Gelak Tawa Nahdliyin
NU Online · Selasa, 18 Juni 2013 | 15:00 WIB
Karawang, NU Online
Dalam setiap acara yang digelar NU, seserius apapun, gelak tawa adalah sesuatu yang “wajib” adanya. Apa saja bisa menimbulkan tawa, mulai dari cara bicara, pilihan kata, atau tingkah yang hadir.
<>
Pada perkenalan Pendidikan Manajemen Zakat ke-III yang digelar PP LAZISNU di Karawang, Senin malam(17/6) aula dipenuhi gelak tawa. Pada perkenalan itu dimulai dengan peserta yang serius memperkenalkan diri. Ia mencantumkan jumlah anak, alamat, istri dan jenjang pendidikan S1sampai S3.
Selang beberapa perkenalan, salah seorang peserta memperkenalkan diri dengan cara demikian, “Saya juga lulusan S3, yaitu SD, SMP, dan SMA,” katanya. Menerangkan jenjang pendidikan seperti itu, disambut gelak tawa dan tepuk tangan peserta lain.
Di setiap perkenalanselalu menyebutkan jabatan di Lazisnu di daerah masing-masing. Karena di daerah itu belum dibentuk, ia menjelaskan dengan cara demikian, “Jabatan saya warga NU saja, supaya tak dipecat-pecat,” jelasnya.
Peserta dari Suamtera Selatan mengatakan, ada enam orang turut serta. Kepada seluruh peserta dan panitia, ia menyatakan mohon maaf, “Mohon maaf jika makanan di sini habis sama orang Palembang,” katanya.
Di sela-sela perkenalan, kadang dinterupsi peserta lain. Misalnya ketika peserta Karawang memperkenalkan diri, “Saya orang dekat, asli Karawang sini.” Perkenalan dia dipotong satu sura dari belakang, “Goyang Karawangnya mana?”
Direktur Eksekutif PP LAZISNU Amir Ma’ruf yang memandu perkenalan, mengomentari salah seorang peserta yang menyatakan diri lajang. Amir berkomentar, “Ketika ada peserta perempuan masuk kemudian kamu memperkenalkan single.”
Peserta itu pun celingak-celinguk kemudian tertawa berderai.
Kemudian salah seorang peserta memperkenalkan diri dengan mengatakan, “Saya orang tuanya Mas Amir Ma’ruf, nama saya Ma’ruf. Jadi saya orang tua dia.”
Redaktur: Abdullah Alawi
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Istiqamah Pasca-Ramadhan, Tanda Diterimanya Amalan
2
Muslim Arab dan Eropa Rayakan Idul Fitri 1447 H pada Hari Jumat, 20 Maret 2026
3
Khutbah Idul Fitri 2026: Makna Kemenangan dan Kembali Ke Fitrah
4
Khutbah Jumat: Anjuran Membaca Takbir Malam Idul Fitri
5
Khutbah Idul Fitri Bahasa Arab 2026: Jadilah Hamba Sejati, Bukan Hamba Musiman: Konsistensi dalam Ketaatan Setelah Ramadhan
6
Khutbah Idul Fitri Bahasa Jawa: Idul Fitri Dinten Ganjaran lan Kabingahan
Terkini
Lihat Semua