Nganjuk, NU Online Jatim
Pengurus Cabang (PC) Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) Nganjuk menilai bahwa mitigasi bencana merupakan tanggung jawab bersama.
PC LPBINU Nganjuk juga mengimbau seluruh pengurus dan relawan di setiap tingkatan untuk siaga dalam menghadapi potensi bencana alam. Hal itu disebabkan tingginya curah hujan dalam beberapa minggu terakhir.
āBerdasarkan hasil koordinasi kami dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nganjuk akan membentuk satgas tanggap bencana di desa-desa terutama yang rawan bencana,ā tutur Ketua LPBINU Nganjuk, H Subhan kepada NU Online Jatim, Kamis (03/11/2022).
Subhan menuturkan, pihaknya telah melakukan pemetaan dan mencatat daerah-daerah rawan bencana di Kabupaten Nganjuk, baik banjir, longsor maupun angin puting beliung.
Ia menegaskan bahwa LPBINU Nganjuk harus belajar dari berbagai pengalaman. āMitigasi bencana adalah tanggungajawab kita bersama. Oleh karena itu, saya selalu mengatakan terlebih kepada para pengurus dan relawan untuk tidak gagap saat menghadapi potensi bencana, mengingat berbagai pelatihanĀ rescueĀ telah diikuti,ā sambungnya.
Tahapan mitigasi bencana
Diektur LPBINU Nganjuk, M Sofatul Anam mengatakan, prosedur dan tahapan untuk mengurangi resiko serta dampak dari bencana atau yang biasa disebut dengan mitigasi perlu dilakukan. Hal itu mengingat setiap bencana alam memiliki sejumlah resiko yang tak terhindarkan.
Adapun program mitigasi bencana LPBINU Nganjuk di antaranya dengan memetakan wilayah rawan bencana, melakukan reboisasi atau penghijauan hutan di dataran tinggi, serta memberikan edukasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terutama yang tinggal di daerah rawan bencana.
āSebelum melangkah kami membuat perencanaan terlebih dahulu berdasarkan pengalaman yang pernah terjadi dan kemungkinan adanya bencana lain. Tujuannya adalah meminimalkan resiko korban jiwa dan sarana pelayanan umum,ā jelas Anam.
Langkah mitigasi berikutnya adalah respons, yakni upaya mengurangi resiko bahaya yang diakibatkan bencana. Tahapan ini dilakukan sesaat setelah terjadi bencana dengan fokus pada upaya pertolongan korban jiwa dan antisipasi kerusakan yang terjadi.
Hal yang tak kalah penting, lanjut alumnus Institut Agama Islam (IAI) Pangeran Diponegoro Nganjuk itu, dari upaya mitigasi adalah pemulihan. Langkah tersebut perlu diambil setelah bencana terjadi guna mengembalikan kondisi masyarakat seperti sedia kala.
āBerdasarkan waktunya, tahapan kegiataan mitigasi bencana dibagi empat yaitu sebelum bencana terjadi, saat bencana terjadi, kegiatan tepat setelah bencana terjadi dan pasca bencana yang meliputi pemulihan, penyembuhan, perbaikan, dan rehabilitasi,ā pungkasnya.
Terpopuler
1
Syuriyah PBNU Harapkan Muktamar Ke-35 Digelar di Pesantren dengan Dua Kriteria
2
Khutbah Idul Adha 2026: Menguatkan Solidaritas Melalui Semangat Berbagi
3
Khutbah Idul Adha 2026: Gotong Royong dalam Pengelolaan Kurban
4
Khutbah Jumat: Menumbuhkan Empati dan Solidaritas Sosial Melalui KurbanĀ
5
Rapat Pleno PBNU: Munas dan Konbes Digelar 20-21 Juni 2026, Lokasi Diputuskan Menyusul
6
Khutbah Jumat: Meraih Pertolongan Allah dengan Membantu Sesama
Terkini
Lihat Semua