Suronan, Warga di Lasem Rembang Napak Tilas Sejarah Criwik hingga Pasukan Diponegoro
NU Online · Jumat, 21 Juli 2023 | 19:00 WIB
Suronan di Desa Criwik, Kecamatan Pancur, Rembang Jawa Tengah pada Kamis (20/7/2023). (Foto: istimewa)
Ahmad Solkan
Kontributor
Rembang, NU Online
Warga Desa Criwik Kecamatan Pancur yang berada di daerah perbukitn dan warga Lasem berduyun-duyun memperingati 1 Muharram 1445 H sembari membawa antaran berkat untuk dibagikan kepada jamaah yang hadir.
Kesibukan itu berlangsung pada Kamis (20/7/ 2023) di halaman makam leluhur, yakni Ki Ageng Sutisna, Nyai Ageng Silogati dan Raden Panji (RP) Kamboro pasukan Diponegoro, di Criwik, Pancur Rembang, Jawa Tengah.
Pemerhati sejarah Lasem, Abdullah Hamid mengatakan syahdan dahulu terdapat Kerajaan Besar Pucangsula yang berlokasi di Lasem yang wilayahnya dikenal sangat luas hingga Kalingga sekitar tahun 674 M. Setelah beberapa lama, Kerajaan Pucangsula hancur lebur oleh bencana alam seperti meletusnya Gunung Muria, begitupun Gunung Argasoka yang turut membuat wilayah sekitar porak-poranda.
"Masa ini disebut masa kegelapan," terangnya kepada NU Online.
Selanjutnya, pada abad ke-9, sebagian penduduk yang berada di perbukitan Criwik mulai turun gunung atau hijrah, menempati daerah-daerah lembah yang subur dan banyak sumber airnya.
Mereka mulai membuka lahan dan bertani, serta membuat kerajinan perkakas dan alat-alat rumah tangga dari gerabah dan besi. Daerah lembah itu kian lama kian ramai, dan kemudian menjadi sebuah banjar setingkat Desa, Banjar baru itu diberi nama Lasem, lalu menjadi kadipaten.
Pada abad ke-15 Masehi, lanjut Abdullah Hamid, Nyai Ageng Silogati adik Adipati Lasem, diperistri Ki Ageng Criwik Sutisna dari Desa Madani. Ini menjadi titik balik Criwik-Lasem. Jika sebelumnya orang-orang Criwik turun ke Lasem, kemudian Nyai Ageng Silogati yang notabene dari Lasem kembali ke Criwik.
Selain itu, salah satu tokoh besar yakni RP Kamboro pasukan Diponegoro juga dimakamkan di Criwik. "Selain itu, Nyai Ageng Silogati dan Ki Ageng Sutisna yang makamnya berada di Desa Criwik," tambahnya.
Acara Suronan tersebut dimulai pukul 07.00 WIB diawali dengan khatmil Qur'an dipimpin Ustadz Munawir dan selesai pukul 12.00 WIB . Lalu istirahat diisi Gema Shalawat oleh Grup Hadrah Remaja Masjid Desa Criwik.
KH Ahmad Kurdi, Mustasyar MWCNU Rembang yang juga Pengasuh Pesantren Muhibbul Musthofa Rembang pada kesempatan itu menyampaikan bahwa Raden Panji (RP) Kamboro adalah pejuang yang harus dihormati.
Terpopuler
1
Sambangi PBNU, 23 PWNU Sampaikan Harapan Soal Muktamar ke-35 NU
2
Innalillahi, Pengurus Muslimat NU Kemayoran Wafat dalam Kecelakaan Kereta di Bekasi
3
Stasiun Bekasi Timur Ditutup Sementara, KRL Hanya Beroperasi hingga Stasiun Bekasi
4
KA Jarak Jauh Tabrak KRL di Bekasi Timur, Gerbong Perempuan Ringsek
5
Sempat Hilang, Karyawan Kompas TV Aini Meninggal Dunia dalam Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur
6
3 Orang Tewas dalam Tabrakan Kereta di Bekasi, KAI Minta Maaf Fokus Evakuasi
Terkini
Lihat Semua