Sepotong Kisah Perjalanan Gus Dur Bersama Kakeknya, Mbah Bisri Syansuri
NU Online · Selasa, 21 Februari 2017 | 19:00 WIB
Dalam acara itu Gus Dur menyampaikan beberapa pokok materi tentang agama, masalah kebangsaan, dan kenegaraan. Ini bisa dipandang salah satu cara Gus Dur untuk mendidik masayarakat dalam kedewasaan berpolitik.
Di akhir acara dibukalah kesempatan bagi yang mau bertanya. Ada sekirtar 4 sampai 5 penanya. Pertanyaan mereka bervariasi, ada yang bertanya tentang peningkatan taraf hidup petani, sikap sebagai seorang warga negara bahkan sampai pada masalah mengapa Gus Dur bekerja sama dengan Israel. Semua itu dijawab dengan jelas oleh Gus Dur. Beberapa hal penting diuraikan secara panjang lebar sehingga memakan waktu hampir separuh waktu tanya jawab.
Namun di sini saya tidak ingin menjelaskan semua pertanyaan dan jawaban itu sedetail-detailnya. Saya hanya akan membahas satu bagian dari wacana Gus Dur yang disampaikan waktu itu dan saya rasa cukup menarik.
Ketika menyampaikan masalah tentang bagaimana kita bersikap terhadap pemimpin, Gus Dur mengatakan bahwa bagaimanapun seorang pemimpin yang dipilih oleh rakyat itu haruslah dihormati. Bahkan ketika dianggap salah pun tetap harus dihormati sebagai seorang pemimpin rakyat.
Adalah menarik membahas cerita Gus Dur ketika itu di masa sekarang. Karena beberapa waktu terakhir ini publik diramaikan dengan masalah memilih pemimpin yang baik.
Diceritakan bahwa Gus Dur pernah diajak kakek yang sekaligus diaggap guru yang sangat berpengaruh baginya, yakni KH Bisri Syansuri untuk berkunjung (silaturrahim) kepada seorang kepala desa. Gus Dur kaget karena kepala desa yang dimaksud ternyata beragama Nasrani. Kemudian Gus Dur memberanikan dirinya untuk bertanya: “mengapakah sang guru harus mengunjungi kepala desa itu, padahal dia non-Muslim?”
Kemudian jawaban sang guru pun disampaikannya, bahwa meskipun non-Muslim tapi kita harus tetap menghormatinya. Kemudian Gus Dur lalu menyimpulkan di depan para jamaah bahwa bagaimanapun seorang pemimpin harus dihormati.
Namun demikian, saya memiliki dua kesimpulan lain di samping hal itu. Pertama: bahwa kasus kepemimpinan non-Muslim di Indonesia (yang mayoritas Islam) adalah sudah lama terjadi. Kedua bahwa para ulama terdahulu tidak mempersoalkan pemimpin non-Muslim, dan hal inilah yang teramat penting untuk kita pelajari saat ini.
Adalah bisa dibayangkan, bagaimana seorang KH Bisri Syansuri yang merupakan orang yang teguh memegang fiqih (jurisprudensi Islam) yang ketat-ketat, tapi tak mempersoalkan kepemimpinan non-Muslim di desanya. Seorang ulama besar murid dari ulama besar pula baik dari Indonesia sendiri maupun Timur Tengah. (Ahmad Nur Kholis)
Terpopuler
1
Sambangi PBNU, 23 PWNU Sampaikan Harapan Soal Muktamar ke-35 NU
2
Innalillahi, Pengurus Muslimat NU Kemayoran Wafat dalam Kecelakaan Kereta di Bekasi
3
Stasiun Bekasi Timur Ditutup Sementara, KRL Hanya Beroperasi hingga Stasiun Bekasi
4
KA Jarak Jauh Tabrak KRL di Bekasi Timur, Gerbong Perempuan Ringsek
5
Sempat Hilang, Karyawan Kompas TV Aini Meninggal Dunia dalam Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur
6
3 Orang Tewas dalam Tabrakan Kereta di Bekasi, KAI Minta Maaf Fokus Evakuasi
Terkini
Lihat Semua