3 Langkah Awal Dampingi Anak saat Terpapar Gangguan Mental
NU Online · Selasa, 5 November 2024 | 13:00 WIB
Psikolog Klinis, Bianglala Andriadewi saat mengisi acara diskusi tentang kesehatan mental di Pondok Pesantren Al Ishlah Semarang, Jawa Tengah pada 11 Juni 2024. (Foto: instagram/@bianglalaa)
Mufidah Adzkia
Kontributor
Jakarta, NU Online
Psikolog Klinis, Bianglala Andriadewi, menjelaskan 3 langkah untuk mendampingi anak setelah terjadi bencana mental yaitu Look (lihat dan perhatikan), Listen (dengarkan), dan Link (hubungkan) yang merupakan bagian dari Psychological First Aid (PFA) atau bantuan pertama psikologis.
“3L ini merupakan Look, Listen, and Link yang merupakan bagian dari Psychological First Aid dan sebetulnya tidak hanya diberikan kepada anak tapi juga bisa diberikan kepada orang dewasa,” jelas Bianglala melansir dari Youtube NU Online.
Mbak Lala, sapaan karibnya, menjelaskan langkah pertama yaitu Look yang dapat dilakukan dengan memperhatikan tanda-tanda stres pada anak-anak seperti ekspresi wajah, kemudian bahasa tubuhnya dan ada perubahan yang signifikan pada perilakunya.
Baca Juga
Doa untuk Kesehatan Mental
“Selain tanda-tanda stres, perhatikan juga lingkungan sekitarnya, Apakah lingkungannya cukup aman dan nyaman berarti sana,” terangnya.
Dia menjelaskan langkah kedua Listen yaitu dengan memvalidasi perasaan lewat mendengarkan apa disampaikan dan diceritakan oleh anak.
“Jangan menyela, jangan menyalahkan dia (anak) berikan tempat yang aman, ruang yang aman dan validasi apa yang dia rasakan. Contohnya, iya tahu ini pasti menakutkan buat kamu, tapi tenang ya kakak di sini buat kamu,” ungkapnya.
Link, langkah ketiga yang perlu dilakukan adalah menghubungkan kita dengan ahli yang memahami situasi yang tidak bisa kita atasi sendiri misalnya menghubungi dokter jika ada luka fisik yang terjadi dan Psikolog jika ada luka traumatis.
“Yang ketiga Link, ada hal-hal atau situasi yang gak bisa diatasi oleh orang awam seperti kita. Maka dari itu kita perlu tahu banget nih kemana kita harus menghubungkan ketika sang anak nampak kesakitan atau luka yang sangat parah berarti kita menghubungkannya ke dokter,” jelasnya.
Menurutnya, ketika anak nampak mengalami trauma yang berat maka orang tua harus menghubungkan dia ke psikolog dan lain sebagainya.
"Maka dari itu sebagai orang dewasa yang mendampingi sang anak kita perlu tahu betul semua informasi tentang anak agar kita bisa memberikan informasi tersebut kepada tenaga profesional,” tandas Mbak Lala.
Terpopuler
1
Muktamar ke-35 NU Digelar 1-5 Agustus 2026, Penentuan Tuan Rumah Gunakan Empat Kriteria
2
KH Nurul Huda Djazuli: Saya Cinta NU, Saya Tak Ingin Melihat Pengurus Bertengkar, NU dan Pesantren Harus Menguatkan
3
Seruan 13 Kiai Sepuh tentang AHWA Jelang Pembukaan Munas dan Konbes NU 2026
4
Rais Aam PBNU Kembali Gunakan Bahasa Arab dalam Khutbah Iftitah Munas-Konbes NU 2026
5
Ketum PBNU: Barokah Kiai Sepuh, Munas dan Konbes NU di Ploso Berjalan Sukses
6
Sidang Pleno II Munas-Konbes, Ketum PBNU Sebut Pelatihan Kader NU Jadi Fondasi Meritokrasi
Terkini
Lihat Semua