Kemarau 2026 Datang Bertahap, BMKG Ingatkan Ancaman Kekeringan dan Penurunan Curah Hujan
NU Online · Selasa, 31 Maret 2026 | 20:00 WIB
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim kemarau 2026 di Indonesia akan berlangsung secara bertahap mulai April hingga Juni.
BMKG juga mengingatkan tentang adanya potensi tekanan serius pada sektor pangan, sumber daya air, hingga lingkungan, seiring dominasi kondisi curah hujan di bawah normal.
Direktorat Perubahan Iklim Kedeputian Bidang Klimatologi, BMKG Fatchiyah menyampaikan bahwa wilayah Jawa Barat bagian utara, pesisir utara Jawa Tengah, serta sebagian Bali dan Nusa Tenggara mulai memasuki kemarau pada April 2026.
“Sebagian wilayah Indonesia ini mulai memasuki musim kemarau seperti di Pesisir Utara, Bali dan, Nusa Tenggara. Sementara itu, wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua akan menyusul secara bertahap pada Mei hingga Juni. Puncak musim kemarau diprediksi pada Agustus,” ujarnya dalam Webinar Cengkrama Iklim pada Senin (30/3/2026).
Ia juga menjelaskan bahwa sifat hujan bulanan sepanjang April hingga September 2026 didominasi kondisi bawah normal hingga normal.
“Pada April dan Mei, sebagian besar wilayah Indonesia mengalami curah hujan lebih rendah dari biasanya. Kondisi ini berlanjut hingga puncak kemarau pada Juli sampai September, terutama di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Sulawesi,” jelasnya.
Fatchiyah juga mengingatkan pentingnya langkah adaptasi lintas sektor untuk meredam dampak kemarau.
“Di sektor pangan dapat menyesuaikan jadwal tanam dan pemilihan varietas tanaman yang membutuhkan lebih sedikit air menjadi krusial, lebih tahan kekeringan, serta memiliki siklus tanam lebih pendek, seperti petani garam dan tembakau, dia memang lebih membutuhkan kondisi yang curah hujannya rendah,” terangnya.
Pada sektor sumber daya air, ia mengatakan diperlukan revitalisasi waduk serta perbaikan sistem distribusi air guna memastikan ketersediaan bagi masyarakat.
“Sementara pada sektor energi, kapasitas air bendungan harus dijaga untuk mendukung operasional pembangkit listrik tenaga air (PLTA),” katanya.
Di sisi lingkungan, ia menekankan adanya potensi penurunan kualitas udara selama musim kemarau. Fatchiyah menegaskan diperlukan mekanisme respons cepat, termasuk upaya pengurangan emisi melalui penghijauan dan pengelolaan sampah yang baik.
Baca Juga
Menantang Matahari Kemarau
“Pengolahan sampah yang buruk tentu berdampak dengan bencana. Pada musim hujan bisa menyebabkan penyumbatan dan banjir, sementara pada musim kemarau, sampah yang tidak terkelola dengan baik akan berdampak pada kualitas udara yang tidak baik,” tegasnya.
Fatchiyah menghimbau masyarakat dapat meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi curah hujan yang cenderung menurun dan musim kemarau yang datang bertahap.
“Untuk masyarakat yang akan memasuki musim kemarau. Kita bisa memanfaatkan air yang sudah ditabung sejak musim hujan untuk kebutuhan ke depan,” katanya.
Terpopuler
1
Pemerintah Tetapkan Idul Adha 1447 H Jatuh 27 Mei 2026
2
Tim Hisab Rukyat: Hilal Awal Dzulhijjah 1447 H Penuhi Kriteria MABIMS, Idul Adha Diperkirakan 27 Mei 2026
3
Hilal Terlihat, PBNU: Idul Adha 1447 H Rabu, 27 Mei 2026
4
Ambruknya Rupiah Dinilai Tekan Rakyat Kecil, DPR Soroti Harga Kebutuhan Pokok
5
Rupiah Terus Melemah, Anggota DPR Minta Gubernur BI Mundur dari Jabatan
6
Pesantren Didorong Jadi Benteng Perlindungan Anak dan Perempuan di Tengah Perkembangan AI
Terkini
Lihat Semua