Puluhan Dokter Sambut Kedatangan Santri Pesantren Amanatul Ummah Mojokerto
NU Online · Senin, 8 Juni 2020 | 09:00 WIB
Mojokerto, NU Online
Setidaknya ada 20 dokter yang akan disiapkan Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet, Mojokerto, Jawa Timur, untuk menmyambut santri. Hal tersebut sebagai ikhtiar untuk penanganan serta pengecekan kesehatan santri usai libur panjang.
Ketua Yayasan Amanatul Ummah, Muhammad Al-Barra menuturkan bahwa para dokter tersebut diambil dari alumni pesantren sendiri. Mereka dengan suka rela menderma baktikan tenaga dan keahliannya untuk melakukan pengecekan kondisi santri.
"Yang telah disiapkan adalah 20 dokter untuk penanganan kesehatan santri. Dan dari semua dokter yang ada, nantinya juga dibantu beberapa tim medis yang merupakan alumni Pesantren Amanatul Ummah sendiri,” jelasnya kepada NU Online, Ahad (7/6).
Sekadar diketahui, ada sekitar 10 ribu santri yang akan kembali ke pesantren ini. Dan sesuai dengan protokol kesehatan Gugus Tugas Covid-19, bahwa harus menghindari kerumunan. Karenanya, pihak pesantren akan memberlakukan aturan bahwa santri yang kembali harus secara bertahap.
"Untuk tahap pertama anak kelas 12 dulu yang belum diterima di kampus negeri secara bertahap sampai 12 Juni. Selanjutnya anak kelas 10, kelas 11 yang juga akan diberlakukan secara bertahap," ungkap lulusan Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir tersebut.
Dikemukakannya bahwa sebelum masuk ke pesantren, beberapa ruang sudah disiapkan yang nantinya digunakan sebagai ruang isolasi sementara untuk santri. Demikian pula, sejumlah ruangan tersebut berfungsi untuk pengecekan suhu badan, screaning, serta pengecekan kesehatan lain.
Putra bungsu KH Asep Saifuddin Chalim ini juga menambahkan bahwa setelah beberapa tahapan protokol kesehatan selesai, para santri akan dipandu. Yakni mereka disuruh mandi, mengganti dengan baju bersih demi mencegah penyebaran virus Corona.
Ditegaskannya, bahwa ikhtiar menjaga kondisi santri sesuai prosedur kesehatan akan terus diberlakukan selama santri berada di pesantren. Sehingga semua pihak harus memperhatikan protokol kesehatan dan menjadi kebiasaan baru tersebut dalam keseharian.
"Di dalam pesantren pun kami masih menerapkan protokol kesehatan, seperti santri dilarang makan bersama, harus membawa alat makan sendiri, memakai masker, rajin cuci tangan, serta selalu membawa hand sanitizer," tutur Gus Barra, sapaan akrabnya.
Pembina Persatuan Guru Nahdlatul Ulama atau Pergunu Kabupaten Mojokerto ini mengharapkan agar pendidikan di Tanah Air segera normal kembali.
“Demikian pula virus Covid-19 yang membuat takut seluruh masyarakat Indonesia ini segera lenyap dari bumi,” harapnya.
Kontributor: Rofi
Editor: Ibnu Nawawi
Terpopuler
1
Ancam Ekosistem Pertembakauan, Lesbumi PBNU Tolak Rancangan Aturan Kemenko PMK dan Kemenkes soal Tembakau
2
Kapten Timnas Iran Kritik FIFA, Sebut Piala Dunia 2026 'Bencana' dan Berjalan Tidak Adil
3
Pemerintah Tetapkan Logo Resmi HUT ke-81 RI, Ini Makna Desain dan Cara Unduhnya
4
DPR Desak Latsarmil Calon Manajer Kopdes Dihapus, Negara Bisa Hemat Lebih dari Rp1 Triliun
5
Hari Bhayangkara Ke-80, Presiden Prabowo Klaim Polri Berkontribusi pada Ketahanan Pangan dan MBG
6
Rais Syuriah PBNU Ingatkan Pengurus PWNU Aceh: Jangan setelah Dilantik Malah Jadi Urusan
Terkini
Lihat Semua