Daerah

RMI NU Jateng Perkuat Sistem Perlindungan Santri, Fokus Latih Musyrif-Musyrifah di Seluruh Pesantren

NU Online  ·  Senin, 11 Mei 2026 | 09:00 WIB

RMI NU Jateng Perkuat Sistem Perlindungan Santri, Fokus Latih Musyrif-Musyrifah di Seluruh Pesantren

Para tokoh dan peserta Halaqah Interaktif Pengasuh Pesantren Putri se-Jawa Tengah di Pendapa Dipayudha Adigraha, Banjarnegara, Jawa Tengah, Ahad (10/5/2026). (Foto: Muji Prasetyo)

Banjarnegara, NU Online

Rabithah Ma’ahid Islamiyah PWNU Jawa Tengah terus memperkuat sistem perlindungan santri di lingkungan pondok pesantren melalui konsolidasi, pendampingan, dan pelatihan bagi para pendamping santri di seluruh Jawa Tengah.


Ketua RMI PWNU Jawa Tengah, KH Ahmad Fadlullah Turmudzi, mengatakan pihaknya selama dua tahun terakhir aktif melakukan konsolidasi dan pendampingan ke pesantren-pesantren di berbagai daerah di Jawa Tengah.


Dari proses tersebut, RMI menemukan kebutuhan mendesak untuk memperkuat pola pengasuhan, meningkatkan kapasitas musyrif-musyrifah, serta membangun sistem perlindungan santri yang lebih terstruktur.


“Pesantren membutuhkan penguatan sumber daya manusia, terutama para pendamping santri. Karena itu tahun ini kami fokus pada pelatihan musyrif-musyrifah di seluruh kabupaten/kota,” katanya dalam Halaqah Interaktif Pengasuh Pesantren Putri se-Jawa Tengah dan Pelatihan Musyrifah se-Karesidenan Banyumas di Pendapa Dipayudha Adigraha, Banjarnegara, Jawa Tengah, Ahad (10/5/2026) dikutip dari laman NU Online Jateng.


Menurutnya, besarnya jumlah pesantren dan santri di Jawa Tengah menjadi tantangan sekaligus tanggung jawab bersama untuk memastikan lingkungan pendidikan yang aman dan sehat.


Ia menyebut saat ini terdapat sekitar 5.451 pondok pesantren di Jawa Tengah dengan jumlah santri mencapai sekitar 555 ribu orang.


“Ekosistem pesantren yang besar ini membutuhkan perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan,” ujarnya.


KH Ahmad Fadlullah Turmudzi menegaskan halaqah tersebut menjadi langkah konkret memperkuat sistem perlindungan santri dari dalam lingkungan pesantren.


Menurutnya, pengasuh pesantren putri memiliki posisi strategis sebagai penjaga marwah pesantren sekaligus pembentuk sistem pendidikan yang berbasis kasih sayang dan keadilan.


Menteri PPPA Ajak Wujudkan Pesantren Aman dan Bebas Kekerasan

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Arifah Choiri Fauzi, mengajak seluruh pengasuh pesantren untuk bersama-sama mewujudkan pondok pesantren yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan.


“Santri selama 24 jam berada dalam pengasuhan pesantren, bukan bersama orang tuanya, sehingga menjadi tanggung jawab bersama untuk memastikan mereka tumbuh dalam lingkungan yang sehat dan aman,” kata Arifah.


Ia menegaskan terdapat empat pilar utama keamanan santri yang harus menjadi perhatian pengelola pesantren, yakni aman secara jasmani, aman kehormatan, aman perasaan dari perundungan (bullying), serta nyaman dalam belajar.

 

“Santri harus terlindungi secara fisik, terjaga martabat dan kehormatannya, tidak mengalami tekanan psikis akibat bullying, dan mendapatkan ruang belajar yang nyaman agar tumbuh menjadi generasi unggul,” tegasnya.


Pemkab Banjarnegara Dorong Pesantren Bekali Ilmu Terapan

Bupati Banjarnegara, Amalia Desiana, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan menjadikan Banjarnegara sebagai tuan rumah kegiatan tersebut.


Menurutnya, pesantren memiliki peran besar dalam membentuk karakter generasi bangsa sehingga lingkungan pesantren yang aman dan ramah anak menjadi investasi penting bagi masa depan.


“Pesantren tidak hanya mendidik ilmu agama, tetapi juga ilmu terapan. Lulusan pesantren harus punya nilai lebih, mampu menjawab kebutuhan zaman tanpa kehilangan jati diri santrinya,” katanya.


Ia juga menegaskan perempuan bukanlah pesaing laki-laki, melainkan mitra strategis dalam membangun kehidupan dan generasi masa depan.

 

“Perempuan bukan pesaing, tetapi tiang utama dan mitra dalam kehidupan. Karena itu perjuangan menghadirkan pesantren sebagai rumah yang nyaman dan aman bagi santri harus kita lakukan bersama,” ujarnya.

 

Pemprov Jateng Siapkan Beasiswa Santri hingga Timur Tengah
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, mengatakan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia pesantren melalui program beasiswa pendidikan tinggi.

 

“Di lingkungan pondok pesantren tersedia program peningkatan SDM melalui beasiswa S1, S2 hingga S3 ke Timur Tengah bagi ustazah maupun santri,” kata Taj Yasin.


Ia berharap para penerima beasiswa dapat kembali mengabdi dan membangun pesantrennya masing-masing setelah menyelesaikan pendidikan.

 

Bahas Perlindungan Anak hingga Kesehatan Mental Santri
Forum yang mengusung tema Dari Pesantren untuk Pesantren: Membangun Sistem Perlindungan Santri Berbasis Nilai Pesantren di Jawa Tengah itu diikuti sekitar 350 peserta, terdiri dari 250 pengasuh pesantren putri dari seluruh Jawa Tengah dan 100 musyrifah dari wilayah Karesidenan Banyumas.


Dalam forum tersebut, peserta mendapatkan berbagai materi terkait implementasi Peraturan Menteri Agama Nomor 73 Tahun 2022 tentang Pesantren Ramah Anak, Undang-Undang Perlindungan Anak, pencegahan kekerasan seksual, hingga pelatihan konseling dasar dan deteksi dini persoalan psikologis santri.


Forum juga menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan pengasuh pesantren, advokat perlindungan anak, hingga akademisi psikologi.

 

Pada akhir kegiatan, peserta merumuskan rekomendasi kebijakan serta mendeklarasikan komitmen bersama pembentukan Satuan Tugas Perlindungan Santri di masing-masing pesantren sebagai langkah nyata mewujudkan pesantren ramah anak dan perempuan di Jawa Tengah.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang