Fragmen

Ketua Umum Fatayat NU dari Masa ke Masa (1950-2026)

NU Online  ·  Senin, 2 Maret 2026 | 20:35 WIB

Ketua Umum Fatayat NU dari Masa ke Masa (1950-2026)

Logo Fatayat NU (Foto: NU Online)

Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) merupakan badan otonom (banom) perempuan muda NU yang didirikan pada tanggal 7 Rajab 1369 Hijriyah atau bertepatan dengan tanggal 24 April 1950 Masehi di Surabaya. Sejak berdiri hingga sekarang, pucuk Pimpinan Pusat (PP) Fatayat NU telah dipimpin beberapa tokoh yang disebut sebagai Ketua Umum.


Berikut rangkuman profil singkat Ketua Umum Fatayat NU dari masa ke masa, mulai tahun awal berdiri (1950) hingga sekarang (2026):


1. Nihayah Bakri (1950-1952, 1952-1954, 1954-1956, dan 1959-1962)
Setelah Fatayat NU dibentuk sebagai hasil keputusan pada Muktamar NU tahun 1950, Nihayah Bakri ditunjuk menjadi Ketua Umum PP Fatayat NU. Hal ini menjadikannya sebagai Ketua Umum PP Fatayat NU yang pertama.


Meski demikian, dalam beberapa literatur disebutkan, dalam proses pembentukan menjadi banom, selain Nihayah, juga ada beberapa nama yang layak untuk dikenang sebagai para pendiri Fatayat NU. Mereka adalah Khuzaemah Mansur, Aminah Mansur dan Murtosijah Chamid.


Ketiganya dikenal dengan sebutan “Tiga Serangkai” pendiri Fatayat NU. Selain itu juga terdapat nama Maryam, Solichah, Asnawiyah, Musjarofah, dan Fatimah. Selain itu tentu dukungan dari PBNU dan PP Muslimat NU (Maria Ulfah Anshar dkk., Menapak Jejak Fatayat NU: Sejarah Gerakan, Pengalaman dan Pemikiran, [Jakarta, PP Fatayat NU: 2005] hal 7-10).


Nama-nama tersebut kemudian yang juga mengisi dalam struktur awal kepengurusan Fatayat NU (1952-1954) hasil Kongres ke-II Fatayat NU (bertepatan Muktamar NU tahun 1952), dengan susunan sebagai berikut:


Ketua I : Nihayah Bakri, Ketua II : Aminah Mansur, Penulis I : Murtosijah Chamid, Penulis II : Maryam Manan, Bendahara I : Chuzaimah Mansur, Bendahara II : Fatimah Chusainy, Pembantu : Musjarofah Jasin. (Maria Ulfah Anshar dkk., 2005:195)


Nihayah Bakri merupakan adik dari KH Thohir Bakri. Yang menarik keduanya sama-sama menjadi Ketua Umum pertama di organisasi masing-masing, yakni Fatayat NU dan Ansor NU (GP Ansor). Wanita kelahiran Surabaya pada 10 Juli 1923 tersebut, mengawali kiprahnya dengan menjadi guru di Madrasah NU Cabang Surabaya (1938-1945).


Setelah Indonesia merdeka, ia menjadi guru agama di Sekolah Rakyat dan Madrasah Islamiah Nganjuk. Ia juga pernah mengajar di Madrasah Taswirul Afkar Surabaya (1949-1953). Secara bersamaan ia pernah aktif di kepengurusan pusat Muslimat NU dan menjadi Ketua Umum Fatayat NU yang pertama (1950-1956) dan dikenal dengan nama Nihayah Bakri, merujuk pada nama ayahnya, yakni KH Bakri. 


Di tahun 1959, ia terpilih kembali dalam Kongres ke-V PP Fatayat NU dan memimpin hingga tahun 1962. Pada periode tersebut ia lebih populer dengan nama Nihayah Maksum. Nama yang sama tercantum ketika ia menjadi anggota Konstituante RI.


2. Aisyah Dahlan (1956-1959)
Dikutip dari artikel NU Online berjudul Aisyah Dahlan, Pejuang NU dari Minang, perempuan kelahiran Padang Pariaman, Sumatera Barat, tahun 1921 (sumber lain menyebutkan 1920) ini sangat aktif dalam kegiatan dakwah dan menjadi dai perempuan terkemuka, baik melalui mimbar dakwah maupun tulisan.


Bila pembaca mengetik namanya di mesin pencarian, akan ditemukan beberapa buku karyanya, antara lain Membina Rumah Tangga Bahagia dan Peranan Agama dalam Rumah Tangga (Jamunu, 1969), Sedjarah Lahirnja Muslimaat NU di Indonesia (1955), dan lain sebagainya.


Pada tahun 1956, ia terpilih sebagai Ketua Umum PP Fatayat NU (1956-1959) hasil Kongres ke-IV Fatayat NU tahun 1956. Di bawah kepemimpinannya, Fatayat NU menjadi semakin berkembang, seiring dengan bertambahnya wilayah, cabang, dan ranting di berbagai daerah.


Selain dikenal sebagai penulis, Aisyah Dahlan juga pernah menjadi Anggota Konstituante RI. Ia terpilih dalam Pemilu 1955 bersama dengan Nihayah Bakri dan lima tokoh wanita lainnya dari kalangan NU.


Kemudian setelah demisioner sebagai Ketua Umum Fatayat, ia lebih banyak berkiprah di Muslimat NU. Dalam Kongres Muslimat NU tahun 1979 di Semarang, ia ditunjuk menjadi Ketua PP Muslimat NU yang membidangi Dakwah. Pada tahun 1969-1971, Ny Aisjah Dachlan ikut mengkoordinasikan berdirinya Ikatan Muallimah dan Muballighah (penceramah dan guru agama wanita) dan tahun 1980 memprakarsai berdirinya Himpunan Dakwah Muslimat Indonesia, disingkat Nadwah (kini menjadi Hidmat). Ia juga banyak merintis berdirinya sekolah-sekolah di bawah naungan Muslimat NU


3. Malichah Agus (1962-1967 dan 1967-1979)
Meski tercatat lahir di Kaputran, Pandegiling, Surabaya, akan tetapi masa kecil Malichah justru banyak dihabiskan di Kepanjen Malang. Sempat kembali ke Surabaya untuk sekolah, namun pada tanggal 10 November 1945 setelah terjadi pertempuran di Kota Surabaya, ia kembali lagi ke Kepanjen.


Di Malang, ia meneruskan sekolah di Sekolah Menengah Islam, seangkatan dengan M Tolchah Mansoer dan Abdullah Alwi Murtadlo. Sebelum aktif di Fatayat NU, pada tahun 1949, Malichah sudah terlebih dulu aktif dalam Muslimat NU Kepanjen.


Setelah menikah, ia sempat vakum beraktivitas di Muslimat NU, karena mengikuti suami yang tinggal di Jakarta. Namun, semangatnya untuk berjuang dalam wadah perempuan NU, memmbuatnya kembali aktif pada tahun 1950, dengan menjadi Sekretaris Muslimat NU Jakarta dan bahkan hingga ke tingkat Pimpinan Pusat.


Bersamaan dengan aktif di Muslimat, di usianya yang masih tergolong muda, ia juga tergabung bersama Fatayat NU. Secara struktur, memang pada awalnya Fatayat ini dulunya sempat menjadi bagian di dalam Muslimat NU, hingga ahirnya resmi berdiri sendiri sebagai salah satu banom yang mewadahi pemudi NU.


Malichah terpilih sebagai Ketua Umum Fatayat NU selama dua periode. Pertama, ia terpilih pada Kongres ke-VI Fatayat NU yang dihelat di Kota Surakarta pada tahun 1962. Kemudian yang kedua, ia terpilih dalam Kongres ke-VII yang dihelat bersamaan dengan Muktamar NU di Bandung tahun 1967.


Pada periode kedua, cukup lama ia mengemban amanah sebagai Ketum, yakni dua belas tahun. Hal tersebut, seperti halnya NU dan Banom-banomnya, mengalami masa yang cukup suram pada masa orde baru.


Aru Lego Triono dalam artikel Bagaimana Kondisi Fatayat NU di Masa Orde Baru? (NU Online, 2022) menuliskan:


"Pada masa-masa ini selama kurang lebih 12 tahun, Fatayat NU mengalami masa-masa vakum. Kendati demikian, pengurusnya masih tetap ada, tetapi aktivitasnya tidak berjalan. Ketua Umum PP Fatayat NU pada masa ini adalah Malichah Agus."


Hingga akhirnya, pada tahun 1979, bersamaan dengan Muktamar NU di Semarang, Fatayat dan Muslimat menggelar Kongres. Pada momen tersebut, Malichah mengakhiri masa kepemimpinannya sebagai Ketua Fatayat NU.


4. Machfudhoh Ali Ubaid (1979-1984 dan 1984-1989)
Machfudhoh lahir pada 12 Maret 1944 di Jombang. Beliau merupakan putri pertama dari empat bersaudara, dari pasangan KH A Wahab Chasbullah dan Nyai Sa’diyah. Setelah menikah dengan KH Ali Ubaid, ia lebih dikenal dengan nama Machfudhoh Ali Ubaid.


Pendidikan awal keagaman Machfudhoh diawali di lingkungan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas yang diasuh oleh Mbah Kiai Wahab. Ia kemudian juga belajar di Sekolah Rakyat dan  Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar. Pada tahun 1958, ia melanjutkan belajar Sekolah Guru Agama di Surakarta sampai tahun 1962.


Machfudhoh terpilih sebagai Ketua Umum Fatayat NU pada Kongres ke-VIII tahun 1979. Sebelumnya ia memimpin PW Fatayat NU DKI Jakarta. Pada periode kepemimpinannya menjadi salah satu titik balik, kebangkitan kembali gerakan Fatayat NU, setelah lama vakum di masa orde baru.


Nur Khalik Ridwan dalam Ensiklopedi Khittah NU Jilid II menuliskan kondisi Fatayat NU pada saat Muktamar NU tahun 1979:


"Muktamar NU di Semarang tahun 1979, Kongres Muslimat-Fatayat digabung lagi. Perubahan terjadi di Fatayat NU. Sebagian besar pengurus PP Fatayat merasa sudah terlalu tua menjadi Fatayat. Terjadi alih generasi dari Ibu Malichah Agus ke Ibu Mahfudhoh dan dilakukan penataan organisasi. Dalam perjalanannya, hubungan Muslimat-Fatayat terjadi perubahan, tidak lagi seperti kakak dan adik, karena kemudian sama-sama menjadi Banom NU," (Nur Khalik Ridwan dalam Ensiklopedi Khittah NU Jilid II, [Yogyakarta, Diva Press: 2020], hal 157)


Perlahan namun pasti, di bawah kepemimpinan Machfudhoh selama dua periode, Fatayat kembali bangkit menjadi organisasi pemudi yang memiliki pengaruh dan struktur yang kuat hingga ke tingkat paling bawah yakni di kampung-kampung.


Salah satu program yang cukup baik pada periode Machfudhoh di antaranya Fatayat program yang disebut: Kelangsungan Hidup Anak (KHI). Program itu sebenarnya punya Muslimat, Pembinaan Karang Balita, tapi kemudian diserahkan ke Fatayat dan diformulasikan dalam bentuk kerja sama dengan UNICEF dan DEPAG dalam bentuk KHI.


Kemudian program yang tidak kalah penting, yakni terkait administrasi juga banyak dilakukan pembenahan, yang kemudian menjadi warisan yang bagus untuk kepengurusan selanjutnya.


5. Sri Mulyati Asrori (1989-1995 dan 1995-2000)
Sri Mulyati menjadi Ketua Umum PP Fatayat NU menggantikan Machfudhoh pada momen Kongres ke-X tahun 1989. Kongres diselenggarakan bersamaan dengan Muktamar ke-XXVIII NU dan Kongres ke-XII Muslimat NU di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta.


Neng Dara Affiah dalam artikel berjudul Latar Belakang Berdirinya Fatayat NU mengungkapkan pada masa kepemimpinan Sri Mulyati, tampaknya Fatayat berkeinginan kuat untuk mengembangkan diri. Dalam berbagai bidang seperti kepemudaan dan keperempuanan, Fatayat NU juga aktif dalam wadah Badan Musyawarah Organisasi Islam Wanita Indonesia (BMOIWI) dan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI).  (Maria Ulfah Anshar dkk., Menapak Jejak Fatayat NU: Sejarah Gerakan, Pengalaman dan Pemikiran, [Jakarta, PP Fatayat NU: 2005]) 


Sri Mulyati dikenal juga sebagai seorang akademisi. Wanita kelahiran tahun 1956 tersebut bahkan menjadi Guru Besar Ilmu Bidang Kajian Islam Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Selain itu, ia juga aktif di berbagai organisasi.


Hingga akhir hayatnya (m. 2023), ia tercatat sebagai Ketua I PP Muslimat NU dan juga Dewan Pembina PP Fatayat NU masa khidmat 2022–2027. Selain itu ia juga masih aktif sebagai Anggota LBM PBNU periode 2022-2027.


6. Maria Ulfa Anshor (2000-2005 dan 2005-2010)
Maria Ulfa Anshor memimpin PP Fatayat NU selama dua periode (2000-2010). Pertama, ia terpilih pada Kongres ke-XII tahun 2000 dan pada periode kedua ia terpilih pada Kongres ke-XIII yang diselenggarakan di pada 10–13 Juli 2005 di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta.


Sebelum menjadi Ketua Umum, wanita kelahiran 15 Oktober 1960 tersebut pernah menjadi Ketua IV PP Fatayat NU pada masa kepemimpinan Sri Mulyati periode kedua (1995-2000). Saat itu ia mengusulkan proyek penguatan hak-hak perempuan yang kemudian melahirkan LKP2 sebanyak 26 unit pada 26 kabupaten.


Selama kepemimpinan Maria, Fatayat berkembang pesat dengan jumlah 308 Pimpinan Cabang yang tersebar di 31 Provinsi (Fatayat NU akan Adakan Kongres pada Juni 2005, NU Online, 2005)


Maria Ulfa yang pernah menempuh pendidikan di MI Tulung Agung, Kertasemaya Indramayu, dilanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) sambil sambil nyantri di pesantren Darul Tauhid Arjawinangun, Cirebon (1975), kemudian Madrasah Aliyah di Pesantren Al Muayyad, Surakarta dan Institut Ilmu al Qur’an (IIQ) Jakarta, banyak bergelut pada bidang pendampingan perempuan.


Aktivitasnya dalam pemberdayaan perempuan juga membuatnya memperoleh gelar Women Award dari ANTV (2005). Ia juga pernah menjadi Komisioner Komnas Perempuan (2020–2024)


7. Ida Fauziyah (2010-2015)
Perempuan kelahiran 17 Juli 1969 tersebut menjadi Ketua Umum Fatayat NU hasil Kongres ke-XIV yang dihelat di Jakarta pada tahun 2010. Dalam artikel berjudul Ida Fauziyah Pimpin Fatayat NU Periode 2010-2015 (NU Online, 2015) diterangkan proses singkat terpilihnya Ida.


Pada tahap pertama terjaring beberapa nama calon antara lain Ida Fauziah (260 suara), Ummi Chusnul Khotimah (87), Ratu Dian Hatifah (22), dan Neng Dara (13). Pemilihan dilanjutkan dengan tahap kedua dengan mengikutsertakan dua calon teratas saja. Pada tahap kedua Ida lebih unggul dengan memperoleh 266 suara sedangkan Ummi hanya mendapatkan 117 suara.


Di masa kepemimpinan Ida, kepengurusan Fatayat di berbagai tingkatan menjadi semakin berkembang banyak, seiring juga dengan penambahan kabupaten atau kota yang melakukan pemekaran wilayah. Tercatat, pada saat Kongres Fatayat tahun 2015, dihadiri Pengurus Pimpinan Wilayah dari 33 provinsi, 350 pengurus cabang seluruh Indonesia dan empat Pimpinan Cabang Istimewa dari Malaysia, Hongkong, Taiwan dan Kairo.


Ida hanya menjadi Ketua Umum Fatayat NU selama satu periode. Beberapa tahun setelah demisioner, ia tercatat pernah menjadi Menteri Ketenagakerjaan RI pada masa Presiden Joko Widodo / Kabinet Indonesia Maju (2019-2024).


8. Anggia Ermarini (2015-2022)
Anggia Ermarini menjadi Ketua Umum Fatayat NU setelah terpilih secara aklamasi dalam Kongres ke-XV Fatayat NU yang diselenggarakan di Asrama Haji Sukolilo Surabaya pada September 2015. Terpilihnya Anggia menjadi ketua, mengulangi kembali terkait latar belakang ketua umum yang berasal dari tokoh politisi. Anggia dan Ida, keduanya merupakan anggota DPR RI dari PKB.


Perempuan kelahiran Sragen pada 25 September 1974 tersebut tercatat banyak aktif di berbagai organisasi. Di antaranya sebagai Sekretaris PP Lembaga Kesehatan NU (LKNU). Sebelumnya, pada masa kuliah, ia aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan dipercaya untuk mengemban amanah sebagai Ketua Korp PMII Putri Cab. Kota Malang 1996-1997 serta Ketua 1 PB Korp PMII Putri 1997-2000.


Pada periode kepemimpinannya, Fatayat NU memiliki sekitar sepuluh juta anggota yang tersebar di 34 pimpinan wilayah pada tingkat provinsi, 480 pimpinan cabang pada tingkat kabupaten/kota, pimpinan anak cabang pada tingkat kecamatan dan pimpinan ranting pada tingkat desa/kelurahan di seluruh Indonesia. (Gelar Kongres Ke-16 Fatayat NU Soroti Ketahanan Pangan hingga Stunting, NU Online, 2022)


Ia hanya memimpin Fatayat NU selama satu periode dan seperti organisasi lainnya, pada masa tersebut sempat terkendala karena Covid-19. Alhasil, periode kepengurusan yang mestinya berakhir pada tahun 2020, mesti tertunda dan baru dapat diselenggarakan dua tahun setelahnya.


9. Margaret Aliyatul Maimunah (2022-2027)
Kongres ke-XVI memilih Margaret Aliyatul Maimunah sebagai Ketua Umum Fatayat NU untuk masa khidmat 2022-2027. Perempuan kelahiran Jombang pada 11 Mei 1978 tersebut, merupakan putri kedua pasangan KH Mohammad Faruq dan Hj Lilik Chodijah Aziz Bisri.


Pendidikan dasarnya ditempuh di lingkungan pesantren. Ia nyantri di Pondok Pesantren Denanyar Jombang sejak tingkat SLTP hingga SLTA. Selepas menamatkan pendidikan di MAN Denanyar, ia melanjutkan studi S1 di IAIN Sunan Ampel Surabaya dan menempuh pendidikan pascasarjana di Universitas Indonesia pada Program Studi Kajian Wanita pada 2009.


Sejak remaja, jiwa organisasinya telah tumbuh. Ia aktif di OSIS, Pramuka, dan berbagai kegiatan pelajar. Setelah itu ia juga aktif di IPPNU dan PMII. Karier organisasinya di PP Fatayat NU yakni sebagai Wakil Koordinator Bidang Ekonomi (2009–2015) dan Sekretaris Umum (2015–2020), sebelum akhirnya dipercaya memimpin sebagai Ketua Umum PP Fatayat NU.


Sayangnya, sebelum menggenapkan masa khidmatnya sebagai Ketua Umum Fatayat NU, ia telah berpulang ke haribaan Allah Swt. Margaret yang kini berusia 47 tahun, wafat setelah menjalankan perawatan intensif di RS Fatmawati Jakarta, pada Ahad (1/3/2026) pukul 08.25 WIB.


Ketua PBNU Alissa Wahid mengenang Margaret sebagai sosok pribadi yang hampir seluruh waktunya dicurahkan untuk khidmah atau mengabdi. Ia kerap menghadiri forum kaderisasi hingga tingkat daerah, memastikan modul dan proses penguatan kepemimpinan berjalan baik, serta membangun jejaring Fatayat hingga ke luar negeri.


"Kalau ada gambaran Nahdliyah yang aktif, berprestasi, dan khidmahnya benar-benar untuk umat, salah satu contohnya adalah Mbak Margaret,” tuturnya. (Margaret Aliyatul Maimunah Waktunya Habis untuk Mengabdi kepada NU, NU Online, 2026)


Margaret juga dikenal aktif di bidang pendampingan perempuan dan anak. Komitmennya terhadap isu perempuan dan anak juga diwujudkan melalui perannya sebagai Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) periode 2017–2022 dan terpilih sebagai Ketua KPAI 2022–2027. Ia juga diketahui bergabung dengan Women Research Institute (WRI), lembaga yang fokus pada penelitian dan advokasi isu perempuan.


Demikianlah profil singkat Ketum PP Fatayat NU dari masa ke masa. Selama hampir 76 tahun (1950-2026), hanya terdapat 9 nama yang pernah menjadi Ketua Umum Fatayat NU. Setiap periode mendapatkan tantangan dan dinamika yang berbeda. Namun pada akhirnya, bagaimanapun dahsyatnya tantangan yang dihadapi, nyatanya organisasi pemudi NU ini, masih tetap eksis hingga kini.


Ajie Najmuddin, Pemerhati Sejarah NU

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang