Alissa Wahid: NU Tulang Punggung Indonesia
NU Online · Sabtu, 6 September 2014 | 05:01 WIB
Sleman, NU Online
Putri sulung Presiden Ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Alissa Wahid, mengatakan, NU adalah tulang punggung Indonesia. Menurutnya, dunia internasional kagum karena Islam yang dipegang teguh di Indonesia sangat mengedepankan prinsip<> al-muhafadhah âalal-qadimis-shalih wal akhdzu bil-jadid al-ashlah (merawan tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik).
Hal itu dikatakannya saat menjadi pembicara dalam acara Silaturahim Kebangsaan, yang diadakan oleh Jaringan Mahasiswa Islam Rahmatan Lil âAlamin atau JAMIN, di Masjid UGM, Kamis (04/09) malam. Selain Alissa Wahid, ada juga KH Muwafiq dan KH Ahmad Hadidul Fahmi yang didaulat mengisi acara.
Koordinator Pusat Jaringan Gusdurian itu menambahkan, jika dahulu NU hanya dipandang sebagai kaum sarungan dan kaum ndeso, maka berbeda dengan saat ini, di mana kehadiran NU sudah bisa diterima di mana-mana bahkan di dunia internasional.
âJadi, wong NU iku iso modern ning yo iso njogo kearifan lokal. Ndeso, tapi yo iso modern (Jadi, orang NU itu bisa modern tapi juga bisa menjaga kearifan lokal. Orang desa, tapi juga bisa modern),â ujarnya yang segera disambut tawa hadirin.
Ia cukup menyayangkan bahwa akhir-akhir ini Islam telah dibingkai hanya sebatas prosedural saja, tapi menghilangkan prinsipnya. Padahal hal itu bertentangan dengan apa yang diwariskan para kiai.
âKita itu terikat dengan hal-hal prinsipil, bukan prosedural. Karena hal-hal yang bersifat prosedural itu bisa berubah sesuai dengan konteks yang ada. Jadi jangan terikat dengan hal-hal prosedural,â tandas Alissa.
Menurutnya, hal itulah yang sering kita lupa. Selama ini kita mudah terbujuk dengan hal-hal yang berlabel islami yang ternyata justru tidak islami. Oleh karena itu ia menegaskan dengan berkata, âKita sebagai warga NU memiliki beban sebagai tulang punggung Indonesiaâ.
Sementara itu, KH Muwafiq yang juga didaulat menjadi pembicara mengatakan bahwa hari ini hanya Islam ala Indonesia-lah yang bisa menjadi contoh, dan bukan Islam ala Afganistan, Iran, Persia, maupun Saudi Arabia.
Adapun KH Ahmad Hadidul Fahmi menambahkan akan pentingnya pemahaman santri yang tidak hanya berupa tekstual saja, akan tetapi juga kontekstual. Karena selama ini salah satu penyebab munculnya islam radikal adalah mengedepankan pemahaman secara tekstual saja. (Dwi Khoirotun Nisaâ/Mahbib)
Terpopuler
1
Muktamar ke-35 NU Digelar 1-5 Agustus 2026, Penentuan Tuan Rumah Gunakan Empat Kriteria
2
KH Nurul Huda Djazuli: Saya Cinta NU, Saya Tak Ingin Melihat Pengurus Bertengkar, NU dan Pesantren Harus Menguatkan
3
Seruan 13 Kiai Sepuh tentang AHWA Jelang Pembukaan Munas dan Konbes NU 2026
4
Rais Aam PBNU Kembali Gunakan Bahasa Arab dalam Khutbah Iftitah Munas-Konbes NU 2026
5
Ketum PBNU: Barokah Kiai Sepuh, Munas dan Konbes NU di Ploso Berjalan Sukses
6
Sidang Pleno II Munas-Konbes, Ketum PBNU Sebut Pelatihan Kader NU Jadi Fondasi Meritokrasi
Terkini
Lihat Semua