Shalat Id di Lokasi Pengungsian, Warga Aceh Tuai Apresiasi atas Solidaritas dan Keteguhan Iman
NU Online · Ahad, 22 Maret 2026 | 19:30 WIB
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Aceh Tengah, NU Online
Di tengah situasi bencana yang masih mengguncang wilayahnya, warga Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, tetap melaksanakan Shalat Idul Fitri. Ibadah tersebut berlangsung di lokasi pengungsian yang tersebar di sepanjang jalan, yang kini menjadi hunian sementara bagi masyarakat terdampak.
Pelaksanaan Shalat Id itu turut menjadi perhatian publik setelah video kegiatan tersebut beredar luas di media sosial. Dalam rekaman video terlihat ratusan warga berkumpul, berbaris rapi, dan melaksanakan ibadah dengan penuh kekhusyukan di tengah keterbatasan.
Meski kondisi belum sepenuhnya pulih, semangat masyarakat untuk menjalankan ibadah tidak surut. Justru dalam suasana yang serba terbatas, kekuatan spiritual dan kebersamaan tampak semakin nyata.
Sejak pagi, para pengungsi mulai berkumpul di area yang tersedia. Dengan memanfaatkan ruang terbuka di sekitar posko, mereka menyusun saf secara tertib untuk melaksanakan Shalat Id berjamaah.
Menurut Badri, salah seorang warga, tikar sederhana yang disiapkan secara gotong royong menjadi alas bagi para jamaah. Ia menyebutkan bahwa seluruh elemen masyarakat turut ambil bagian, mulai dari anak-anak hingga para lansia.
“Tikar kami siapkan bersama. Semua ikut, dari anak-anak sampai orang tua. Walaupun di pengungsian, kami tetap ingin merasakan suasana Lebaran,” ujarnya, kepada NU Online, Ahad (22/3/2026).
Badri menyebut pemandangan itu sebagai gambaran kuatnya solidaritas di tengah masyarakat. Ia menegaskan bahwa dalam kondisi yang jauh dari kata ideal, warga tetap mampu menjaga kekompakan dan semangat kebersamaan.
Ia menuturkan bahwa suasana khidmat terasa menyelimuti pelaksanaan ibadah. Tak ada keluhan yang terdengar, hanya lantunan takbir dan doa yang dipanjatkan dengan penuh harap. Bagi warga, Idul Fitri tetap menjadi momentum penting untuk memperkuat keimanan, meski dirayakan di tengah ujian.
Badri menilai, kegiatan ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai keagamaan tetap terjaga, bahkan dalam situasi sulit sekalipun. Menurutnya, keteguhan masyarakat dalam menjalankan ibadah menunjukkan bahwa spiritualitas menjadi sumber kekuatan utama dalam menghadapi bencana.
“Kami berharap dengan doa dan ibadah ini, kesulitan kami segera berakhir dan keadaan bisa kembali normal,” ujar salah seorang jamaah.
Sementara itu, Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Tengah Tgk Mursyidin menyampaikan apresiasi atas keteguhan masyarakat dalam menjalankan Shalat Idul Fitri di tengah kondisi bencana.
Ia menilai, langkah yang dilakukan warga Linge merupakan cerminan kuatnya iman dan komitmen dalam menjalankan kewajiban agama.
“Ini adalah contoh luar biasa. Dalam kondisi sulit sekalipun, masyarakat tetap menjaga ibadah. Ini menunjukkan keteguhan iman yang patut kita apresiasi,” ujarnya.
Menurutnya, ibadah yang dilakukan dalam kondisi penuh keterbatasan justru memiliki nilai yang sangat tinggi di sisi Allah.
“Justru dalam kondisi seperti ini, keikhlasan dan kesungguhan ibadah semakin terasa. Ini menjadi pelajaran bagi kita semua tentang makna ketakwaan yang sebenarnya,” tambahnya.
Tgk Mursyidin juga mengajak masyarakat luas untuk menjadikan peristiwa tersebut sebagai inspirasi dalam memperkuat keimanan dan kepedulian sosial.
Ia berharap berbagai pihak terus memberikan dukungan kepada masyarakat terdampak, baik dalam bentuk bantuan maupun doa.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Istiqamah Pasca-Ramadhan, Tanda Diterimanya Amalan
2
Khutbah Idul Fitri 2026: Makna Kemenangan dan Kembali Ke Fitrah
3
Muslim Arab dan Eropa Rayakan Idul Fitri 1447 H pada Hari Jumat, 20 Maret 2026
4
Khutbah Idul Fitri Bahasa Arab 2026: Jadilah Hamba Sejati, Bukan Hamba Musiman: Konsistensi dalam Ketaatan Setelah Ramadhan
5
Khutbah Idul Fitri Bahasa Jawa: Idul Fitri Dinten Ganjaran lan Kabingahan
6
Penjelasan Kiai Afifuddin Muhajir Soal Hadis Rukyatul Hilal dari Perspektif Ilmu Nahwu
Terkini
Lihat Semua