Kendi Setiawan
Penulis
Montreal, NU Online
Semakin besar tantangan (masyaqqah) yang dihadapi dalam beribadah, semakin besar pula peluang pahala yang didapatkan. Dalam puasa, ada tingkatan yang menunjukkan kualitas ibadahnya.
Hal itu disampaikan Direktur World Moslem Studies Center (Womester) Prof H M Noor Harisudin dalam Pengajian Syiar Montreal yang digelar di kediaman Mustasyar PCINU AS-Kanada, H Ransang W, Kamis (19/2/2026), menjelang berbuka puasa pukul 16.30ā17.30 waktu Kanada. Kegiatan tersebut dihadiri puluhan diaspora Muslim Indonesia yang tinggal di Kota Montreal dan sekitarnya.
Baca Juga
Tiga Tingkatan Puasa dan Cara Mendakinya
āKita beragama itu ada levelingnya. Ada kelasnya. Ibarat kelas, ada kelas TK, SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi. Nah, sama dengan beragama kita. Kita usahakan meningkat terus tiap tahun, termasuk dalam ibadah puasa,ā ujar Prof Haris sebagaimanaĀ dalam rilis yang diterima NU Online, Jumat (20/2/2026).
Ia menjelaskan bahwa puasa pun memiliki tingkatan. Jangan sampai puasa hanya menghasilkan lapar dan dahaga semata.
āKita ingin puasa yang dikritik oleh Rasulullah saw. Rubba shaimin laisa lahu min shiyaamihi illal juāu wal athasu. Artinya, banyak sekali orang berpuasa, namun tidak dapat apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja,"Ā ujar Prof Haris.
Karena itu, ia mendorong Muslim Kanada meningkatkan kualitas puasanya, tidak hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menjaga lisan, pendengaran, penglihatan, dan pikiran.
āKalau bisa, kita tingkatkan leveling puasa kita. Puasa tidak makan, tidak minum, tidak senggama ya. Tapi juga puasa bicara, puasa mendengar, puasa melihat, dan puasa pikiran dari hal lain yang tidak berguna dalam kehidupan,ā kata Prof Haris.
Ia juga mencontohkan puasa Siti Maryam sebagaimana disebut dalam Al-Qurāan. āInnii nadzartu lirrahmi shauma. Falan ukalimannasa yauma. Saya bernadzar pada Tuhan untuk puasa. Maka saya tidak bicara pada manusia," kata Prof Haris.
Menurutnya, puasa bicara yang dilakukan Maryam menunjukkan dimensi spiritual puasa yang lebih dalam.
Karenanya, ia mengapresiasi diaspora Muslim Kanada yang dinilainya mampu mempraktikkan ajaran Islam dengan baik di tengah berbagai keterbatasan sebagai kelompok minoritas.
Menurutnya, Muslim yang hidup sebagai minoritas di berbagai negara menghadapi tantangan berbeda dibandingkan di Indonesia, mulai dari keterbatasan fasilitas ibadah hingga regulasi yang kadang membatasi ruang gerak keagamaan. Namun, kondisi itu justru menjadi ladang pahala yang lebih besar.
āTentu effort diaspora Muslim di Kanada lebih besar untuk misalnya shalat Subuh berjamaah di masjid. Karena mereka menghadapi tantangan dengan jauhnya masjid dan musim dingin yang esktrem,āĀ kata Prof Haris.
Misi Dakwah Internasional
Pengajian tersebut turut dihadiri Wakil Rais Syuriah PCINU AS-Kanada H Sigit Afrianto; Ketua Pengajian Syiar Montreal Dudi; serta puluhan diaspora Muslim Indonesia lainnya.
Prof Haris sendiri dikenal sebagai dai internasional. Tahun ini, ia diutus oleh Womester bekerja sama dengan Lazawa Darul Hikam Indonesia untuk menjalankan misi dakwah selama 15 hari Ramadhan (17 Februariā3 Maret 2026) di Montreal, Ottawa, dan Toronto, Kanada.
Sebelumnya, ia juga berdakwah ke sejumlah negara seperti Taiwan, Malaysia, Singapura, Selandia Baru, Australia, Belanda, Jerman, Jepang, Amerika Serikat, Hong Kong, dan Turki. Melalui misi tersebut, World Moslem Studies Center berkomitmen menebarkan Islam rahmatan lil āalamin ke berbagai penjuru dunia.
Terpopuler
1
Syuriyah PBNU Harapkan Muktamar Ke-35 Digelar di Pesantren dengan Dua Kriteria
2
Khutbah Idul Adha 2026: Menguatkan Solidaritas Melalui Semangat Berbagi
3
Khutbah Jumat: Menumbuhkan Empati dan Solidaritas Sosial Melalui KurbanĀ
4
Rapat Pleno PBNU: Munas dan Konbes Digelar 20-21 Juni 2026, Lokasi Diputuskan Menyusul
5
Khutbah Idul Adha 2026: Gotong Royong dalam Pengelolaan Kurban
6
Khutbah Jumat: Meraih Pertolongan Allah dengan Membantu Sesama
Terkini
Lihat Semua