Dukungan JPZIS NU Jawab Krisis Guru Mengaji di Yayasan Anak Nagari Penjaringan
NU Online · Ahad, 1 Maret 2026 | 19:00 WIB
Jakarta, NU Online
Dukungan Jaringan Pengelola Zakat, Infak dan Sedekah Nahdlatul Ulama (JPZIS NU) melalui Program Dai Penggerak Nusantara menjawab krisis guru mengaji di Yayasan Anak Nagari Indonesia, Penjaringan, Jakarta Utara. Bantuan tersebut memperkuat penyelenggaraan Pesantren Ramadhan yang menyasar anak-anak hingga remaja usia 4-20 tahun.
Selama ini, yayasan yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan itu kesulitan menghadirkan guru ngaji dengan latar belakang pendidikan pesantren. Pengelola Yayasan Anak Nagari Indonesia, Nursariyati, mengaku kehadiran dai penggerak menjadi solusi atas persoalan yang telah lama mereka hadapi.
“Karena selama ini kan kesulitan nih, kita tuh mau cari guru ngaji yang punya basic pondok. Ketika ditawarkan bantuan dai penggerak, itu seperti diberi solusi atas masalah yang sudah lama kami hadapi," ujarnya kepada NU Online saat ditemui di Penjaringan, Jakarta Utara, Sabtu (28/2/2026).
Dukungan tersebut berawal dari diskusi sederhana bersama tim JPZIS NU yang kemudian berkembang menjadi gagasan penyelenggaraan Pesantren Ramadhan selama 16 hari, terhitung 1-16 Ramadhan, dengan puncak acara pada 7 Maret berupa buka puasa bersama dan santunan.
“Sebenarnya idenya muncul ketika kita diskusi bareng sama teman dari NU Online, terus akhirnya saya mau buat pengajian, nah dari situ disusun jadi program khusus Ramadhan dan acara puncaknya nanti tanggal 7 Maret, acara buka puasa bareng dan santunan," ungkapnya.
Nur menjelaskan, tanpa dukungan pendanaan dari JPZIS NU, setidaknya ada dua kendala utama yang dihadapi yayasan. Pertama, keterbatasan guru ngaji yang kompeten dan memiliki latar belakang pesantren. Kedua, minimnya dana operasional untuk menunjang kegiatan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
Ia menjelaskan, seluruh kegiatan sosial di yayasan tersebut tidak memungut biaya dari peserta. Karena itu, bantuan pendanaan sangat menentukan keberlanjutan program.
“Intinya memang kedua hal itu, pertama gurunya, terus yang kedua memang ini kegiatan sosial, karena guru, kita nggak munafik juga, tetap butuh untuk kebutuhan, jadi menunjang untuk sehari-hari," imbuhnya.
Pengajian sengaja digelar pada sore hari agar terbuka bagi seluruh anak di lingkungan sekitar, tidak hanya siswa PAUD dan PKBM. Ia ingin nilai-nilai keislaman dapat ditanamkan secara lebih luas.
"Saya setting memang di sore hari, biar anak-anak di luar sekolah itu bisa ngaji. Jadi, sifatnya universal siapapun boleh tidak ada sekat lagi. Karena, fungsinya kan itu sebenarnya. Bukan hanya fokus ke anak didik yang sekolah di PAUD dan PKBM," terangnya.
Meski lembaganya murni bersifat sosial dan tidak memungut biaya, Nur berkomitmen menghadirkan pembinaan agama yang layak bagi anak-anak di wilayah tersebut. Ia menilai lingkungan sekitar masih minim penguatan nilai-nilai keislaman bagi anak usia dini hingga remaja yang rentan terhadap berbagai pengaruh.
“Karena di sini minim sekali nilai-nilai Islamnya, apalagi berhubungan dengan anak-anak usia dini hingga remaja sangat rentan, diwarnai juga banyaknya pihak-pihak yang saya pikir punya niat tertentu," jelasnya.
Ia meyakini perubahan dapat dimulai dari anak-anak melalui pemahaman agama yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Prinsip saya, ubah anaknya dulu. Karena, saya percaya anak-anak sekarang lebih kritis, jadi dia bisa mengkritik orang tuanya, terlepas masuk telinga kanan keluar telinga kiri, tapi kalau setiap hari pasti ada hikmahnya,” ujarnya.
Selain menjawab krisis guru, program pendanaan ini juga bertujuan memupuk semangat dan pembentukan karakter anak. Seusai pengajian, anak-anak dibagikan takjil sebagai bentuk motivasi agar tetap semangat mengikuti kegiatan.
"Mereka datang ke sekolah dan ngaji, kami nggak memungut apa pun. Justru kami jadi punya ide ketika mereka selesai ngaji, kita bagi takjil. Tujuannya, untuk memotivasi mereka. Sebenarnya saya sedikit mencontek teman-teman dari kalangan lain, wah bisa nih semacam reward,” paparnya.
Nur berharap dukungan tersebut tidak berhenti pada Ramadhan saja, mengingat kebutuhan pembinaan keagamaan anak-anak dan remaja di wilayah itu masih sangat besar.
Sementara itu, Dai Penggerak Nusantara melalui JPZIS NU, Muhammad Berryl Choliq Ar Rohman, mengaku memperoleh pengalaman berharga saat mendampingi anak-anak belajar membaca Iqra hingga praktiknya. Ia menilai semangat belajar mereka cukup tinggi meski berada di lingkungan yang kurang mendukung.
“Saya mendapatkan rasa semangat dari mereka, selama proses kegiatan mengaji selalu antusias, terus balik lagi karena anak-anak dari lingkungan yang kurang mendukung, banyak yang perlu diulang. Kayak belajar ngaji iqra', yang harusnya dari kanan ke kiri, tapi mereka banyak yang belum paham secara dasar dan ternyata selama ini tata caranya keliru,” paparnya.
Namun, menurutnya, tantangan muncul karena sebagian anak, termasuk yang berusia di atas 12 tahun, masih perlu pendampingan dasar membaca sehingga materi harus diulang secara perlahan.
Salah seorang peserta, Annisa Nuryani, mengaku senang mengikuti pengajian tersebut karena membuatnya semakin tahu dan lancar membaca Al-Qur’an. Ia menyukai materi tentang rukun iman dan rukun Islam, serta berharap dapat terus mengikuti kegiatan dan mulai menghafal juz Al-Qur’an.
Kontributor: Nisfatul Laila
Terpopuler
1
Keluar Mani yang Tidak dan Membatalkan Puasa
2
Khutbah Jumat: Ramadhan dan Kesempatan yang Tidak Selalu Terulang
3
Khutbah Jumat: Ramadhan, Melatih Sabar, Memperkuat Syukur
4
Khutbah Jumat: Tiga Kebahagiaan Orang Puasa
5
Kultum Ramadhan: Keutamaan Tarawih dan Witir
6
Khutbah Jumat: 4 Cara Menghidupkan Malam Ramadhan dengan Ibadah
Terkini
Lihat Semua