Nasional

Hadiri Pameran Ruang Tafakur di BBJ, Gus Yahya: Kesenian Bisa Jadi Ruang Spiritual Sekaligus Intelektual

NU Online  ·  Sabtu, 28 Februari 2026 | 05:40 WIB

Hadiri Pameran Ruang Tafakur di BBJ, Gus Yahya: Kesenian Bisa Jadi Ruang Spiritual Sekaligus Intelektual

Ketum PBU KH Yahya Cholil Staquf saat menghadiri Pamern Ruang Tafakur di Bentara Budaya Jakarta, Jumat (27/2/2026). (Foto: Ghufron)

Jakarta, NU Online

Bentara Budaya Jakarta menyelenggarakan pameran seni rupa bertajuk Ruang Tafakur: Merayakan Spiritualitas Islam dalam Seni Rupa. Pameran ini dibuka mulai 27 Februari hingga 13 Maret 2026.


Pameran menampilkan karya dari 20 seniman dengan latar belakang beragam. Mereka memaknai spiritualitas Islam melalui berbagai pendekatan seni visual.


Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengapresiasi karya-karya yang ditampilkan dalam pameran ini dan menilai karya seni dalam Ruang Tafakur terasa semakin bermakna dalam suasana Ramadhan.

 

"Karya-karya ini terasa lebih nikmat dinikmati ketika perut sedang lapar. Mudah-mudahan pameran ini menjadi energi yang baik bagi kita semua,” tuturnya membuka pameran di Jalan Palmerah, Jumat (27/2/2026).


Gus Yahya menyinggung fenomena tayangan musik bernuansa Arab di awal 2000-an yang menunjukkan bagaimana simbol-simbol Islam direpresentasikan di media populer saat itu.

 

"Saya ingat betul, semua penampil, baik penyanyi maupun pemusik, mengenakan pakaian Arab. Laki-laki pakai jubah, sementara perempuan, seingat saya, tidak bercadar. Yang menarik, dalam studio penayangan itu bahkan dihadirkan seekor unta hidup. Saya kebetulan menyaksikan acara itu,"  kenangnya.

 

Pengalaman itu bagi Gus Yahya menunjukkan bahwa Islam sebagai konteks budaya dan artistik masih menjadi ruang perdebatan dan tafsir yang beragam.


"Persepsi tentang konteks Islam itu sendiri pasti sangat beragam, baik di kalangan seniman, penikmat seni, maupun masyarakat awam," ujar Gus Yahya.


Gus Yahya mengajak publik merefleksikan posisi kesenian, mempertanyakan apakah seni merupakan fenomena spiritual atau intelektual. Pertanyaan ini, katanya, menjadi relevan ketika dikaitkan dengan tema pameran kali ini. 

 

"Pameran ini diberi judul Ruang Tafakur. Tafakur itu sendiri bisa berarti ruang intelektual, bisa juga ruang spiritual. Ini hal-hal yang secara terminologis memang menarik untuk didiskusikan,” jelasnya.

 

Kurator pameran, Hilmi Faiq, menyatakan bahwa pameran ini berangkat dari pengalaman Ramadhan sebagai ruang pengendapan batin.

 

"Dalam momen yang penuh pengendapan ini, manusia belajar kembali mengenali dirinya sebagai makhluk yang rapuh sekaligus mulia,” ujarnya.

 

Pameran ini dihadirkan sebagai upaya menghadirkan spiritualitas Islam dalam bahasa rupa yang lebih reflektif.


"Setiap karya menjadi pintu yang terbuka pelan, memberi kesempatan bagi siapa saja untuk melangkah masuk dengan tenang," jelasnya.

 

Hilmi menekankan bahwa latar tradisi kesantrian memberi pengaruh kuat dalam pembentukan sensibilitas artistik para seniman.

 

"Huruf-huruf dibunyikan dan dihayati, kata-kata menjelma pemahaman. Dalam pengalaman panjang itu, spiritualitas meresap dan menemukan ekspresinya dalam warna, garis, bunyi, dan ruang,” katanya.


Dilansir dari laman Bentara Budaya, pameran Ruang Tafakur menampilkan karya dari beragam seniman lintas generasi dan latar artistik. Karya-karya yang dihadirkan bergerak dari kaligrafi, lukisan, instalasi, hingga video art.


Para perupa yang terlibat antara lain Acep Zamzam Noor, Agus Baqul, Anis Affandi, Arahmaiani, Didin Sirojuddin, Fadriah Syuaib, Faisal Kamandobat, Fatwa Amalia, Hanafi, Ilham Khoiri, Jumaldi Alfi, Muna Diannur, Nasirun, Qonita Farah Dian, Robert Nasrullah, Said Akram, Syaiful Adnan, Tamar Saraseh, Ujang Badrussalam, dan Umar Faruq.


Sementara itu, Gubernur Lemhannas RI TB. Ace Hasan Syadzily mengapresiasi inisiatif Bentara Budaya (Kompas Gramedia) dalam memberikan ruang bagi seni rupa bernapas Islam.


"Merayakan pluralisme dan keragaman, apalagi di bulan Ramadan, dengan memberi ruang bagi seni Islam di Bentara Budaya adalah sesuatu yang patut diapresiasi,” ujarnya.

 

Ace menekankan di tengah era kecerdasan buatan (AI), ruang seni dan spiritualitas menjadi penting untuk menjaga keseimbangan batin.


"Kita perlu menepi sejenak agar mental bangsa ini terus berkembang dan memiliki spirit yang kuat. Ketahanan budaya adalah bagian penting dari ketahanan nasional,” tegasnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang