Banyak Diminati Masyarakat, Ini yang Perlu Diperhatikan Sebelum Memilih Pengobatan Alternatif
NU Online · Jumat, 7 April 2023 | 17:30 WIB
Jakarta, NU Online
Minat masyarakat Indonesia pada pengobatan alternatif tak pernah padam. Kemunculan sosok Ida Dayak sebagai praktisi pengobatan alternatif, utamanya yang berkaitan dengan masalah tulang, menunjukkan gambaran pengobatan alternatif masih diandalkan sebagian masyarakat Indonesia.
Menurut Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia Pengurus Cabang Nadhlatul Ulama (Lesbumi PCNU) Depok Romo Donny S Ranoewidjojo, terdapat beberapa faktor yang memengaruhi sikap masyakarat dalam memilih pengobatan alternatif.
“Dikarenakan beberapa variabel, diantaranya adalah faktor rasa memiliki dari masyarakat Indonesia atas pengobatan asli Nusantara yang belakangan disematkan kata alternatif tersebut,” kata Romo Donny kepada NU Online Kamis (6/4/2023).
Ia juga melihat adanya faktor dorongan usaha lain untuk ikhtiar kesehatan. Hal ini senada dengan tradisi “second opinion” dalam pengobatan medis modern. “Yaitu mencari konfirmasi atau untuk pengangkatan diagnosis awal dari dokter selain dokter yang pertama,” ujar Romo Donny.
Lalu, apa saja yang perlu diperhatikan masyarakat sebelum akhirnya memilih pengobatan alternatif sebagai usaha penyembuhan penyakit?
Anggota Lembaga Kesehatan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LK PBNU) dr Makky Zamzami menjelaskan terdapat sedikitnya tiga hal yang perlu dipahami masyarakat dari pengobatan tradisional.
Pertama, memahami tujuan berobat. Hal ini untuk menjadi tindakan preventif paling minimal yang bisa dilakukan seseorang sebelum membuat keputusan.
“Tidak ada seseorang yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Itu sudah bisa saya pastikan bohong. Kalau iya, seharusnya dokter tidak perlu ada,” katanya.
Kedua, kenali metode atau prosedur yang diterapkan pada suatu pengobatan alternatif. Pastikan keamanan penyedia layanan.
“Apakah tata caranya ini ada unsur pengalaman atau tersertifikasi. Legal atau tidak, dia punya lisensi atau tidak,” ujarnya.
Ketiga, mengukur kemampuan diri sendiri. Hal ini mencakup urusan perencanaan dan penganggaran biaya pengobatan.
“Jangan sampai, zaman dulu si miskin yang katanya tidak boleh sakit tapi sekarang bisa masuk rumah sakit, malah memilih ke pengobatan tradisional yang lebih mahal,” paparnya.
Menurutnya, akses pelayanan kesehatan modern di Indonesia terus berkembang dan disempurnakan. Ini juga harusnya bisa dimanfaatkan dengan baik.
“Kita menggunakan pengobatan yang pemerintah sudah memfasilitasi itu menggunakan BPJS. Pelayanan kesehatan modern bagi masyarakat dari berbagai kalangan tergolong sudah cukup membantu masyarakat secara luas. Ini lah yang kita harus pertimbangkan ketika mengobati diri sendiri,” tutupnya.
Pewarta: Nuriel Shiami Indiraphasa
Editor: Aiz Luthfi
Terpopuler
1
Sambangi PBNU, 23 PWNU Sampaikan Harapan Soal Muktamar ke-35 NU
2
5 Santri Laki-laki Jadi Korban Pelecehan Seksual, Syekh Ahmad Al Misry Jadi Tersangka
3
Innalillahi, Pengurus Muslimat NU Kemayoran Wafat dalam Kecelakaan Kereta di Bekasi
4
Stasiun Bekasi Timur Ditutup Sementara, KRL Hanya Beroperasi hingga Stasiun Bekasi
5
KA Jarak Jauh Tabrak KRL di Bekasi Timur, Gerbong Perempuan Ringsek
6
Sempat Hilang, Karyawan Kompas TV Aini Meninggal Dunia dalam Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur
Terkini
Lihat Semua