Pada waktu tamu-tamu itu shalat di belakang waliyullah sebagai makmum, kekhusyukan mereka menjadi pecah. Hal itu disebabkan karena bacaan-bacaan sang imam mereka anggap kurang fasih. Sebagai waliyullah, sebenarnya sang imam tahu apa yang terjadi pada tamu-tamunya tersebut. Akan tetapi sengaja beliau hanya diam saja.
Rupanya malam itu mereka sengaja menginap di rumah sang waliyullah. Dan dalam tidur, mereka semua bermimpi sampai mengeluarkan air mani (ihtilam).
Paginya, mereka bersama-sama pergi ke sungai untuk melakukan mandi janabat. Pakaian mereka letakkan di tepi sungai. Lalu mereka terjun untuk menikmati air sungai yang segar pada pagi hari seperti itu. Baru enak-enanya mandi, tiba-tiba pandangan mereka tertumbuk pada seekor harimau yang duduk di atas tumpukan pakaian mereka.
Cukup lama mereka berendam di air sungai, menunggu perginya si harimau itu yang belum juga mau beranjak dari tempatnya. Mereka memang benar-benar ketakutan. Untung tiba-tiba dating sang waliyullah.
âKasihan, kalian. Sudah lama kalian berendam di air itu? Mungkin kalian sudah merasa kedinginan ya?â tanya sang waliyullah kepada tamu-tamunya itu.
Sehabis berkata begitu, sang waliyullah lalu mendekati si harimau seraya berkata, âHai harimau! Bukankah aku telah berpesan kepadamu, jangan kauganggu tamu-tamuku itu?â
Spontan harimau itu lari tunggang langgang. Setelah harimau itu pergi, barulah para ulama tersebut keluar dari sungai, kemudian mengenakan pakaiannya masing-masing.
âItulah sebabnya jika tuan-tuan sekalian hanya mengurusi yang lahir saja. Jadinya tuan-tuan sekalian takut pada harimau. Sedangkan saya selalu memperbaiki yang batin. Makanya harimau tadi takut kepada saya,â kata sang waliyullah itu. (Red Alhafiz K)
*) Dikutip dari Kasykul, Kumpulan Cerita Lucu, karya KH Bisri Mustafa.
Terpopuler
1
Muktamar ke-35 NU Digelar 1-5 Agustus 2026, Penentuan Tuan Rumah Gunakan Empat Kriteria
2
KH Nurul Huda Djazuli: Saya Cinta NU, Saya Tak Ingin Melihat Pengurus Bertengkar, NU dan Pesantren Harus Menguatkan
3
Seruan 13 Kiai Sepuh tentang AHWA Jelang Pembukaan Munas dan Konbes NU 2026
4
Kepada Pengurus NU, KH Nurul Huda Djazuli: Tetap Ikhlas demi Menghidupkan NU
5
Rais Aam PBNU Kembali Gunakan Bahasa Arab dalam Khutbah Iftitah Munas-Konbes NU 2026
6
Sidang Pleno II Munas-Konbes, Ketum PBNU Sebut Pelatihan Kader NU Jadi Fondasi Meritokrasi
Terkini
Lihat Semua