Alissa Wahid Hadiri "Kelas Pemikiran Gus Dur" di Makassar
NU Online · Rabu, 12 November 2014 | 05:46 WIB
Makassar, NU Online
Siang itu, cuaca cukup teduh. Tentu saja, sebab musim kemarau segera berlalu dan musim hujan menjelang. Keteduhan itu pula terlihat dari puluhan pasang mata peserta sekolah pemikiran Gusdur di Lembaga Pelatihan Tilawatil Quran (LPTQ) Tala'salapang, Makassar. Mereka sedang melihat dan mendengarkan sosok putri dari KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Alissa Wahid.<>
Alissa mengisahkan kiprah, dedikasi, perjuangan Gus Dur. Kadang di tengah cerita, puteri sulung Presiden RI ke-4 ini sedikit terbata, mungkin ada kisah yang sulit terungkap, ada masa yang mungkin sangat menyiratkan perjuangan yang tak kenal lelah sosok guru bangsa ini. Menyampikan prihal Gus Gur, terlihat Alisa sangat menjiwai.
Air tak akan lari kemana, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Rupaya Alisa tak berbeda dari orangtuanya, bergelut di gerakan sosial dimana ayahnya bergiat. "Jadilah yang terbaik bagi dirimu sendiri dan ujung dari sebuah perjuangan adalah kemanusiaan," pesannya di Makassar, Selasa (11/11/2014).
Kelas pemikiran Gus Dur sendiri sengaja dihelat untuk tetap merawat pemikiran, gerak dan keteladanan cucu pendiri NU KH Hasyim Asy'ary ini. Peserta pun dikhususkan bagi kalangan mahasiswa dengan latar belakang santri.
Mereka terlihat antusias saat mengikuti seluruh sesi kelas pemikiran ini. baik di gedung LPTQ, maupun saat berdiskusi di Kopi-NU, Jalan landak Makassar.
Bagaimana Gus Dur menghadapi budaya yang bertentangan dengan Islam? tanya Iqbal, salah satu peserta. Dengan lugas alumnus Univeritas Gadjah Mada (UGM) Jurusan Psikologi ini menjelaskan, meskipun diyakininya sesat tetapi tidak lantas ditindas karena mereka punya hak sebagai manusia.
Pemilik nama lengkap Alissa Qotrunnada Munawarah Wahid memaparkan lebih jauh soal peran ayahnya sebagai penjahit keragaman bangsa, getol pada pemberdayaan masyarakat, advokasi dan isu kebhinekaan.
Koordinator Jaringan Gusdurian Indonesia ini juga menyampaikan, pergerakan Gus Dur terkait teologi, kepesantrenan, kultur, negara, dan keadilan sosial. (Ahmad Arfah/Anam)
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Menyambut Dzulhijjah dengan Semangat Beribadah
2
LF PBNU Rilis Data Hilal Awal Dzulhijjah 1447 H, Idul Adha Berpotensi 27 Mei 2026
3
Khutbah Jumat: Sejarah dan Keutamaan Hari Jumat sebagai Sayyidul Ayyam
4
Rentetan Pembubaran Nobar Film 'Pesta Babi' Picu Kritik dan Perdebatan Publik
5
Khutbah Jumat: Jangan Iri Hati Ketika Orang Lain Lebih Sukses
6
MK Sebut Jakarta Masih Berstatus Ibu Kota Negara, Lalu IKN?
Terkini
Lihat Semua