Nasional

Akademisi Sebut Kasus Bunuh Diri Siswa SD di NTT Cerminan Kegagalan Struktural Negara

NU Online  ·  Ahad, 8 Februari 2026 | 18:00 WIB

Akademisi Sebut Kasus Bunuh Diri Siswa SD di NTT Cerminan Kegagalan Struktural Negara

Ilustrasi SD. (Foto: NU Online/Freepik)

Jakarta, NU Online

 

[Peringatan: artikel ini mengandung deskripsi tentang bunuh diri yang bisa menimbulkan ketidaknyamanan atau trauma. Utamakan selalu keamanan dan kenyamanan membaca anda.]

 

Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta Dede Setiawan menyebut kasus bunuh diri siswa Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan cerminan kegagalan struktural negara. Peristiwa ini menunjukkan rapuhnya fondasi ekonomi dan ekosistem pendidikan terutama di wilayah miskin dan tertinggal.

 

"Anak yang seharusnya dilindungi justru dipaksa berhadapan langsung dengan kemiskinan ekstrem tanpa jaring pengaman sosial yang memadai," ujarnya kepada NU Online, Jumat (6/2/2026).

 

Ia menilai, kegagalan struktural bermakna kegagalan negara dalam menjamin kebutuhan dasar pendidikan anak bangsa. Dalam konteks kasus bunuh diri tersebut, anak-anak miskin masih terhalang untuk mendapatkan akses kebutuhan dasar pendidikan yaitu buku tulis dan pulpen.

 

Ia juga menyatakan, kegagalan struktural tersebut dapat dipahami sebagai kegagalan sistem perlindungan anak lintas sektor. Menurutnya, urusan penyediaan kebutuhan dasar pendidikan termasuk alat tulis bukan hanya urusan sekolah, namun juga berkaitan dengan urusan perlindungan sosial, kesehatan mental dan pengentasan kemiskinan.

 

"Masalahnya tidak ada integrasi data antara sekolah, dinas sosial dan desa sehingga anak miskin tidak terdeteksi sampai tragedi ini terjadi," ungkapnya.

 

Ia menambahkan, dalam perspektif maqasid al syari'ah, peristiwa bunuh diri siswa tersebut merupakan kegagalan negara dalam menjaga jiwa (al-nafs) dan akal (al-‘aql) warga negaranya. Dalam hal ini, pendidikan membiarkan anak putus asa hanya karena alat tulis.

 

Ironisnya negara baru hadir setelah tragedi kematian, bukan memberikan intervensi yang sifatnya berupa antisipasi.

 

"Ini tamparan keras bahwa pendidikan anak bangsa belum benar-benar menjadi prioritas substansial, melainkan masih bersifat administratif dan simbolik," tandasnya.

 

Dede menilai, pemicu kasus bunuh diri siswa SD tersebut tidak bisa disederhanakan hanya karena siswa SD tersebut putus asa tidak bisa membeli buku dan pulpen. Kasus bunuh diri tersebut merupakan akibat akumulasi dari kemiskinan struktural serta kegagalan sistem pendidikan.

 

Ia menjelaskan, dalam perspektif psikologi, anak usia SD belum memiliki kemampuan meregulasi emosi secara stabil. Saat mereka mempunyai beban kehidupan misalnya merasa menjadi beban orang tua serta tidak berhasil menemukan solusi, maka risiko anak-anak tersebut berperilaku ekstrem menjadi meningkat. Sekolah harus mampu melihat ini dan menjadi ruang yang aman.

 

"Jika seorang anak merasa tidak bisa bersekolah karena tidak punya alat tulis, maka ada yang salah dengan sistem pendampingan sekolah, kebijakan bantuan pendidikan, dan kehadiran negara di wilayah miskin," tegasnya.

 

Ia mengungkapkan, kasus bunuh diri siswa SD tersebut merupakan tragedi kemanusiaan. Menurutnya, tragedi tersebut sangat menyayat hati dan menjadi tamparan keras bagi negara.

 

"Kita berduka atas meninggalnya seorang anak yang seharusnya dilindungi, didampingi, dan dibahagiakan oleh sistem pendidikan dan negara," ungkapnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang