Jateng

Bukan Rebutan Jabatan, Rais Syuriyah PWNU Jateng Tegaskan Muktamar NU Harus Fokus pada Program

NU Online  ·  Senin, 1 Juni 2026 | 19:00 WIB

Bukan Rebutan Jabatan, Rais Syuriyah PWNU Jateng Tegaskan Muktamar NU Harus Fokus pada Program

Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, KH Ubaidullah Shodaqoh (Foto: Rauyan)

Semarang, NU Online Jateng

Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, KH Ubaidullah Shodaqoh, mengingatkan seluruh kader Nahdlatul Ulama agar meluruskan niat menjelang pelaksanaan Muktamar NU. Menurutnya, forum permusyawaratan tertinggi dalam organisasi tersebut harus menjadi ruang untuk merumuskan program strategis bagi masa depan jam’iyah, bukan semata-mata ajang perebutan jabatan.


Hal itu disampaikan kiai yang akrab disapa Mbah Bed tersebut sebagaimana dikutip NU Online Jateng dari kanal YouTube TVNU, Ahad (31/5/2026).


"Kita datang ke Muktamar itu untuk membahas program-program yang akan kita laksanakan. Memang penting siapa pemimpin yang akan datang, namun itu bukan tujuan utama," tegas Kiai Ubaid.


Menurutnya, pembahasan program dan arah gerak organisasi harus menjadi fokus utama dalam setiap pelaksanaan Muktamar. Pemilihan pemimpin memang penting, tetapi tidak boleh menggeser tujuan besar organisasi dalam memberikan kemaslahatan bagi umat dan bangsa.


Selain itu, Mbah Ubaid juga mengingatkan warga NU agar tidak terjebak dalam praktik-praktik yang bertentangan dengan nilai-nilai organisasi, terutama dalam proses pencalonan dan pemilihan kepemimpinan.


Ia menyoroti munculnya kampanye hitam (black campaign), pembunuhan karakter, hingga praktik suap (risywah) yang dinilai dapat merusak marwah Nahdlatul Ulama.


"Kalau NU sudah kena penyakit ini, ya tidak bisa diharapkan. Jangan merespon kandidat yang berusaha menjadi pengurus dengan cara-cara yang tidak NU," imbuhnya.


Lebih lanjut, Ia menekankan pentingnya menjaga tradisi dan etika organisasi yang selama ini menjadi ciri khas NU. Menurutnya, proses pemilihan pemimpin harus berjalan secara sehat, bermartabat, dan tetap berlandaskan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.


Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyoroti pentingnya kemandirian finansial organisasi, termasuk dalam penyelenggaraan Muktamar. Ia berharap Muktamar NU dapat kembali menjadi "Gawenya Nahdliyin", yakni kegiatan yang didukung dan dibiayai oleh warga NU melalui semangat gotong royong.


Mbah Ubaid mengenang pelaksanaan Muktamar NU di Semarang yang menurutnya menjadi contoh kuatnya partisipasi warga dalam mendukung kegiatan organisasi.


"Saya ingat ketika Muktamar di Semarang, kelapa menumpuk, beras berkarung-karung. Itu sangat membanggakan sekali. Biaya Muktamar akan murah kalau ada yang nyumbang sapi atau beras sebagaimana para kiai sepuh kita dulu," tuturnya.


Selengkapnya klik di sini.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang