Nasional

Biografi 70 Tahun Imran Siregar: Jejak Kader PMII Jogja dan Penggerak NU Asal Sumut

NU Online  ·  Jumat, 15 Mei 2026 | 19:00 WIB

Biografi 70 Tahun Imran Siregar: Jejak Kader PMII Jogja dan Penggerak NU Asal Sumut

Para tokoh meerima buku biografi Imran Siregar pada Kamis (14/5/2026). (Foto: Musthofa Asrori)

Jakarta, NU Online

Peluncuran buku Titian Terjal: 70 Tahun Imran Siregar bin Djadjuang Siregar di Auditorium KH Hasyim Asy’ari, Gedung Pusbangkom BMBPSDM Kementerian Agama RI, Ciputat, Kamis (14/5/2026), menjadi momentum refleksi tentang pentingnya menjaga tradisi ilmu, adab, dan keteladanan di tengah zaman digital yang serba instan.


Pada kesempatan itu Imran Siregar menegaskan bahwa buku tersebut bukan monumen pribadi, melainkan bentuk syukur dan birrul walidain kepada kedua orang tuanya. “Buku ini lahir sebagai pertanggungjawaban saya sekaligus tanda terima kasih yang tak pernah cukup kepada ayah dan ibu saya,” ujarnya.


Dalam sambutan yang ia beri judul Berkat Ayah dan Ibuku: Aku Ada di Sini, Imran menyebut kehadiran buku tersebut sebagai ‘silent resistance’ (perlawanan diam) terhadap budaya serba cepat yang membuat manusia kehilangan kedalaman berpikir.


Sosok Imran Siregar dikenal bukan hanya sebagai Peneliti Ahli Utama BRIN eks Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Balitbang Diklat Kementerian Agama RI, tetapi juga aktivis PMII saat kuliah di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan penggerak Nahdlatul Ulama (NU) di kampung halamannya di Tapanuli, Sumatra Utara.


Jejak ke-NU-an Imran terasa kuat dalam cara pandangnya terhadap ilmu pengetahuan. Dalam buku setebal 534 halaman itu, ia tidak sekadar menulis autobiografi akademik, melainkan menghadirkan narasi kehidupan yang sarat nilai tasawuf, akhlak, sejarah, dan refleksi kemanusiaan.


Ia juga mengutip kaidah yang akrab di lingkungan pesantren dan tradisi intelektual NU, yakni “al-muhafazhatu ‘alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah”—memelihara tradisi lama yang baik sembari mengambil hal baru yang lebih baik.


Nuansa khas tradisi NU tampak dari cara Imran memaknai keluarga sebagai pusat pendidikan akhlak. Ia menyebut ayah dan ibunya sebagai “mahaguru kehidupan” yang mendidik bukan lewat teori, melainkan keteladanan sehari-hari.


Salah satu kisah yang membekas ialah ketika ayahnya melempar kembali durian yang ditemukan di kebun orang lain. Dari tindakan sederhana itu, Imran belajar tentang amanah dan kejujuran.


Acara itu turut dihadiri para guru besar yang juga atasannya di Balitbang Diklat seperti M Atho’ Mudzhar, Abdurrahman Mas’ud, dan M Ridwan Lubis.


Dalam testimoninya, Atho’ Mudzhar menilai gaya penulisan Imran mengingatkannya pada Hamka karena mampu memadukan sejarah, filsafat, dan sastra dalam satu alur yang hidup.


Acara peluncuran diawali sambutan keluarga yang diwakili putra keduanya, Noval Siregar. Ia menyebut ayahnya sebagai “perintis, bukan pewaris.”


“Menyimak perjalanan panjang hidup ayah, kami dapat menyimpulkan bahwa ayah kami adalah seorang perintis, bukan pewaris. Kamilah pewarisnya,” ujar Noval.


Peluncuran buku tersebut sekaligus menjadi pesan moral bagi generasi muda NU. Imran mengingatkan bahwa ilmu tidak cukup diakses lewat layar gawai. Akan tetapi, harus diolah dengan kesabaran, kedalaman berpikir, dan kejernihan nurani.


Melalui Titian Terjal, Imran seperti hendak mewariskan pesan penting bahwa ilmu tanpa adab hanya melahirkan kecerdasan yang bising, sementara pengabdian tanpa nurani hanya akan melahirkan kekuasaan yang dingin. 

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang