengajar di 215 SD dan 89 SMP yang tersebar di seluruh kecamatan di Aceh Besar.
Langkah tersebut dinilai sebagai bukti keseriusan pemerintah daerah dalam membangun sistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter keagamaan.
Baca Juga
Interpretasi Kitab Kuning
Tgk Hafiz menjelaskan bahwa pendidikan yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan pembinaan akhlak merupakan salah satu pilar utama dalam membangun peradaban masyarakat yang bermartabat.
Menurutnya, dalam perspektif Islam, pendidikan ideal tidak hanya menghasilkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kekuatan spiritual dan kematangan moral dalam kehidupan sosial.
“Ilmu dan akhlak adalah dua hal yang tidak boleh dipisahkan dalam pendidikan. Ketika anak-anak dibekali ilmu agama sejak dini, maka mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki karakter kuat dan tanggung jawab terhadap masyarakat,” jelasnya.
Ia menilai, program BKBS sejalan dengan visi pembangunan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar yang menargetkan terwujudnya masyarakat yang bermarwah, bermartabat, adil, makmur, sejahtera, serta menjalankan nilai-nilai syariat Islam dalam bingkai Ahlussunnah wal Jamaah.
Tgk Hafiz menambahkan bahwa langkah pemerintah daerah memasukkan pembelajaran kitab dasar keislaman di sekolah merupakan upaya strategis untuk memperkuat fondasi moral generasi muda Aceh Besar.
Ia menegaskan bahwa pendidikan agama bukan sekadar pelengkap dalam sistem pendidikan, melainkan bagian penting dalam membentuk kepribadian generasi bangsa.
Karena itu, ia berharap program Beut Kitab Bak Sikula dapat dijalankan secara konsisten dan berkelanjutan sehingga mampu memberikan dampak nyata bagi pembentukan karakter generasi muda di Aceh Besar.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk guru, orang tua, tokoh agama, serta lembaga pendidikan untuk turut mendukung dan menyukseskan program tersebut.
Menurutnya, keberhasilan program pendidikan tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif seluruh komponen masyarakat.
“Program ini bukan sekadar menambah pelajaran agama di sekolah, tetapi merupakan investasi peradaban bagi masa depan Aceh Besar. Jika dilaksanakan secara konsisten, kita optimis akan lahir generasi pemimpin yang tidak hanya cerdas, tetapi juga kuat dalam iman, akhlak, dan kepemimpinan Islami,” tutupnya.
Peran NU kuatkan pendidikan keagamaan
Senada, Sekretaris PCNU Aceh Besar Tgk Khasanda menyampaikan dukungannya terhadap program Beut Kitab Bak Sikula yang dinilai strategis dalam memperkuat tradisi keilmuan Islam di tengah masyarakat.
Menurutnya, tradisi beut kitab merupakan warisan intelektual yang telah lama hidup dalam kultur pendidikan Islam di Aceh, khususnya di lingkungan dayah. Tradisi tersebut selama ini terbukti mampu membentuk generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan agama yang kuat, tetapi juga berakhlak mulia.
Ia menilai langkah Pemerintah Kabupaten Aceh Besar menghadirkan tradisi pembelajaran kitab di sekolah merupakan inovasi pendidikan yang patut diapresiasi.
“Program ini sebenarnya menghidupkan kembali tradisi keilmuan Islam yang sudah lama berkembang di Aceh. Beut kitab bukan sekadar membaca teks, tetapi juga memahami nilai-nilai adab, akhlak, dan kebijaksanaan yang terkandung di dalamnya,” ujar Tgk Khasanda.
Menurutnya, pendidikan kitab kuning selama ini menjadi salah satu kekuatan utama dalam sistem pendidikan dayah. Oleh karena itu, integrasi pembelajaran kitab di sekolah umum akan memperkaya pengalaman belajar siswa sekaligus memperkuat identitas keislaman generasi muda Aceh.
Tgk Khasanda juga menilai tantangan generasi muda saat ini semakin kompleks seiring perkembangan teknologi informasi dan media sosial. Tanpa fondasi agama yang kuat, generasi muda berpotensi kehilangan arah dalam menghadapi berbagai perubahan sosial yang cepat.
Karena itu, ia menilai program BKBS dapat menjadi salah satu solusi strategis untuk memperkuat ketahanan moral generasi muda.
“Ketika anak-anak sejak dini sudah dikenalkan dengan kitab-kitab dasar keislaman, maka mereka akan memiliki panduan nilai dalam menjalani kehidupan. Ini sangat penting untuk membentengi mereka dari pengaruh negatif zaman,” jelasnya.
Ia juga berharap program tersebut tidak hanya berjalan secara administratif, tetapi benar-benar dilaksanakan secara berkualitas dengan dukungan guru yang kompeten serta kurikulum yang terarah.
Selain itu, Tgk Khasanda mengajak para guru mengaji yang terlibat dalam program BKBS agar menjalankan amanah tersebut dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab.
Menurutnya, peran guru sangat menentukan keberhasilan program pendidikan karakter di sekolah.
“Para guru mengaji memiliki peran penting dalam membentuk kepribadian siswa. Karena itu, pengajaran kitab harus dilakukan dengan pendekatan yang bijak, penuh keteladanan, dan mampu menanamkan kecintaan anak-anak terhadap ilmu agama,” katanya.
Ia optimistis program Beut Kitab Bak Sikula dilaksanakan secara konsisten, maka dalam beberapa tahun ke depan Aceh Besar akan melahirkan generasi muda yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kedalaman spiritual.
“Pendidikan yang kuat akan melahirkan pemimpin yang kuat. Kita berharap dari sekolah-sekolah di Aceh Besar akan lahir generasi pemimpin yang berilmu, berakhlak, serta memiliki komitmen untuk membangun daerah dan umat,” pungkasnya.
Terpopuler
1
Kultum Ramadhan: Keutamaan 10 Malam Terakhir dan Cara Mendapatkan Lailatul Qadar
2
Menurut Imam Ghazali, Lailatul Qadar Ramadhan 1447 H Akan Jatuh pada Malam Ke-25
3
Syed Muhammad Naquib al-Attas: Cendekiawan tanpa Telepon Genggam
4
Makna Keterpilihan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran
5
Lafal Doa Malam LaiLatul Qadar, Lengkap dengan Latin dan Terjemah
6
Cendekiawan Malaysia Syed Naquib Alatas Meninggal Dunia dalam Usia 94 Tahun
Terkini
Lihat Semua