Napak Tilas Gua Hira: Pengasingan Diri, Ketauhidan, dan Wahyu Pertama
NU Online · Sabtu, 20 Juni 2026 | 08:00 WIB
Abdullah Alawi
Penulis
Makkah, NU Online
Seluruh jamaah haji, telinga kiri dan kanannya sudah dijejali informasi bahwa ibadah yang akan mereka laksanakan 90 persennya mengandalkan kekuatan fisik. Karena itulah, persiapan fisik mereka lakukan berbulan-bulan sebelum berangkat haji. Jadi, berjalan kaki sejauh 1,6 kilometer bagi mereka bukanlah suatu hal yang mengagetkan.
Namun, lain lagi ceritanya jika jarak 1,6 kilometer itu ditempuh dengan mendaki Jabal Nur, ditambah 1,6 kilometer lagi untuk rute turun. Meskipun bukan wajib, apalagi rukun haji, jamaah haji Indonesia tak sedikit yang tetap berupaya mendaki bukit tersebut. Mereka rela menempuh jalanan menanjak dan berliku di punggung bebukitan yang curam. Padahal bagi yang memiliki trauma ketinggian, jika pada jarak tertentu mereka berbalik melihat ke bawah, lutut akan terasa gemetar dan telapak tangan tiba-tiba langsung berkeringat.
Dua Pilihan Jalur Menuju Puncak
Sekira 70 persen jarak tempuh pendakian menyediakan dua jalan yang berdampingan, sementara sisanya hanya menyisakan satu akses tunggal yaitu tangga batu.Pilihan pertama adalah jalan yang bisa dilalui kendaraan dan pilihan kedua berupa tangga batu dengan pagar besi di sisi kiri dan kanannya.
Para pendaki bisa memilih salah satu. Jika ingin tanjakan terasa agak landai, mereka bisa mengikuti jalur kendaraan yang berpasir, tetapi dengan risiko jarak tempuh yang lebih jauh. Sementara jika menempuh jalur tangga, waktu tempuh memang lebih cepat, tetapi dengan tantangan tanjakan yang jauh lebih curam.
Baca Juga
Tiga Setengah Jam di Masjid Nabawi
Pada Kamis sore (18/06/2026), Media Center Haji 2026 menyaksikan rata-rata para pendaki ke Gua Hira lebih memilih menggunakan jalur tangga. Begitu juga dengan mereka yang sedang menuruni bukit. Namun, tidak sedikit pula yang terlihat memilih mengikuti rute kendaraan yang lebih landai.
Dari sisi umur, rata-rata para pendaki didominasi oleh anak-anak muda, baik laki-laki maupun perempuan. Banyak pula ditemui mereka yang berumur 40 tahunan, dan tak jarang yang sudah berusia 50 tahunan. Namun, pemandangan menakjubkan terlihat saat mendapati para pendaki yang telah berusia 60 tahun, bahkan hingga 70 tahunan.
Salah satunya adalah jamaah asal Aceh Tamiang (Kloter 13 Aceh / BTJ 13) yang telah berusia 70 tahun lebih. Jamaah lansia dari Aceh tersebut mengaku membutuhkan waktu sekitar 3 jam untuk bisa mendaki sampai ke atas.
"Orang tak ada yang diburu (waktu). Kalau naik 3 jam, pulang 4 jam tak masalah," ujar kakek yang tak mau menyebutkan namanya seraya duduk di sudut tangga batu.
Dia menghabiskan waktu 3 jam untuk sampai ke Jabal Nuur karena mengikuti rute kendaraan yang lebih landai, lebih sering berhenti atau jalan sambil merayap.
"(Pandangan) mata sudah berkurang, kesandung-sandung. Mengikuti rute jalan mobil..." ceritanya. Ia juga menambahkan trik khususnya selama mendaki, "Tak berani minum banyak karena takut ingin buang air kecil dan bawa kurma juga."
Saat ditanya mengapa di usia senja ia tetap bersikeras hendak ke Gua Hira, ia menjawab dengan mantap, ”Ini salah satu jejak Rasulullah.”
Dia berkisah bahwa sebetulnya punya dua kesempatan pada belasan tahun lalu, yaitu saat melaksanakan umrah bersama ayahnya pada tahun 2012 dan bersama istrinya pada tahun 2019. Namun, di dua kali umrah tersebut, niatnya untuk ke Gua Hira selalu tidak terlaksana. Waktu itu, pihak travel hanya menunjukkan letak gua dari bawah saja tanpa mengajak naik.
Sekarang, kata dia, perjalanan ini adalah ibadah haji pertamany. Karena menyadari mungkin tidak akan ada banyak kesempatan lagi untuk kembali ke Jabal Nur dan mungkin ini terakhir kalinya, ia berupaya ke Gua Hira meskipun seorang diri.
"Jejak Rasul ada di sini. Malam Jumat juga. Rasanya begitu, karena Nabi pernah ke sini," katanya seraya mengaku, mulai mendaki sejak sekitar pukul 17.21.
Ragam Dinamika di Punggung Bukit Batu
Angin gunung batu sore itu berembus kering menerbangkan debu-debu di jalanan berpasir, menyergap langsung wajah para pendaki. Dari arah atas ke bawah, tampak aliran pendaki berkelompok dari berbagai negara yang saling berpapasan. Mereka yang berjalan turun melangkah dengan kaki yang menahan rem, lutut yang mungkin bergetar, tetapi dengan pancaran wajah yang sangat lega.
Sementara mereka yang sedang naik bergerak dengan sangat lambat, hampir merayap, dan sesekali memegang lutut atau menyandarkan diri ke pagar besi. Ritme pendakian melambat drastis seiring sudut kemiringan jalan yang semakin menanjak tajam. Bahkan, ada jamaah yang bergerak sambil merayap dan mencengkeram erat pagar besi pembatas sebesar pergelangan tangan orang dewasa. Lelehan keringat bercucuran deras dari pelipis, membasahi dahi, dan merembes ke pakaian mereka.
Di beberapa kelokan jalan yang agak landai, beberapa pria berwajah Asia Selatan berdiri sambil berteriak menawarkan botol-botol air mineral dan pernak-pernik dagangannya. Di belokan selanjutnya, beberapa orang berwajah Asia Selatan lainnya tampak mencegat seorang pendaki, menghiasi kepalanya dengan serban Arab, kemudian salah seorang dari mereka langsung memotretnya.
Baca Juga
Gelar Haji dan Paradoks Keadilan Sosial
”Sepuluh reyal, sepuluh reyal,” kata mereka. Ternyata, apa yang dilakukan sekelompok orang tersebut adalah taktik untuk meminta imbalan jasa foto langsung jadi.
Seorang petugas di lokasi mengatakan bahwa setiap hari ada ribuan orang yang mendaki Jabal Nur, baik laki-laki maupun perempuan. Bahkan anak-anak kecil pun banyak yang diajak serta oleh orang tua mereka.
Kondisi jalur pendakian saat ini dirasa sudah jauh lebih baik dan aman bagi para peziarah. Raihan Arfa Agasta, seorang jamaah berusia 22 tahun dari Embarkasi Yogyakarta (YIA) Kloter 26, membagikan pengalamannya selama mendaki.
“Jalanan ke arah Gua Hira cukup baik ya, kita lihat ya ada juga, fasilitasnya ini bagus, sudah dicor semua dan tangganya cukup baik, tidak terlalu tajam dan itu membuat para pengunjung dapat menikmati wisata napak tilas Nabi Muhammad,” katanya.
Bagi Raihan, perjalanan ini sebagai napak tilas. “Kita sebagai umat Nabi Muhammad, kita ingin mengikuti jejak beliau. Jadi, dengan naik ke Gua Hira ini bisa merasakan bagaimana beratnya dulu Nabi Muhammad menerima wahyu pertamanya,” tutur jamaah muda tersebut.
Pelajaran Terbesar: Ketauhidan dan Al-Qur’an
Umer Farooq, seorang petugas dengan rompi bertuuliskan Hisn Association for Serving Pilgrims, Umrah Performers, and Visitors (Jam'iyat Hisn) is a specialized, non-profit civil society organization based in Makkah, mengatakan, pelajaran paling berharga yang dapat diambil dari perjalanan fisik ke Gua Hira adalah tentang ketauhidan.
“Pelajaran terbesar dari Gua Hira adalah tentang monoteisme. Nabi Allah (saw) biasa datang ke sini ketika berhala-berhala ditempatkan di dalam Ka'bah dan orang-orang menyembah berhala,” katanya. “Pelajaran dari Gua Hira adalah tentang monoteisme. Nabi Allah (saw) tidak menyukai berhala-berhala yang disembah, jadi beliau biasa datang ke sini."
Umer yang mengaku sudah 10 tahun bertugas di situs suci tersebut mengingatkan sebuah fakta sejarah besar bahwa lima ayat pertama Al-Quran diturunkan di tempat ini. Setelah peristiwa turunnya wahyu pertama itu, Nabi Allah (saw) tidak pernah datang ke Gua Hira lagi.
Melalui fakta sejarah tersebut, Umer memberikan sebuah pesan yang mendalam bagi para peziarah jamaah haji. “Jadi kita harus berpikir bahwa kita memberikan waktu dua hingga tiga jam untuk Gua Hira, tetapi berapa banyak waktu yang Anda berikan untuk Al-Quran yang Anda miliki? Inilah hal-hal yang perlu dipelajari,” tegasnya.
Selain itu, ia juga mengimbau agar jamaah tidak perlu melakukan ritual shalat khusus di dalam Gua Hira, karena Nabi Muhammad dan para sahabat pun tidak pernah mencontohkannya. Ketika sampai di Gua Hira, jamaah hanya perlu meluruskan niatnya dengan benar.
“Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam tidak menyebutkan salat-salat di atas, seperti salat dua rakaat Masjid Quba, salat dua rakaat Maqam Ibrahim, dan lain-lain; gua seperti itu tidak memiliki salat tersendiri.”
Tahannuts dan Wahyu Pertama
Gua Hira terkait dengan fondasi spiritual Nabi Muuhamamd sejak masa muda yang sering mengasingkan diri dari keramaian merupakan bagian dari tradisi kaum Quraisy. Muhammad Husain Haekal dalam Sejarah Hidup Nabi Muhammad SAW (hlm. 110) dan Philip K. Hitti pada History of the Arabs (hlm. 133) golongan berpikir di kalangan Quraisy sering berkhalwat dan berdoa, yang disebut dengan istilah tahannuf atau tahannuth.
Baca Juga
Hikmah Uzlah Rasulullah saw di Gua Hira
Sejak sebelum datangnya masa kenabian, Nabi Muhammad memang sering mengasingkan diri ke Gua Hira, terutama sepanjang bulan suci Ramadhan. Karena berhari-hari tidak pulang, istrinya, Khadijah mengantarkan makanan ke Gua Hira.
”Di kalangan masyarakatnya dialah orang yang paling banyak berpikir dan merenung. Jiwa yang kuat dan berbakat ini, jiwa yang sudah mempunyai persiapan kelak akan menyampaikan risalah Tuhan kepada umat manusia, serta mengantarkannya kepada kehidupan rohani yang hakiki, jiwa demikian tidak mungkin berdiam diri saja melihat manusia yang sudah hanyut ke dalam lembah kesesatan,” tulis Haekal (hlm. 110).
Setelah beberapa Ramadhan melakukan bertahanuts di Gua Hira, Nabi Muhammad menerima wahyu pertama, Q.S. Al-’Alaq 1-5, pada tahun 610 M saat dia tepat berusia 40 tahun (Philip K. Hitti, hlm. 112). (MCH 2026/Abdullah Alawi)
Terpopuler
1
PWNU dan PCNU Se-Yogyakarta dan Jawa Tengah Tolak Pembatasan Ahwa hingga Perubahan Kedudukan Rais Aam
2
Khutbah Jumat: Tahun Baru Hijriah, Momentum Upgrade Diri Menuju Muslim yang Lebih Baik
3
Khutbah Jumat: Spirit Muharram untuk Menghadapi Era Modern
4
Usulan LF PBNU Atasi Perbedaan Awal Bulan Hijriah di Tengah Kesepakatan Imkanur Rukyah
5
Khutbah Jumat Bahasa Jawa: Nguri-uri Kamulyaning Wulan Muharram
6
Khutbah Jumat: Pesan Rasulullah, Jangan Mencari-cari Kesalahan Orang Lain
Terkini
Lihat Semua