Gus Yahya Jelaskan 3 Tugas Kiai Pesantren dalam Muqaddimah Qanun Asasi
NU Online · Ahad, 2 Agustus 2026 | 20:00 WIB
Ketum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf pada Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren, Sabtu (1/8/2026). (Foto: Junaedi)
Muhammad Syakir NF
Penulis
Cirebon, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menjelaskan bahwa ada tiga tugas kiai pesantren sebagaimana dijelaskan Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari dalam Muqaddimah Qanun Asasi.
Hal tersebut ia sampaikan saat memberikan sambutan pada Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren, di halaman Masjid Agung Buntet Pesantren, Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (1/8/2026).
Pertama, tugas keilmuan. Ketika Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari mengajak para ulama bergabung ke NU, menyeru kepada para ulama dari kalangan Ahlussunah wal Jamaah.
"Jelas tidak mungkin memahami Ahlussunah wal jamaah, mazhab empat tanpa ilmu pengetahuan yang kita kaji di pesantren," katanya.
Pengetahuan yang dikaji itu melalui khazanah karya para ulama yang kita warisi secara turun temurun sejak zaman para sahabat, tabiin hingga tabiitt tabiin sampai kepada para kiai di Indonesia.
Kedua, tugas tarbiyah ruhaniyah. Bukan hanya mengurusi akal dengan pengetahuan, kiai pesantren juga harus menanamkan pendidikan ruhani kepada para santri. Mereka perlu dilatih mengembangkan kekuatan ruhani sebagaimana secara estafet diwariskan dari Rasulullah melalui para sahabat, tabiin, hingga kepada umat saat ini. "Melalui itu (sanad ruhani), para ulama memiliki otoritas," katanya.
Para ulama memiliki maqam sumber muktabar untuk mengambil mana yang utama. Namun, sanad ruhani yang diterima secara estafet dari guru hingga bersambung kepada Rasulullah menjadi ciri sendiri. Mengutip Ibnu Sirin, perlu sungguh memperhatikan dari mana mengambil agama.
"Tidak mungkin para ulama diberikan maqam sumber muktabar untuk mengambil ilmu kecuali para ulama mewarisi transmisi," lanjutnya.
Gus Yahya menegaskan bahwa kiai harus mengembangkan bukan hanya girah ilmiyah tapi juga ruhaniyah; bukan hanya ilmu pengetahuan aqiliyah, tapi juga kuat ruhaniyah. Hal tersebut dilakukan agar kiai dan santri beserta masyarakat sungguh memiliki jalinan batin sumber agama kepada Rasulullah.
Ketiga adalah riayatul jamaah atau dalam skala luas menjadi riayah ummah. Artinya, lara kiai harus menekuni wadzifah mengasuh jamaah ya mengasuh umatnya.
Oleh karena itu, Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari menyeru kepada para ulama dan para pengikutnya. Hal ini berarti, katanya, bahwa Hadratussyekh memberi semacam syarat bahwa ulama yang layak bergabung kepada jamiyah NU adalah ulama yang memiliki pengikut-pengikut.
"Tidak mungkin ulama memiliki pengikut kalau tidak mengasuh mereka, mengayomi mereka membimbing mereka," tegas Gus Yahya.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: 4 Hal yang Menghalangi Terkabulnya Doa Seorang Muslim
2
Ini Rangkaian Kegiatan HUT Ke-81 RI, dari Zikir Kebangsaan hingga Pesta Rakyat
3
Trump Umumkan Perjanjian Pelucutan Senjata di Gaza, Hamas Tegaskan Baru Diterapkan Setelah Israel Mundur Total
4
Pemerintah Siapkan 8.100 Kuota bagi Masyarakat untuk Saksikan Langsung Upacara HUT Ke-81 RI di Istana
5
Innalillahi, Putra Bungsu KH Wahab Chasbullah Wafat
6
Khutbah Jumat: Adab Bertamu dalam Islam, Wujud Akhlak Seorang Muslim
Terkini
Lihat Semua