Pesantren Krapyak Ubah Sampah Menjadi Berkah, Santri Jadi Penggerak
NU Online · Jumat, 18 September 2026 | 18:00 WIB
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Persoalan sampah di pesantren tidak lagi dapat dipandang sebagai urusan kebersihan semata. Volume sampah yang terus bertambah menuntut perubahan perilaku dan sistem pengelolaan, termasuk dengan melibatkan santri sebagai penggerak utama.
Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta (RMI PWNU DIY) KH Muhammad Nilzam Yahya mengatakan persoalan sampah semakin menjadi tantangan bagi banyak pondok pesantren.
"Sebenarnya persoalan sampah itu tidak bisa diabaikan begitu saja. Ada banyak hal yang terjadi di banyak pondok pesantren, bahwa problem-problem sampah ini semakin hari semakin menjadi persoalan yang tidak mudah dipecahkan," katanya dalam Webinar Pengelolaan Sampah, Kamis (17/9/2026).
Menurutnya, pengelolaan sampah di Pondok Pesantren Krapyak pada awalnya bukan perkara mudah. Namun, setelah dijalankan secara konsisten, pengelolaan sampah justru dapat menjadi berkah sekaligus mendorong perubahan perilaku warga pesantren.
"Ini bisa kemudian mengubah perilaku-perilaku, khususnya di Pondok Pesantren Krapyak, menjadi sangat sadar sampah," ujarnya.
Ia menilai kesadaran tersebut perlu dibangun bersama oleh pengasuh, musyrif, pembimbing, dan santri. Pesantren juga perlu memiliki aturan yang membiasakan seluruh warganya peduli terhadap sampah tanpa mengesampingkan pendidikan keagamaan.
"Mengajarkan anak-anak setiap mengaji subuh, siang, sore, malam, ini penting saya sampaikan supaya tidak meninggalkan proses-proses yang itu menjadi dasar dari para santri untuk tetap belajar," tuturnya.
Sampah Krapyak Capai 2,5 Ton per Hari
Direktur Krapyak Peduli Sampah Andika Muhammad Nuur mengatakan gerakan pengelolaan sampah di lingkungan pesantren tersebut dibangun atas empat alasan, yakni ekologi politik, solusi sosial, ketahanan ekonomi, serta kebersihan dan keindahan.
Andika mengungkapkan, lebih dari 2.000 santri di Krapyak menghasilkan sekitar 2,5 ton sampah per hari. Kondisi tersebut sebelumnya membuat biaya jasa pembuangan sampah mencapai Rp30 juta per bulan.
Menurutnya, tantangan pengelolaan sampah bukan hanya keterbatasan tempat pemrosesan akhir (TPA), tetapi juga membangun kesadaran sekaligus mengubah kebiasaan warga pesantren.
"Melalui budaya bersih, dari santri, oleh santri, dan untuk santri, pemilahan dapat dilakukan hingga 36 jenis," ucapnya.
Ia menyampaikan, penerapan pemilahan dan pengolahan sampah tersebut berdampak pada penurunan volume sampah yang dibuang. Menurut dia, volume sampah turun dari sekitar dua ton menjadi 100 kilogram per hari. Biaya jasa angkut sampah juga tidak lagi dikeluarkan.
"Budaya baru pemilahan sampah terbentuk, mengubah citra pondok pesantren yang dulunya kumuh sekarang bersih," ucapnya.
Santri Belajar Mengolah Sampah
Senada, Pengurus Krapyak Peduli Sampah Alfa Mubarok mengatakan seluruh inovasi pengelolaan sampah tersebut melibatkan santri.
Alfa menyampaikan, sampah organik diolah menjadi kompos, briket, biogas, dan pupuk organik cair yang telah diuji di laboratorium. Sementara itu, sampah anorganik diolah menjadi bensin dari plastik, kursi ecobrick, gantungan kunci, mainan, paving block, lukisan, dan hiasan rumah.
Menurutnya, pelibatan santri diharapkan membuat keterampilan pengelolaan sampah yang diperoleh selama berada di pesantren dapat terus diterapkan setelah mereka lulus.
"Pembuatan semua ini berasal dari santri, karena harapan kami setelah mereka lulus dari Krapyak terus menerapkan ilmu ini di daerahnya nanti," tuturnya.
Terpopuler
1
Cinta kepada NU: Lutut Soekarno dan Lutut Saya di Muktamar
2
Khutbah Jumat: Kemarau Panjang, Saatnya Muhasabah dan Ikhtiar
3
Khutbah Jumat: Sibuk Bekerja, Jangan Sampai Kehilangan Waktu dengan Keluarga
4
Khutbah Jumat: Hidup Serba Cepat, Ibadah Jangan Ikut Tergesa-gesa
5
Khutbah Jumat: Jangan Hanya Meminta Hujan, Rawat Juga Alam
6
Keracunan MBG Berulang, P2G Minta Kepala BGN Mundur dan Program Dihentikan
Terkini
Lihat Semua