Trauma Belum Hilang, Bantuan Sembako NU Peduli dan NU Online Super App Ringankan Warga Desa di Tapsel
NU Online · Sabtu, 7 Maret 2026 | 22:30 WIB
Sebanyak 100 warga Desa Sabungan Sipabangun, Tapanuli Selatan, menerima bantuan sembako yang disalurkan Tim NU Peduli melalui NU Care-LAZISNU PBNU. (Foto: NU Online/Haekal)
Haekal Attar
Penulis
Jakarta, NU Online
Sebanyak 100 warga Desa Sabungan Sipabangun, Tapanuli Selatan, menerima bantuan sembako yang disalurkan Tim NU Peduli melalui NU Care-LAZISNU PBNU. Bantuan tersebut merupakan donasi yang dihimpun melalui NU Online Super Apps.
Bantuan diserahkan oleh Sekretaris LAZISNU PBNU Moesava bersama Sekretaris LAZISNU PCNU Padangsidimpuan Ali Akbar serta Kepala Desa Sabungan Sipabangun Ansor Pasaribu di Masjid Nurul Huda, Desa Sabungan Sipabangun, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sabtu (7/3/2026).
Ansor Pasaribu menjelaskan bahwa banjir bandang yang menerjang wilayahnya pada 25 Desember 2025 terjadi akibat tumpukan kayu gelondongan berbagai ukuran yang menyumbat jembatan. Akibatnya, aliran air meluap dan masuk ke permukiman warga.
“Kalau yang terdampak hampir semua warga. Ada yang hanya kemasukan air, ada yang rusak parah, bahkan ada rumah yang hanyut,” katanya kepada NU Online.
Ia mengungkapkan, korban terdampak paling parah mencapai 21 kepala keluarga (KK) dari sekitar 300 KK yang tinggal di desa tersebut.
Meski demikian, sisa-sisa kayu gelondongan akibat banjir masih belum sepenuhnya dapat dibersihkan. Pihak desa bersama warga sejauh ini baru mampu membersihkan kayu dalam jumlah besar hingga setara muatan beberapa truk fuso.
“Kami berharap kejadian seperti ini tidak terjadi lagi. Kami juga bersyukur jika masih ada uluran tangan seperti dari LAZISNU PBNU yang sangat membantu masyarakat,” jelasnya.
Salah satu korban banjir bandang, Nurhadiah, mengaku masih merasakan trauma mendalam setelah bencana tersebut. Rumahnya yang berada tidak jauh dari sungai mengalami kerusakan akibat derasnya arus banjir.
“Waktu itu sangat takut karena airnya besar sekali. Bagian belakang rumah saya habis terbawa air. Sampai sekarang masih trauma, kalau hujan kami merasa tidak tenang,” katanya.
Ia menuturkan bahwa pada saat kejadian, warga sempat mengungsi di Masjid Nurul Huda selama sekitar 10 hari.
“Ramadhan kali ini terasa berbeda. Kami masih trauma. Bahkan sekarang kalau hujan turun kami sering berpindah ke rumah kerabat,” ujarnya.
Hal serupa juga dirasakan Rita Pasaribu. Meski rumahnya tidak mengalami kerusakan parah, rasa trauma masih membayangi setiap kali hujan turun, terutama pada malam hari.
“Yang penting jangan sampai bencana itu terjadi lagi. Kalau hujan deras malam hari kami masih merasa takut,” katanya.
Terpopuler
1
Cara Penguburan Ikan Sapu-Sapu oleh Pemprov DKI Dapat Kritik dari MUI
2
Benarkah Pendiri PMII Hanya 13 orang?
3
Perbedaan Pendapat Ulama tentang Urutan Bulan Haram, Mana yang Pertama?
4
Sejumlah Pemberitaan Wafat KH A Wahid Hasyim di Media Massa
5
118 Hotel Siap Tampung 108 Ribu Jamaah Haji Indonesia Kloter Pertama
6
Gus Yahya Pilih Jaga Jarak atas Kasus Gus Yaqut, Tak Libatkan NU dalam Urusan Keluarga
Terkini
Lihat Semua