Sambutan Wukuf, Menhaj Sebut Haji 2026 Momentum Transformasi Penyelenggaraan Haji
NU Online · Selasa, 26 Mei 2026 | 21:00 WIB
Suci Amaliyah
Kontributor
Makkah, NU Online
Momentum wukuf di Arafah tahun ini bukan hanya menjadi puncak spiritual ibadah haji, tetapi juga panggung penegasan transformasi besar penyelenggaraan haji Indonesia.
Menteri Haji dan Umrah RI Irfan Yusuf menegaskan bahwa Haji 1447 Hijriyah menjadi tonggak sejarah baru karena untuk pertama kalinya penyelenggaraan haji dilaksanakan dalam kerangka Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia.
“Momen ini harus menjadi bukti bahwa negara hadir lebih fokus, lebih terarah, dan lebih dekat kepada jamaah,” ujar Menteri dalam keterangannya, Selasa (26/5).
Data operasional mencatat sebanyak 527 kloter dengan total 202.551 jemaah haji reguler dan 2.098 petugas telah tiba di Makkah. Selain itu, 16.596 jamaah haji khusus juga telah berada di Arab Saudi.
"Saat ini, seluruh layanan dipusatkan untuk kesiapan fase Armuzna yang meliputi Arafah, Muzdalifah, dan Mina," jelasnya.
Dalam sambutannya, Menteri juga menegaskan konsep Tri Sukses Haji sebagai arah besar penyelenggaraan haji Indonesia.
“Sukses ritual berarti ibadah jemaah sah, tertib, dan khusyuk. Sukses ekosistem ekonomi haji berarti penyelenggaraan haji memberi manfaat bagi bangsa. Dan sukses keadaban dan peradaban berarti haji melahirkan pribadi yang lebih sabar, disiplin, santun, dan membawa atsar kebaikan bagi Indonesia,” ujarnya.
Salah satu kebijakan yang disorot adalah penerapan skema murur dan tanazul bagi jamaah lansia, risiko tinggi, serta penyandang komorbid. Menurut Gus Irfan, kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga keselamatan sekaligus keabsahan ibadah.
“Skema ini mengurangi kepadatan, menekan kelelahan, dan tetap menjaga rangkaian manasik sesuai bimbingan petugas,” katanya.
Ia juga menegaskan komitmen pemerintah menghadirkan layanan haji inklusif bagi lansia, disabilitas, dan perempuan.
“Setiap jemaah harus merasa dilindungi. Setiap keterbatasan harus mendapat dukungan. Setiap petugas harus hadir dengan empati, sigap, dan memahami kebutuhan khusus jamaah,” tuturnya.
Di sisi layanan, pemerintah menyiapkan 15 porsi makanan siap santap bercita rasa Nusantara selama fase Armuzna. Distribusi konsumsi dilakukan sejak 6 Dzulhijjah agar jamaah lebih fokus menjalankan ibadah.
Tak hanya itu, digitalisasi layanan juga diperkuat melalui Command Center dan aplikasi Kawal Haji guna mempercepat pengawasan dan respons petugas berbasis data.
Dalam tata kelola dam, tercatat sekitar 145.341 jemaah telah membayar dam, dengan sebagian besar daging hasil dam diarahkan untuk membantu masyarakat Palestina melalui koordinasi dengan Adahi dan Pemerintah Arab Saudi.
Menutup sambutannya, Menteri mengajak jamaah memanfaatkan waktu wukuf untuk memperbanyak doa, istighfar, dan muhasabah.
“Arafah adalah ruang muhasabah. Karena itu, sisa waktu wukuf harus diisi dengan doa, istighfar, zikir, dan kepatuhan kepada arahan petugas,” pungkasnya.
Terpopuler
1
Khutbah Idul Adha 1447 H: Kurban dan Indahnya Berbagi untuk Sesama
2
Qadha Puasa Ramadhan di Hari Tarwiyah dan Arafah, Tetap Dapat Pahala Puasa Sunnah?
3
Lafal Niat Puasa Tarwiyah Malam Ini dan Keutamaan Melaksanakannya
4
Sumatra Blackout: Dari Aceh hingga Lampung, Aktivitas Warga Lumpuh
5
NU Care LAZISNU Perkuat Program Ekonomi UMKM di Pringsewu Lampung
6
Alih Fungsi Lahan hingga Konflik Agraria Membayangi 10 Tahun Perjanjian Paris di Pulau Jawa
Terkini
Lihat Semua