Internasional

Krisis Toilet di Gaza Ancam Kesehatan Warga, Akses Sanitasi Kian Memburuk

NU Online  Ā·  Selasa, 7 April 2026 | 17:00 WIB

Krisis Toilet di Gaza Ancam Kesehatan Warga, Akses Sanitasi Kian Memburuk

Warga Gaza di tenda-tenda pengungsian. (Foto: WAFA)

Gaza, NU Online

Warga Jalur Gaza, Palestina menghadapi krisis serius akibat kelangkaan fasilitas sanitasi, termasuk toilet dan kamar mandi, di tengah larangan masuknya perlengkapan sanitasi sejak awal perang hampir 30 bulan lalu.


DilansirĀ WAFA, situasi ini diperparah oleh gempuran militer yang merusak rumah-rumah serta menghancurkan fasilitas mandi dan toilet, tanpa mempertimbangkan aspek kesehatan dan martabat warga sipil.


Ketiadaan fasilitas sanitasi yang layak kini menjadi realitas sehari-hari. Warga terpaksa membuat toilet darurat dengan sumber daya terbatas, seperti memanfaatkan semen dan batu dari puing bangunan, wadah logam besar, hingga memodifikasi kursi menjadi tempat duduk toilet. Meski demikian, kebutuhan dasar kemanusiaan masih jauh dari terpenuhi.


Seorang warga, Ibrahim Ayesh, menyebut kondisi ini sebagai ā€œsituasi yang belum pernah terjadi sebelumnya di era modernā€, merujuk pada kelangkaan dudukan toilet yang memaksa warga menggunakan alternatif yang tidak memenuhi standar kenyamanan dan kelayakan.


Ia menjelaskan, sebelum perang harga dudukan toilet berkisar 60 shekel. Kini, harganya melonjak drastis menjadi 1.000 hingga 1.600 shekel untuk barang bekas tanpa perlengkapan, bahkan bisa mencapai lebih dari 2.200 shekel jika disertai instalasi.


Warga lainnya, Mahmoud Al-Dali, mengatakan penggunaan kamar mandi kini berlangsung dalam kondisi jauh dari standar kesehatan. Banyak keluarga, terutama yang tinggal di tenda atau bangunan rusak, terpaksa menggunakan ruang yang sama untuk mandi dan buang air, sehingga meningkatkan risiko penyakit.


Ia menambahkan, mahalnya biaya pembangunan toilet,Ā bahkan untuk versi sederhana yang bisa mencapai 300 shekel, serta keterbatasan ruang membuat banyak keluarga tidak mampu membangun fasilitas terpisah. Kondisi ini memicu penyebaran penyakit kulit, infeksi, serta gangguan pernapasan akibat bau tidak sedap.


Mohammad Abu Safi menggambarkan kehidupan di kamp pengungsian sebagai kondisi paling berat, terutama karena minimnya privasi dan sulitnya menggunakan fasilitas seadanya. Ia menceritakan pengalaman anaknya yang menemukan ular di kamar mandi darurat di kawasan Mawasi, Khan Yunis, yang membuatnya trauma.


Fasilitas tersebut umumnya hanya berupa ruang sederhana dari kayu yang ditutup kain atau tenda, dengan lantai pasir atau kerikil, tanpa kebersihan dan privasi yang memadai.


Sementara itu, Ahmed Awadallah mengungkapkan banyak keluarga harus mengantre lama untuk menggunakan satu toilet bersama yang melayani beberapa tenda. Kondisi ini semakin memperburuk penderitaan, terutama bagi perempuan.


ā€œSaya merasa sangat sedih melihat istri dan anak perempuan saya terpaksa menggunakan kamar mandi tanpa privasi karena keterbatasan yang ada,ā€ ujarnya.


Seorang tukang ledeng, Mohammad Sharab, menjelaskan krisis ini disebabkan oleh kombinasi pengungsian massal, kerusakan infrastruktur, larangan masuknya pasokan penting, serta rusaknya jaringan air dan limbah.


Warga kini banyak membangun toilet darurat dari semen, ubin, atau logam yang umumnya berbentuk jongkok. Namun, fasilitas tersebut sulit dibersihkan, tidak ramah bagi anak-anak dan orang sakit, serta menimbulkan bau karena berdekatan dengan penampungan limbah.


Dokter penyakit dalam, Mahmoud Mattar, memperingatkan dampak kesehatan serius akibat kondisi ini. Ia menyebut penggunaan ruang yang sama untuk mandi dan sanitasi, ditambah ventilasi buruk, telah memicu penyebaran diare, penyakit kulit, hingga hepatitis.


Ia juga menyoroti kurangnya privasi dan kepadatan yang membuat sebagian warga mengurangi konsumsi air dan makanan demi menghindari penggunaan toilet, yang justru membahayakan kesehatan.


Mattar menyerukan pembangunan fasilitas sanitasi yang layak di setiap permukiman, termasuk sistem pembuangan yang aman untuk mencegah penyebaran penyakit dan bau.


Senada, dokter spesialis kulit dan penyakit menular seksual, Shafiq Al-Khatib, menyebut lingkungan yang kotor dan dipenuhi serangga dapat memicu penyakit kulit, alergi, hingga gangguan pernapasan serius.


Ia menambahkan, kontaminasi makanan dan air oleh serangga pembawa penyakit berpotensi menyebabkan gangguan pencernaan seperti diare, tifus, dan disentri, yang sulit ditangani di tengah keterbatasan fasilitas kesehatan.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang