Internasional

Muslimat NU Jepang Kupas Fikih Halal, Frozen Food hingga Kesehatan Pekerja Migran

NU Online  ·  Rabu, 17 Juni 2026 | 07:00 WIB

Muslimat NU Jepang Kupas Fikih Halal, Frozen Food hingga Kesehatan Pekerja Migran

Pertemuan Muslimat NU Jepang ddi Masjid NU At-Taqwa, Koga, Prefektur Ibaraki Ahad (14/6/2026). (Foto: Muslimat NU Jepang)

Ibaraki, NU Online

Pengurus Cabang Istimewa (PCI) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Jepang menggandeng para akademisi dan pakar gizi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta untuk membekali para Pekerja Migran Indonesia (PMI). Kolaborasi ini berfokus pada penguatan spiritualitas dan kesehatan fisik hadapi tantangan hidup di negeri minoritas Muslim.


Edukasi dikemas dalam Pertemuan Syahriah Muslimat Ke-39 dengan tema Hidup Sehat, Berkah, dan Bahagia di Negeri Sakura. Kegiatan dipusatkan di Masjid NU At-Taqwa, Koga, Prefektur Ibaraki, Jepang, serta disiarkan secara hybrid melalui platform Zoom, Ahad (14/6/2026).


Ketua PCI Muslimat NU Jepang, Ade Nur Syamsiyah mengungkapkan bahwa pemahaman fikih praktis serta menjaga kesehatan fisik merupakan modal utama jemaah di perantauan. Hal ini penting agar para pekerja migran dapat bekerja sekaligus berkhidmah dengan tenang.


"Melalui sinergi bersama FK-KMK UGM ini, kami berharap jemaah dapat menyerap ilmu kesehatan dan fikih kontemporer untuk kemaslahatan hidup sehari-hari di Jepang," tutur Ade Nur Syamsiyah.


Korelasi Pangan Halal dan Kesehatan Mental

Narasumber pertama, Fatma Zuhrotul Nisa menjelaskan keterkaitan erat antara konsumsi pangan halal dengan kesehatan mental. Mengutip ayat al-Qur'an, ia menegaskan bahwa perintah mengonsumsi makanan halal dan thayyib (baik) bersifat mutlak bagi seluruh manusia.


Fatma mengingatkan jamaah mengenai titik kritis kontaminasi silang (cross-contamination) pada alat masak di Jepang. Menurutnya, banyak Muslim menganggap makanannya aman hanya karena tidak memilih menu babi, tanpa memeriksa higienitas alat dapur yang rawan bercampur di restoran atau tempat kerja.


"Sifat wara’ atau kehati-hatian memilih makanan itu sangat penting karena makanan haram dapat menghalangi dikabulkannya doa," jelasnya.

 

Ketika problem hidup di perantauan menumpuk namun doa terhalang oleh makanan yang tidak halal, kondisi psikologis tersebut rawan memicu stres berkepanjangan hingga mengganggu kesehatan mental pekerja.


Dampak Frozen Food dan Ancaman Anemia Pekerja

Pada sesi berikutnya, Lily Arsanti Lestari  mengupas materi mengenai Frozen Food bagi Kesehatan. Mengingat ritme kerja di Jepang yang cepat, konsumsi makanan beku kerap menjadi pilihan praktis bagi para pekerja migran.


Prof Lily memberikan panduan memilih dan mengolah frozen food yang aman agar kandungan gizinya tidak rusak dan tetap membawa maslahat bagi tubuh.



Sementara itu, Prof Siti Helmyati menyoroti tingginya risiko anemia atau kurang darah yang mengintai para pekerja migran Indonesia di Jepang. Kondisi ini kontras dengan warga lokal Jepang yang mayoritas memiliki pola makan sangat seimbang.


Menurut Prof Siti, sebagian besar pekerja migran masih mempertahankan pola makan tinggi karbohidrat tetapi rendah protein dan sayur. Risiko ini kian meningkat bagi mereka yang bekerja dengan sistem sif (shift) malam.


"Demi mengejar stamina saat bekerja malam, banyak yang mengkonsumsi kopi secara berlebihan. Padahal kafein dalam kopi menghambat penyerapan zat besi, sehingga tubuh menjadi cepat lemas, lesu, dan tidak produktif," terang Prof Siti.


Khidmat Amaliyah dan Apresiasi Organisas

Rangkaian acara yang dipandu oleh Sahabat Zulmayenti selaku MC ini diawali dengan kegiatan pra-acara berupa shalat Dzuhur berjamaah dan makan bersama untuk merekatkan tali silaturahim antar jamaah. Acara dilanjutkan dengan sambutan hangat dari Koordinator Syahriah Muslimat sekaligus Wakil Ketua PCI Muslimat NU Jepang, Ibu Bonita Hyang Paramita


Sebelum memasuki sesi kajian yang dimoderatori oleh Anggi Melani, jamaah melantunkan Nadzam Asmaul Husna serta pembacaan Shalawat Jibril, Shalawat Nariyah, dan Shalawat Syifa yang masing-masing dibaca sebanyak tiga kali secara khidmat.


​​​​​​​Sebagai penghormatan dan apresiasi atas ilmu yang dibagikan, Ketua PCI Muslimat NU Jepang Ade Nur Syamsiyah menyerahkan piagam penghargaan secara langsung kepada ketiga pembicara dari FK-KMK UGM tersebut.


​​​​​​​Acara syahriah ke-39 ini kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh  Fatma Zuhrotul Nisa', dilanjutkan dengan sesi bersalam-salaman, foto bersama, serta pelaksanaan shalat Ashar berjamaah sebelum kembali ke kediaman masing-masing. Jemaah direncanakan akan kembali berkumpul pada Pertemuan Syahriah ke-40 pada Ahad (5/7/2026) mendatang.

 

Kontributor: Muhammad Riza Diponegoro 
 

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang