Nasional

Ahli Manuskrip Ungkap Perjalanan Mushaf Jawa hingga Afrika Selatan dan Belanda

NU Online  ·  Jumat, 21 Agustus 2026 | 21:00 WIB

Ahli Manuskrip Ungkap Perjalanan Mushaf Jawa hingga Afrika Selatan dan Belanda

Kepala Bagian Asia Tenggara British Library, Annabel Teh Gallop saat menyampaikan materi pada Plenary Session 2 International Conference on Manuscripts and the Diversity of Islam(s) in Southeast Asia di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Depok, Kamis (20/8/2026). (Foto: UIII)

Depok, NU Online

 

Kepala Bagian Asia Tenggara British Library Annabel Teh Gallop mengungkap jejak perjalanan sebuah manuskrip Al-Qur’an bergaya Jawa hingga Afrika Selatan pada abad ke-18. Mushaf tersebut kini tersimpan dalam koleksi Utrecht University Library, Belanda.

 

Temuan itu disampaikan Annabel dalam Plenary Session 2 International Conference on Manuscripts and the Diversity of Islam(s) in Southeast Asia di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Depok, Kamis (20/8/2026).

 

Annabel menjelaskan bahwa manuskrip tersebut memiliki bentuk tulisan dan tata letak yang mudah dikenali sebagai gaya Jawa. Namun, riwayat perjalanannya berbeda dari kebanyakan mushaf Nusantara.

 

Manuskrip itu dibawa dari Cape of Good Hope, Afrika Selatan, lalu diserahkan kepada Kota Utrecht pada 1749 atas nama Hendrik Swellengrebel. Ia lahir di Afrika Selatan dan menjabat Gubernur Cape of Good Hope pada 1739-1751. Menariknya, Swellengrebel diketahui tidak pernah mengunjungi Asia Tenggara.

 

Fakta tersebut memunculkan dua kemungkinan mengenai asal mushaf. Manuskrip itu mungkin dibawa langsung dari Jawa ke Afrika Selatan atau justru disalin di Afrika Selatan oleh seorang ulama Nusantara.

 

“Ini berarti bahwa Al-Qur’an yang memiliki bentuk tulisan dan gaya khas Jawa tersebut mungkin dibawa dari Jawa ke Afrika Selatan, atau disalin di Afrika Selatan oleh seorang ulama atau imam Jawa,” kata Annabel.

 

Jika kemungkinan pertama benar, mushaf itu menjadi bukti peredaran kitab suci melalui jaringan pelayaran Samudra Hindia. Namun, apabila disalin di Afrika Selatan, manuskrip tersebut menunjukkan keberadaan tradisi intelektual Islam yang dibangun oleh ulama dan komunitas Muslim asal Nusantara di tanah pengasingan.

 

Sejak abad ke-17, sejumlah tokoh dan masyarakat Muslim dari Jawa, Sulawesi, serta Maluku memang dibuang oleh pemerintah kolonial Belanda ke Afrika Selatan. Mereka kemudian turut membentuk komunitas Muslim dan tradisi keilmuan Islam di wilayah tersebut.

 

Menurut Annabel, riwayat mushaf tersebut memperlihatkan bahwa manuskrip tidak selalu dapat dipahami hanya berdasarkan wilayah tempat penyimpanannya saat ini. Bentuk tulisan, tata letak, catatan kepemilikan, dan sejarah perpindahannya perlu dibaca secara bersamaan.

 

“Sejarahnya yang bersifat campuran menunjukkan pentingnya mempelajari wilayah-wilayah di pinggiran tradisi untuk memahami arah pergerakan dan pengaruh,” jelasnya.

 

Mushaf tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa hubungan keilmuan Islam Nusantara telah melintasi batas geografis. Jejaknya tidak hanya ditemukan di Asia Tenggara dan Eropa, tetapi juga di Afrika Selatan, tempat komunitas Muslim keturunan Nusantara berkembang sejak masa kolonial. 

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang