Nasional

Hari Anak Nasional 2026, Sudahkah Orang Dewasa Memenuhi Hak Anak?

NU Online  ·  Kamis, 16 Juli 2026 | 10:00 WIB

Hari Anak Nasional 2026, Sudahkah Orang Dewasa Memenuhi Hak Anak?

Asisten Deputi Penyedia Layanan Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus pada Kemen PPPA, Ciput Eka Purwanti diwawancarai media di Jakarta, Kamis (16/7/2026). (Foto: NU Online/Suci)

Jakarta, NU Online

Hari Anak Nasional (HAN) bukan sekadar perayaan bagi anak, tetapi menjadi momentum untuk mengingatkan seluruh orang dewasa bahwa pemenuhan hak dan perlindungan anak merupakan tanggung jawab bersama yang hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi seluruh elemen bangsa. 

 

Hal ini disampaikan Asisten Deputi Penyedia Layanan Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Ciput Eka Purwanti pada Media Talk Kemen PPPA di Jakarta, Kamis (16/7/2026).

 

"Perlindungan anak merupakan tanggung jawab bersama. Karena itu, rangkaian Hari Anak Nasional tahun ini berkolaborasi dengan berbagai kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, dunia usaha, organisasi masyarakat, media, hingga keluarga agar bersama-sama menghadirkan ruang yang aman dan mendukung tumbuh kembang anak," ujar Ciput.

 

Mengusung tema Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan, peringatan Hari Anak Nasional ke-42 Tahun 2026 bertujuan untuk memperkuat upaya penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak anak sebagai generasi penerus bangsa. Mengajak seluruh masyarakat menanamkan nilai kasih sayang, perlindungan, penghormatan terhadap keberagaman, budaya antikekerasan, dan pemanfaatan ruang digital yang bertanggung jawab pada anak.

 

Ciput menjelaskan kolaborasi HAN 2026 diwujudkan melalui Gerakan Nasional #RuangAmanNyamanAnak (Gernas RANA), Kemen PPPA bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Agama, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, dan berbagai kementerian/lembaga lainnya melaksanakan gerakan bersama yang mengintegrasikan upaya pencegahan, perlindungan, partisipasi anak, penguatan keluarga, penguatan peran masyarakat, keamanan ruang digital, dan respon cepat terhadap kekerasan terhadap anak.

 

"Hulu dari perlindungan anak sesungguhnya dimulai dari keluarga. Ketika keluarga mampu memberikan pengasuhan yang baik, dilanjutkan dengan sekolah yang aman, ruang publik yang ramah anak, dan ruang digital yang sehat, maka risiko anak mengalami kekerasan dan berbagai bentuk pelanggaran hak anak dapat ditekan," tambah Ciput.

 

Ciput menambahkan makna Hari Anak Nasional bukan semata-mata mengingatkan anak, melainkan menjadi refleksi bagi seluruh orang dewasa atas persoalan yang dihadapi anak hari ini.

 

"Ketika anak mengalami adiksi gawai, kekerasan, atau kehilangan ruang bermain, kita perlu bertanya apakah orang dewasa telah menghadirkan pengasuhan, pendampingan, dan lingkungan yang mereka butuhkan?" tegas Ciput.

 

Peringatan HAN 2026 didorong semakin dekat dengan kehidupan masyarakat melalui pendekatan desentralisasi. Berbagai kegiatan akan dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia agar lebih banyak anak dapat merasakan makna Hari Anak Nasional tanpa harus terpusat di satu lokasi. 

 

"Berbagai kegiatan juga dirancang untuk memberikan ruang partisipasi yang bermakna bagi anak, mulai dari bermain, menyampaikan aspirasi, hingga mengenal berbagai profesi sebagai bekal menjadi generasi Indonesia Emas 2045," katanya.

 

Perwakilan Sekretariat Forum Anak Nasional (FAN) selaku Koordinator Utama Lokakarya FAN 2026, Alya Alkautsar mengatakan rangkaian kegiatan menuju Hari Anak Nasional 2026 menjadi ruang yang bermakna bagi anak untuk menyampaikan aspirasi, pengalaman, dan harapan mereka terhadap berbagai isu yang dihadapi. 

 

Melalui penyusunan Suara Anak Indonesia yang menjadi agenda utama, FAN melibatkan dan mengumpulkan suara anak dari berbagai latar belakang, termasuk Forum Anak Daerah, Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (AMPK), hingga anak Indonesia yang berada di luar negeri sehingga mampu merepresentasikan keberagaman perspektif anak Indonesia.


"Kami ingin memastikan suara anak bukan hanya didengar, tetapi juga dipertimbangkan dalam penyusunan kebijakan dan program yang menyangkut kehidupan anak. Apa yang kami sampaikan melalui Suara Anak Indonesia merupakan keresahan, kebutuhan, sekaligus harapan anak-anak Indonesia terhadap lingkungan yang lebih aman, sehat, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang kami," ujar Alya.


Alya menjelaskan penyelenggaraan Lokakarya Forum Anak Nasional 2026 sebagai rangkaian utama menuju Hari Anak Nasional 2026 telah berlangsung pada 13 Juni hingga 19 Juli 2026. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas Forum Anak Nasional dan Forum Anak Daerah sebagai wadah partisipasi anak sekaligus mendukung penyusunan Suara Anak Indonesia Tahun 2026. 


Berbagai isu yang diangkat dalam kegiatan Lokakarya merupakan persoalan yang nyata dirasakan anak, mulai dari kesehatan mental, keamanan di ruang digital, perlindungan dari kekerasan, akses terhadap pendidikan yang aman dan berkualitas, hingga pentingnya ruang bermain dan ruang partisipasi yang bermakna.

 

Hari Anak Nasional menjadi momentum untuk mengingatkan bahwa anak bukan sekadar penerima manfaat pembangunan, tetapi juga subjek yang memiliki hak untuk didengar. 

 

"Kami berharap suara anak dari seluruh Indonesia dapat menjadi perhatian bersama dan ditindaklanjuti oleh pemerintah, keluarga, sekolah, media, dunia usaha, dan seluruh masyarakat sehingga setiap anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman, nyaman, dan penuh kasih sayang," tandas Alya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang