Syamsidar Yahya, Tokoh Perempuan Sumatera yang Hebat
NU Online · Senin, 10 Desember 2012 | 12:12 WIB
Pekanbaru, NU Online
Banyak tokoh perempuan yang sudah berbuat untuk kemajuan kaum perempuan yang belum terdokumentasi. Salah satunya Rangkayo Hj Syamsidar Yahya (1914-1975) yang semasa hidupnya mencurahkan seluruh hidupnya untuk kepentingan umat dan masyarakat. Sayangnya selama ini nyaris dilupakan orang.
<>
Demikian beberapa kesimpulan dari bedah buku biografi Rangkayo Hajjah Syamsidar Yahya (1914-1975) Tokoh Perempuan Sumatera, Senin (10/12/2012) di gedung Wanita Jalan Diponegoro Pekanbaru.
Buku ditulis oleh Guru Besar Universitas Negeri Padang Prof Dr Mestika Zed dan Kontributor NU Online Sumatera Barat Armaidi Tanjung, S.Sos yang tampil sebagai panelis. Sedangkan pembedah buku Dr Wilaela dosen UIN Sultan Syarif Kasim Riau dan moderator Prof Dr Hj Ellydar Chaidir.
Ketua Penasehat Organisasi Wanita Propinsi Riau Dra Hj Septina Primawati Rusli, MM yang membuka bedah buku mengatakan, Syamsidar Yahya (SY) merupakan tokoh perempuan tiga zaman yang sudah mulai sejak zaman Belanda, Jepang dan setelah Kemerdekaan RI.
“Bedah buku membuka cakrawala pengetahuan kita semua tentang sosok SY. Ini penting jadi diketahui oleh perempuan dan generasi muda propinsi Riau,” kata Septina yang juga isteri Gubernur Riau Rusli Zainal.
Menurut Wilaela, dari buku yang ditulis Mestika Zed dan Armaidi Tanjung, tergambar SY berjuang membangun pendidikan perempuan di Riau, khususnya di Pekanbaru. Mendidik melalui wirid pengajian, madrasah awaliyah, kursus, panti asuhan dan sekolah. Rekam jejak dan tapak rujuknya masih ada hingga sekarang, yakni lembaga pendidikan di bawah nauangan YKWI.
“Faktor keberhasilan SY adalah didukung oleh rekan-rekannya yang mengabdi dengan pertimbangan altruistik, sukarela, dan amar ma’ruf nahi munkar. Kondisi Pekanbaru masih minim dengan aktivitas sosial dan pendidikan, wirid pengajian kaum ibu merupakan sesuatu yang baru. SY adalah murid Rahmah el-Yunusiyah dan alumnus Diniyah Putri Padang Panjang dan istri pejabat,” kata Wilaela.
Menurut Wilaela, penulis buku berhasil menggambarkan sosok SY ke hadapan pembaca. Saat membacanya, sosok SY seperti tertayang di hadapan pembaca. Walaupun ada di beberapa halaman terdapat kesalahan kata.
Baik Mestika Zed maupun Armaidi Tanjung, penulisan buku SY salah satu upaya merekam jejak tokoh yang wafat 35 tahun kemudian saat penulisan dimulai. “Memang masih banyak sisi-sisi yang belum terekam, terutama dari orang-orang sempat bertemu dan meninggalkan kesan dalam kehidupan kesehariannya,” kata Armaidi Tanjung.
Untuk itu, kata Armaidi, ke depan buku ini jika dimungkinkan dapat diterbitkan dalam edisi revisi untuk melengkapi.
Redaktur: Mukafi Niam
Terpopuler
1
Kepada Pengurus NU, KH Nurul Huda Djazuli: Tetap Ikhlas demi Menghidupkan NU
2
Seruan 13 Kiai Sepuh tentang AHWA Jelang Pembukaan Munas dan Konbes NU 2026
3
Rais Aam PBNU Kembali Gunakan Bahasa Arab dalam Khutbah Iftitah Munas-Konbes NU 2026
4
Khutbah Jumat Bahasa Jawa: Nguri-uri Kamulyaning Wulan Muharram
5
Khutbah Jumat: Pesan Rasulullah, Jangan Mencari-cari Kesalahan Orang Lain
6
Sidang Pleno II Munas-Konbes, Ketum PBNU Sebut Pelatihan Kader NU Jadi Fondasi Meritokrasi
Terkini
Lihat Semua