Nasional

Buka Muktamar Kebudayaan 2026, Ketua Lesbumi PBNU Bedah Makna Kembali ke Akar

NU Online  ·  Sabtu, 13 Juni 2026 | 06:30 WIB

Buka Muktamar Kebudayaan 2026, Ketua Lesbumi PBNU Bedah Makna Kembali ke Akar

Ketua Lesbumi PBNU, KH M Jadul Muula. (Foto: dok NU Online)

Jombang, NU Online

Muktamar Kebudayaan Lesbumi PBNU yang berpusat di Universitas KH A Wahab Hasbullah (Unwaha) Jombang telah resmi dibuka. Agenda yang digelar pada Jum'at (12/6/2026) malam ini sukses memantik nalar kritis ratusan peserta yang hadir.

 

Bukan hanya momen kumpul antar seniman dan budayawan, forum gagasan Lesbumi PBNU ini didesain sebagai mimbar dialektika kritis yang membedah tatanan kebangsaan hari ini dalam kacamata kebudayaan.

 

Ketua Lesbumi PBNU, KH Muhammad Jadul Maula, dalam pidato pembukaannya menyoroti krisis moralitas bangsa yang tengah terjadi, termasuk adanya tesis yang menyebut bahwa budaya Indonesia adalah korupsi.

 

Menanggapi tafsir kebudayaan yang memiliki banyak definisi, Kiai Jadul menyimpulkan bahwa kebudayaan merupakan sebuah aksi nyata. Kesimpulan tersebut ia dapat usai merujuk pemikiran KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan budayawan nasional, Asrul Sani.

 

"Kebudayaan adalah sebuah kerja keras dari bangsa dan umat untuk mengatasi tantangan kehidupan. Jadi, kebudayaan di sini adalah kata kerja, sebuah tindakan," terangnya.

 

Berdasarkan definisi tersebut, Kiai Jadul kemudian mengaitkannya dengan tema Muktamar yang diusung, "Kembali ke Akar". Ia menjelaskan bahwa akar dari kebudayaan adalah kesadaran manusia itu sendiri.

 

"Kalau kebudayaan itu aksi nyata, lalu apa akar dari sebuah kebudayaan? Yaitu kesadaran manusia, soal bagaimana manusia berpikir dan menghidupkan kesadaran dirinya," tuturnya.

 

Tak sampai di situ, Kiai Jadul juga membedah mengenai apa sebenarnya akar dari manusia. Menurutnya, akar manusia sebenarnya telah termaktub dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 30 yang menyebut manusia sebagai Khalifah di bumi.

 

"Namun nyatanya tidak semua manusia mampu menjadi Khalifah. Lantas bagaimana caranya agar manusia bisa memiliki kualifikasi Khalifah ini?" pancingnya.

 

Ia melanjutkan, kunci untuk memenuhi kualifikasi tersebut ialah dengan mengamalkan asma-asma Allah dan membudayakannya.

 

"Jika kita membudayakan semua asma itu, maka kita akan mampu menjadi Khalifah sebagaimana firman Allah SWT tersebut, dengan begitu tatanan kehidupan akan baik-baik saja," tegasnya.

 

Kontributor: Umi Kholifah

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang