198 Pesantren Diduga Terafiliasi Teroris, KH Cholil Nafis Minta BNPT Ungkap Data ke Publik
NU Online · Senin, 31 Januari 2022 | 16:30 WIB
Nuriel Shiami Indiraphasa
Kontributor
Jakarta, NU Online
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mendeteksi 198 pesantren yang diduga berafiliasi dengan jaringan teroris. Terkait temuan itu, Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Muhammad Cholil Nafis meminta BNPT mengungkap data ratusan pondok pesantren tersebut.
“Baiknya BNPT menjelaskan semua itu ke publik,” kata Kiai Cholil saat dihubungi NU Online, Senin (31/1/2022).
Hal ini, sambung Kiai Cholil, untuk menghindari munculnya stigma negatif dari masyarakat terhadap pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan.
Pasalnya, laporan yang disampaikan oleh Kepala BNPT Komjen Pol Boy Rafli Amar dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi III DPR RI, Selasa (25/1/2022) lalu itu tidak merinci lokasi dan titik dari ratusan pesantren tersebut. Hal ini lantaran dianggap sebagai data intelijen yang bukan untuk konsumsi publik.
“Terlanjur menyebar ke masyarakat. BNPT sebaiknya sampaikan saja bahwa itu kepentingannya untuk koordinasi dengan pihak terkait,” paparnya.
Selain itu, lanjutnya, BNPT seharusnya juga menjelaskan kepada masyarakat terkait kriteria, teori, dan metode penelitian yang digunakan. Hal ini supaya informasi yang disampaikan terkait temuan data tersebut lebih utuh dan tidak menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
“Begitu juga metode dan teori penelitiannya. Ini untuk mencegah adanya praduga buruk pada pesantren. Masyarakat juga merasa tak terusik nantinya pesantren mana yang termasuk, juga seperti apa kriteria pesantren yang berafiliasi ke teroris,” urainya.
Ketua Mejelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Bidang Dakwah dan Ukhuwah itu mengatakan kebijakan BNPT yang tidak merinci data sejumlah pesantren tersebut tidak seharusnya dilakukan. Ia menilai, BNPT harus bisa lebih berhati-hati menyampaikan data intelijen kepada publik, lantaran menyampaikan informasi yang masih diolah kepada publik akan menjadi kontraproduktif.
“Pemerintah memastikan informasi yang disampaikan adalah informasi yang memang baik dan diperlukan,” katanya.
Sebagai informasi, dari total 198 pesantren yang diduga terafiliasi jaringan teroris tersebut, 11 di antaranya terafiliasi dengan jaringan organisasi teroris Jamaah Anshorut Khilafah (JAK), 68 pesantren terafiliasi dengan Jemaah Islamiyah (JI), dan 119 terafiliasi dengan Anshorut Daulah atau simpatisan ISIS.
Kontributor: Nuriel Shiami Indiraphasa
Editor: Aiz Luthfi
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Jihad Generasi Muda dalam Mengisi Kemerdekaan Indonesia
2
RAPBN 2027 untuk Program MBG Capai Rp240 Triliun, Setara 29 Persen dari Anggaran Pendidikan
3
Khutbah Jumat: Jangan Nodai Kemerdekaan dengan Kemaksiatan
4
Gus Ipul Targetkan DPT Muktamar Ke-35 NU Rampung 17 Agustus 2026, Sebut Progres SK 95 Persen
5
RAPBN 2027 Tembus Rp4.097,2 Triliun, DPR: Harus Berdampak dan Menjawab Harapan Rakyat
6
Kompensasi kepada Pemilih dengan Dalih Transportasi atau Ongkos Kerja untuk Memengaruhi Pilihan adalah Haram dan Suap
Terkini
Lihat Semua