Koalisi Pimpinan Saudi Deklarasikan Gencatan Senjata di Yaman
NU Online · Kamis, 9 April 2020 | 16:15 WIB
Koalisi militer pimpinan Arab Saudi mendeklarasikan gencata dalam Perang Yaman selama dua pekan ke depan, dimulai hari ini, Kamis (9/4). Pihak Koalisi menyebut, durasi gencatan tersebut bisa saja diperpanjang nantinya. Langkah ini sebagai upaya untuk mencegah penyebaran virus corona (Covid-19).
“Koalisi mengumumkan gencatan senjata yang komprehensif di Yaman untuk jangka waktu dua minggu, dimulai pada hari Kamis, 9 April pukul 12.00 waktu setempat,” demikian deklarasi Koalisi, seperti diberitakan Alarabiya, Rabu (8/4).
Houthi, kelompok yang didukung Iran, yang mengontrol ibu kota Sanaa dan sebagian besar pusat kota, belum mengumumkan apakah mereka juga akan mengikuti gencatan senjata. Namun beberapa jam sebelum pengumuman gencatan senjata, Houthi merilis sebuah dokumen yang menyerukan penarikan pasukan asing dan berakhirnya blokade koalisi di darat, laut, dan pelabuhan udara Yaman.
Seperti diberitakan Reuters, Kamis (9/4), koalisi militer pimpinan Saudi mengambil langkah itu juga untuk memfasilitasi pembicaraan yang disponsori oleh Utusan Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Martin Griffiths untuk gencatan senjata permanen.
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mendesak pemerintah dan Houthi terlibat—dengan itikad baik dan tanpa prasyarat- dalam pembicaraan untuk menyetujui mekanisme gencatan senjata nasional, langkah-langkah pembangunan kepercayaan kemanusiaan dan ekonomi, serta memulai kembali negosiasi penyelesian konflik.
Konflik di Yaman adalah perang proxy antara Arab Saudi dengan Iran. Saudi mendukung pemerintah Yaman, sementara Iran berada di belakang kelompok Houthi—kelompok oposisi terhadap mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh. Houthi melakukan perlawanan karena menuduh pemerintah Yaman—yang didukung Saudi dan AS- telah melakukan korupsi besar-besaran.
Utusan Khusus PBB Martin Griffiths menyambut baik gencatan senjata yang diumumkan koalisi Saudi tersebut. Ia menyerukan pihak-pihak yang berkonflik untuk segera menghentikan semua permusuhan.
Hal yang sama juga dirasakan penduduk Yaman dan Saudi yang selama ini daerahnya dijadikan sebagai medan tempur. Mereka menyambut baik kabar gencatan senjata tersebut.
Perang Yaman yang bermula pada 2014 itu telah menyebabkan kehidupan di negeri itu kacau balau. Lebih dari seratus ribu orang meninggal dunia. Jutaan orang meninggalkan tempat tinggalnya dan mengungsi. Puluhan juta menghadapi kerawanan makanan. Dan ribuan sekolah hancur.
Pada Oktober 2018 lalu, PBB menyebut, konflik di Yaman telah menyebabkan krisis kelaparan terparah di dunia. Karena ada 18 juta orang yang tidak tahu bagaimana mendapatkan makanan.
“Saat ini Yaman tengah menghadapi krisis kelaparan terparah di dunia, di mana hampir 18 juta orang di seluruh penjuru negeri bahkan tak tahu-menahu bagaimana mereka akan mendapatkan makanan selanjutnya," kata juru bicara WFP Herve Verhoosel, seperti dilansir Anadolu Agency, Rabu (17/10/2018).
Pewarta: Muchlishon
Editor: Kendi Setiawan
Terpopuler
1
Pemerintah Tetapkan Idul Adha 1447 H Jatuh 27 Mei 2026
2
Tim Hisab Rukyat: Hilal Awal Dzulhijjah 1447 H Penuhi Kriteria MABIMS, Idul Adha Diperkirakan 27 Mei 2026
3
Hilal Terlihat, PBNU: Idul Adha 1447 H Rabu, 27 Mei 2026
4
Menhan Sebut Seluruh Kabupaten di Jawa Akan Dikawal Batalyon Teritorial pada 2026
5
Tiga Jurnalis Indonesia Bersama Aktivis Ditangkap Israel, Dewan Pers Minta Pemerintah Bertindak
6
Ambruknya Rupiah Dinilai Tekan Rakyat Kecil, DPR Soroti Harga Kebutuhan Pokok
Terkini
Lihat Semua